Khazanah

Lebaran Ketupat di Laut Jawa

Ahad, 16 July 2017 11:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

KETIKA perahu nelayan bergerak menuju laut, itu bukan hal baru. Sebuah kelaziman memang. Namun, hari itu agak berbeda. Ratusan kapal nelayan beriring menuju tengah laut. Bahkan, lebih ramai daripada hari biasa. Mereka bukan hendak mencari ikan. Mereka mengarak perahu kecil berisi kepala kerbau dan hasil bumi. Perahu ini dibawa ke tengah laut untuk dilarung. Hari itu masih dalam suasana Lebaran. Tepat sepekan dari hari pertama perayaan Idul Fitri.

Itu tradisi Lomban atau Syawalan/Lebaran Ketupat di Laut Jepara. Lomban ialah pesta para nelayan di Jepara yang dilaksanakan pada hari kedelapan atau hari yang sama dengan hari Lebaran. Seluruh pengunjung bakal memadati Pantai Kartini sebagai salah satu tempat yang dipakai untuk kegiatan Lomban. Tradisi ini ungkapan syukur masyarakat atas limpahan rezeki. Tak jauh beda, Lomban tahun ini pun digelar seperti tahun sebelumnya.

Sebenarnya sejak kapan tradisi Lomban bermula? Gambaran tentang tradisi Lomban di Jepara dapat ditelusuri dari sebuah artikel berjudul Het pada Loemban Feest Te Japara yang berarti Kegiatan Pada Lomban di Jepara. Artikel itu dimuat dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indi (TNI) atau Jurnal Hindia Belanda yang terbit pada 1868.

"Pesta Lomban Jepara tidak pernah terdengar di tempat lain. Artinya bahwa pada 1868, Lomban di Jepara adalah satu-satunya pesta Lomban di pesisir pantai," jelas sejarawan Universitas Diponegoro Dr Alamsyah.

Lebih lanjut dalam artikel berjudul Budaya Syawalan atau Lomban di Jepara: Studi Komparasi Akhir Abad Ke-19 dan Tahun 2013, Alamsyah mengungkap istilah Lomban mengandung makna saling melempar atau berenang. Istilah lokal juga menyebutkan ketika anak-anak saling bersenang-senang saat mandi, mereka akan saling menyiram air atau yang disebut dengan istilah lumbanan.

Kala itu terdapat beberapa persiapan sebelum perayaan. Persiapan itu dilakukan beberapa hari sebelum pesta Lomban. Perahu-perahu dihiasi dengan indah. Pada lunas depan, belakang, dan tiang perahu dihiasi dengan rangkaian bunga pandan, kenanga, soka, dan ketupat yang saling terikat. Lalu digantungkan dengan bendera atau panji yang terbuat dari kain dan selendang dengan berbagai warna. Umumnya bendera atau panji ini berwarna hijau.

Beberapa orang menempatkan sebuah boneka seperti manusia di lunas depan perahu. Boneka ini disebut kedawangan, yang terbuat dari kedobos atau tulang daun nibung, yang juga digunakan bagi sangkar burung. Selain itu, berbagai perahu di Jepara dihiasi dengan boreh. Boreh ialah sejenis adonan cat yang berwarna kuning.

Dikemas khusus
Pada kegiatan Lomban ini masyarakat memasak ketupat yang dikemas secara khusus. Selain ketupat juga ada telur itik, kolang-kaling atau buah pohon aren yang berwarna hijau dan bulat. Seluruh keranjang dipenuhi ketupat diangkut dengan perahu. Tiga komoditas itu digunakan dalam prosesi saling melempar.

Telur yang membusuk digunakan untuk saling lempar dan menyebarkan bau tidak sedap. Begitu pula kolang-kaling yang digunakan dapat menyebabkan gatal-gatal di kulit atau rasa terbakar karena terkena sentuhan getah. Itu yang terjadi pada 1868.

Selain itu kaum wanita harus menyiapkan makanan yang diperlukan. Makanan yang disiapkan kebanyakan terdiri atas lauk-pauk dan serbat. Oleh para petinggi atau kepala desa, sejumlah besar ketupat disampaikan sebagai hadiah bagi pesta kepada bupati. Pada hari pelaksanaan pesta, warga sudah bangun, mandi, dan berbusana apik sejak fajar. Mereka meyakini itu sebagai tanda keberuntungan.

Sejarawan Alamsyah juga mencatat sebuah buku berjudul Jawa: Geographisch, Ethnologisch, Historisch (1882) yang menjelaskan perayaan syawalan juga terjadi di tempat lain, tetapi terbatas pada selametan atau sesaji ketupat.

Bila pada 1868 dan 1882 kegiatan Syawalan atau Lomban di Jepara sudah berlangsung meriah, lebih dua abad perayaan digelar, Lomban juga tetap meriah. Pada 1868 dan 1882 kegiatan Syawalan atau Lomban hanya terdapat di Jepara, kini kegiatan serupa juga dilaksanakan di daerah lain, seperti Rembang, Demak, dan pesisir pantai Jawa.

Seiring dengan berjalannya waktu, sekarang tradisi Lomban sudah melekat di masyarakat. Tradisi syawalan atau Lomban punya sebutan lain seperti Bada Kupat.

Rangkaian proses Lomban termasuk pelarungan adalah kearifan lokal dan sudah menjadi wisata budaya. Selain itu, ada rangkaian acara ibadah untuk berdoa kepada Tuhan. Larung kepala kerbau menjadi langkah untuk memberi sedekah, baik kepada sesama maupun kepada makhluk lain. Daging kerbau yang disembelih dibagikan kepada masyarakat serta kepala kerbau dilarung sebagai sedekah makhluk yang ada di laut.

Larungan dalam tradisi Lomban tidak hilang meskipun telah melintasi ruang dan waktu. Masyarakat berkukuh mempertahankan tradisi itu meskipun terdapat beberapa penyesuaian.

Menurut Alamsyah, perbedaan yang mendasar ialah ketika berlaku akulturasi budaya dan agama. Ketika dulu suasana kebatinan untuk kebudayaan jawa masih kental, tidak ditemukan detail tentang prosesi yang menggunakan simbol-simbol ataupun bacaan Islam. Namun, saat ini, nilai-nilai agama telah merasuk dan mewarnai tradisi tersebut.

"Jadi perubahan dari yang kental kejawen menjadi sarat keislaman," pungkasnya.

Itulah Lomban, ketika tradisi tidak diberangus habis, malah justru disesuaikan dan dilestarikan sehingga menjadi satu khazanah budaya yang mampu melintas zaman. Generasi sekarang masih bisa melihat dan mengalami tradisi sama seperti generasi masa lampau, begitu pun generasi masa depan, asal tradisi tidak dipandang sebagai sampah ketika tidak sesuai dengan semangat zaman. (M-2)

Komentar