Opini

Guru sebagai Penentu Keberhasilan Anak

Selasa, 18 July 2017 05:00 WIB Penulis: Siti Hajar Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh

ANTARA/Moch Asim

BANYAK di antara guru beranggapan, murid yang baik ialah mereka yang selalu patuh dan disiplin akan aturan-aturan yang berlaku di sekolah.

Juga banyak yang berpikir bahwa murid teladan itu ialah mereka yang rajin belajar, hormat kepada guru, baik kepada sesama teman, juara dalam bidang-bidang tertentu.

Sebaliknya, di saat kita menemukan siswa dengan karakter yang 180 derajat atau 360 derajat berbeda dari apa yang kebanyakan dipikirkan, muncullah istilah anak nakal, badung, malas, bodoh, anak lemah, bermasalah, dan istilah lainnya.

Sesudah itu berlakulah labeling, guru terjebak dengan prasangka kurang baik terhadap siswa mereka.

Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, ada beberapa kemungkinan.

Pertama, bisa jadi jenis treatment atau hukuman atau kebijakan khusus sudah barang tentu disiapkan untuk membina mereka dengan harapan anak-anak itu mengalami perubahan yang positif terkait dengan sisi kognitif dan afektifnya.

Kedua, mereka ialah kategori anak yang terancam mendapatkan nilai jelek dan tidak lulus kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang kemudian dianggap gagal dalam belajar.

Ketiga, dalam beberapa kasus lain yang lebih ekstrem, anak-anak itu juga terancam pada level tinggal kelas atau bahkan dapat dikeluarkan dari sekolah karena aturan yang dilanggar dalam kategori tak termaafkan.

Dalam menilik isu-isu itu, apa yang dapat dilakukan pihak sekolah, terutama para guru, untuk menolong mereka? Mengenali tabiat dan perilaku anak menjadi penting agar kebijakan yang mereka terima seperti pada kemungkinan pertama, yaitu mereka butuh treatment yang dapat membawa mereka keluar dari label negatif sehingga mereka dapat kesempatan dipandang lebih baik oleh orang di sekitarnya.

Menjadi manajer kelas

Ini memang tugas yang sangat berat bagi para pendidik.

Peran guru tidak hanya mengembangkan kapasitas kognitif yang dimiliki anak, yaitu mengajarkan anak apa yang mereka tidak tahu menjadi tahu.

Sebagaimana definisi belajar menurut teori cognitivism bahwasanya anak dikatakan belajar ketika dia mengalami perubahan dan penambahan pengetahuan.

Tidak hanya itu, sejak pemberlakuan kurikulum K-13, aspek kognitif tidaklah menjadi satu-satunya aspek yang dikedepankan dalam proses belajar-mengajar, tetapi juga sangat memperhatikan aspek afektif atau sikap positif yang notabenenya seiring dengan berjalannya waktu terus mengalami krisis di antara peserta didik kita.

Karena itu, peran guru membimbing anak agar dapat berperilaku dengan layak sesuai dengan norma-norma yang berlaku juga dirasakan sama pentingnya.

Ternyata, menurut teori behaviorism, anak dikatakan belajar sesuatu saat dia menunjukkan perubahan perilaku (behavior change).

Oleh karena itu, sudah sepatutnya guru memahami secara komprehensif konsep dari teori-teori yang disebutkan itu guna menjalankan perannya untuk mengatur kelas dan memfasilitasi anak sesuai dengan tujuan belajar yang ingin dicapai, perubahan pengetahuankah atau perubahan tingkah lakukah?

Lebih dari 100 penelitian metaanalisis yang dilakukan menyebutkan bahwa kualitas hubungan antarguru dan siswa ialah kunci dari semua aspek manajemen kelas (Marzano and Marzano, 2003b).

Menurut para peneliti itu, hubungan guru-murid yang efektif itu tidak ada pengaruhnya dengan kepribadian guru yang bersangkutan ataupun pandangan siswa terhadap peran guru itu sebagai teman.

Malahan yang membuat hubungan itu efektif ialah perilaku/tingkah laku guru itu sendiri terhadap anak didiknya.

Cara guru memperlakukan anak saat mereka berhubungan, berinteraksi, bergaul di dalam kelas maupun di luar kelas, itulah yang membentuk hubungan yang dimaksud.

Guru, dalam hal ini, bersama-sama dengan anak membangun harapan dan konsekuensi yang jelas.

Membangun tujuan belajar dan menciptakan perilaku positif kelas demi kenyamanan bersama.

Lain daripada itu, saat guru berperan menjadi seorang manajer yang efektif dari sebuah kelas, ia sebaiknya juga harus memahami setiap ketertarikan siswanya.

Hal ini sama pentingnya saat guru harus melakukan diagnostic test atau pre-test sebagai bentuk assessment awal untuk mengidentifikasi kemampuan anak dalam suatu bidang.

Manfaatnya ialah untuk mengenal perbedaan anak, karakter anak, menentukan strategi belajar yang tepat terutama untuk siswa-siswa yang berkebutuhan khusus.

Kemampuan guru dalam mengenal perbedaan karakter anak didiknya merupakan faktor kunci keberhasilan untuk mengantisipasi anak berada di zona merah itu.

Kalau ada anak yang pasif, ada pula anak yang agresif. Terkait dengan tipe anak yang seperti ini, Marzano and Marzano (2003) mengategorikan mereka ke dalam tiga kategori anak agresif, yaitu (a) hostile, anak yang susah mengontrol amarah, kurang empati, dan tidak bisa melihat/mengerti konsekuensi terhadap setiap tingkahnya.

(b) Oppositional, anak yang hampir tidak pernah bermasalah dengan perilaku, tetapi dia selalu melawan aturan, membantah orangtua, bicara kasar, dan cenderung mengganggu orang lain dan (c) covert, anak tipe ini terkadang agak diam, tapi dia akan beraksi saat ada masalah.

Kalau kita amati, banyak guru yang mengeluhkan kelakuan anak-anak yang seperti itu dalam keseharian menjalankan perannya di sekolah.

Padahal, dengan mengenal lebih dalam watak dan karakter setiap anak ini, dan mengidentifikasi serta menganalisis masalah yang ditimbulkan, guru akan mampu men-treatment dengan cepat dan tepat.

Salah satu strategi yang paling ampuh ialah membuat kontrak perilaku terhadap setiap masalah yang dimunculkan. Juga menyiapkan reward dan konsekuensi setiap respons dan perubahan si anak agresif ini.

Selain itu, guru dengan peran manajer yang baik juga sangat peka terhadap anak yang memiliki masalah dengan atensi.

Tentu saja di antara para guru sekalian, banyak yang memiliki pengalaman mengajar dengan anak yang memiliki semangat 45 saat belajar, sangat aktif, sering bertanya/merespons, sulit mengontrol motoriknya, dan bahkan terkadang agak terkesan overacting di depan teman-temannya.

Di sisi lain, juga tidak sedikit guru yang menghadapi anak yang gagal fokus, susah konsentrasi, dan bosan di dalam kelas.

Mereka ini termasuk anak yang dikategorikan hyperactice dan inattentive yang juga butuh perhatian/perlakuan khusus.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu si anak.

Di antaranya memberlakukan kontrak perilaku bagi siswa yang hiperaktif, ajari cara berkonsentrasi/fokus, cara belajar, dan berpikir benar bagi anak yang sulit fokus.

Dalam beberapa kasus anak dengan tingkat kesulitan konsentrasi yang parah, pisahkan dia dari keramaian, bantu dia mengidentifikasi penyebab masalahnya, dan terapkan strategi belajar dengan tutor sebaya.

Saat para guru telah mampu mengenali sikap/perilaku anak dengan segala keunikan watak dan karakternya, itu menunjukkan guru telah menjalankan perannya sebagai great classroom manager di kelas-kelas yang dikelolanya.

Memiliki tugas mengatur kelas, mengatur anak, mengarahkan, menciptakan aturan secara bersama, menciptakan hubungan dengan attachment yang baik, dan peka serta peduli dengan masalah-masalah yang timbul pada anak dengan segala perbedaannya.

Dengan begitu, keberhasilan dalam belajar pun akan tercapai, motivasi akan tumbuh, perilaku anak pun dapat terkontrol dengan baik.

Semua berkat kinerja guru yang menjalankan perannya secara benar.

Komentar