Megapolitan

Semangat Sembuh Tumbuh sejak Aku Tahu...

Selasa, 18 July 2017 05:30 WIB Penulis:

ANTARA/HAFIDZ MUBARAK A

DINAR, 65, pensiunan guru olahraga di salah satu sekolah negeri di wilayah Jakarta, ada dalam antrean di depan poliklinik akupunktur dan akupresur Puskesmas Kebayoran Lama, siang itu. Tiga tahun silam, Dinar yang menderita darah tinggi terserang stroke ringan. Sejak itu dia merasa kakinya kebal dan kaku.

“Kaki sebelah kanan sempat kaku enggak bisa melipat di dengkul. Lalu coba akupresur dikasih tau dokter. Cuma sekali pijit kakunya berkurang. Titik-titik refleksinya dipijat gitu. Saya rasa ini bagus sekali ya,” tutur Dinar.

Setelah melakukan tiga kali terapi di sana, ia merasa bugar. Semangat Dinar untuk sembuh bangkit sejak tahu layanan seperti itu bisa didapatkannya dengan mudah di puskesmas. Dulu dia membayangkan terapi untuk penyakitnya harus dilakukan di rumah sakit besar dengan dokter spesialis dan mahal.

“Saya merasa proses penyembuhan penyakit saya lebih cepat setelah datang ke klinik ini,” tambahnya.

Di usia senja, banyak manula mengalami tanda-tanda penuaan seperti sendi kaku atau indra peraba yang mulai kebal dan mengeras. Itulah kenapa poliklinik ini jadi primadona pasien seusia Dinar.

Namun, rupanya, bukan hanya mereka dengan gangguan persendian atau saraf seperti stroke yang datang ke sana. Ada juga yang mengalami susah tidur, tidur mendengkur, hingga masalah kulit seperti jerawat.

Dea Purba, 26, warga RT 03 RW 06 Kebayoran Lama salah satunya. Dea memilih akupunktur untuk menghilangkan penyakit mendengkurnya karena mendapat rujukan dari dokter telinga hidung dan tenggorok (THT). “Sudah empat kali saya berobat di sini. Hasilnya suami saya bilang suara dengkuran saya mulai berkurang,” ujar Dea.

Menurut kepala puskesmas, klinik akupunktur diinisiasi Kemenkes yang memberikan program pelatihan akupunktur dan akupresur kepada petugas medis di seluruh puskesmas kecamatan di DKI.

“Masih sedikit puskesmas yang melanjutkan dengan membuka praktik sehingga khawatirnya perlahan-lahan ilmu tersebut bisa hilang,” ujar Selvy.

Padahal, menurutnya, antusiasme warga terhadap klinik itu amat tinggi. Dalam satu hari ada 20 pasien yang terapi di sana. Apalagi layanan ini gratis bagi pemegang kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Kami akan terus tambah tenaga medisnya. Saya berniat mengirim lebih banyak untuk ikut pelatihan. Karena sebelum praktik, wajib pelatihan, mereka harus dibekali pengetahuan akupunktur,” kata dia. (Gana Buana/J-4)

Komentar