MI Muda

Eksis di Komunitas hingga Kompetisi Global

Ahad, 23 July 2017 00:46 WIB Penulis: Hilda Julaika, Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Dok. Pribadi

Kuliah, berkomunitas, dan berkompetisi sama pentingnya bagi Imamatul Khair.

Menginisiasi dan menghidupkan komunitas juga menjajal aneka kompetisi tingkat kampus hingga internasional menjadi bagian keseharian Imamatul Khair. Pencapaian-pencapaian itu ia bagi di berbagai forum dan kegiatan.

Ceritakan dong tentang komunitas Saghara Elmo?

Saghara Elmo ialah komunitas pendidikan yang bergerak dalam akses dan kualitas pendidikan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Aku mendirikan komunitas ini karena berdasarkan pengalamanku sebagai orang Madura, akses terhadap pendidikan dan informasi di sana sangat rendah, terutama di desa terpencil.

Aku dan teman-teman mengusung kegiatan simulated learning, jadi anak-anak Pamekasan tidak hanya belajar teori, tetapi dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, ada pula kegiatan literasi seperti bagaimana mengelola perpustakaan. Ada juga pameran cita-cita untuk menambah pengetahuan seputar keprofesian.

Gosipnya nih, banyak komunitas dibuat anak-anak muda hanya untuk diikutkan kompetisi atau memperbagus CV, bagaimana tanggapanmu?

Kalau kami, semata-mata memang benar-benar berbagi kepada orang lain yang selama ini aku rasakan, kebahagiaan, proses pendidikan agar anak-anak itu bisa termotivasi.

Menurutku, kalau kita melakukan kegiatan volunteerism, harus benar-benar ikhlas!

Bagaimana cara memastikan komunitas kamu tak hanya bagus di atas kertas, tapi juga benar-benar jalan di lapangan?

Sebelum kita terjun ke lapangan, harus ada hearing antara tugas yang satu dengan tugas lain. Terdapat penanggung jawab yang menangani setiap tugas sehingga sistem kontrol, lebih terarah.

Cara kita memastikan di lapangan itu sebenarnya sudah terlihat dari konsep. Menurutku konsep yang jelas akan menjamin 70% akan berjalan baik di lapangan.

Kedua, kami memberikan pembekalan agar persepsi tiap anggota sama, terkait dengan kebutuhan anak yang sesuai dengan metode pembelajaran. Selain itu, kita perlu menekankan unsur kekeluargaan dalam komunitas, jadi perlu dibangun rasa kekeluargaan, tidak hanya melulu soal kegiatan di komunitas.

Lalu, soal gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlanggga yang kamu emban, apa fungsi dan tugas yang diemban?

Pertama, kita harus bisa memotivasi orang lain karena yang terpenting berani mencoba dan memperbaiki kualitas diri.

Menjadi Mawapres ini juga membawa nama baik universitas serta daerah asalku.

Bagaimana kiat kamu agar Mawapres ini tak hanya jadi gelar di atas kertas?

Lebih ke arah kehadiran di seminar, diskusi mahasiswa, atau adik-adik yang ada di Surabaya atau Madura. Aku bisa menjadi pembicara di suatu forum secara free, itu untuk secara kepuasan hati untuk membagikan inspirasi.

Syarat menjadi Mawapres?

Ada tiga, karya tulis, prestasi yang diunggulkan dan kemampuan berbahasa Inggris. Akan lebih baik jika kamu bikin karya tulis yang berkaitan dengan jurusanmu sekarang, poinnya akan lebih banyak.

Manfaat yang kamu peroleh dari berbagai kegiatan ini?

Bikin kita termotivasi lagi, terutama untuk diri kita sendiri, maksudnya jadi enggak berhenti belajar dan tetap mencari kesempatan.

Lalu, bagaimana dengan perjalanan kamu ikut berbagai kompetisi di luar negeri?

Aku mengikuti kompetisi 9th Conference of Indonesian Student Association di Korea 2016 dengan paper Versatile Women as a Repre­sentation of Gender Role of Women in ‘Sosok’ Rubric, Sekar Magazine January-November 2013 Editions.

Aku juga ikut Asian Undergraduate Summit di Singapura, saat itu para delegasi tidak hanya mempersiapkan pengetahuan tentang tema, tapi juga hal-hal yang sifatnya administratif, misalnya, mengurus proposal ke fakultas agar didukung dalam hal dana. Selain itu, kan harus menampilkan suatu penampilan seni. Jadi, aku dan delegasi Indonesia lainnya, harus benar-benar berlatih.

Kami mendapatkan penghargaan Best Cultural Performance dengan penampilan tari Saman, Cublak-Cublak Suweng, Kecak serta Yamko Rambe Yamko.
Seleksi untuk kegiatan ini bersifat individu, jadi kita dikasih tema, lalu mengirimkan esai sesuai tema. Setelah itu, jika kita lolos, seleksi esainya masuk ke tahap wawancara.

Pembelajaran yang kamu dapat dari berbagai kompetisi itu?

Di Singapura, ada diskusi panel yang paling intens, soal design thinking. Metode ini mem-breakdown ide-ide, mulai tahap awal, organizing, mengembangkan ide menjadi beberapa kemungkinan-kemungkinan hingga tercipta ide atau inovasi yang berhubungan dengan tema.

Dari pengalamanku ikut kegiatan internasional, aku bisa mendapatkan jejaring dan relasi di banyak negara. Buat aku, anak muda harus punya paspor, agar kamu tergerak.

Sayang dong, kalau memiliki paspor, tapi tidak digunakan. Berawal dari paspor, lalu kembangkan ketertarikan kamu ke cita-cita yang lebih besar.

Kedua, jangan takut untuk mengikuti program-program, karena takut tidak lolos, karena kemungkinan itu memang lebih banyak. Kita bersaing dengan orang-orang hebat juga di luar sana, jadi jangan takut mencoba karena ini bisa dijadikan ajang mengukur kemampuan diri. (M-1)

Komentar