Khazanah

Menyambut Pahlawan Pulang Perang

Ahad, 23 July 2017 02:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

SEORANG wanita dengan wajah berseri tampak dalam bingkai itu. Ia menyungging senyum yang membuat bibirnya sedikit terbuka. Tampaklah sederetan gigi putih yang mengintip. Rambutnya dikucir dan dilaraskan ke belakang. Ia menggunakan pakaian adat wanita Nusa Tenggara Timur. Kain tenun khas NTT ia sampirkan di bahu sebelah kanan.

Ia juga menggendong alat musik pukul. Ken­dang kecil yang biasa disebut tihar itu diletakkan di bawah ketiak kiri. Dengan penempatan demikian, tihar dan selendang tidak berada pada posisi yang bisa menghalangi gerakan tangan saat menabuh tihar.

Tari tradisional Likurai termasuk dalam rumpun tarian perang yang khas dari Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, tarian ini ditampilkan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Untuk merayakan kemenangan tersebut, biasanya ditampilkan Tari Likurai sebagai tarian penyambutan.

“Itu sebenarnya aslinya tarian perang. Intinya menceritakan tentang mereka menyambut pejuang-pejuang perang gitu,” terang perupa asal NTT Fecky Messah.

Tarian itu juga merupakan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat akan kemenangan yang mereka dapatkan dan kembalinya pahlawan dengan selamat. Konon pada zaman dahulu di daerah Belu terdapat tradisi memenggal kepala musuh sehingga ketika mereka pulang dari medan perang selalu membawa kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaan sang pahlawan.

Tarian ini biasanya dilakukan beberapa penari pria dengan menggunakan pedang, sedangkan penari wanita menggunakan tihar atau kendang kecil sebagai atribut menarinya. Tari Likurai biasanya tidak banyak menggunakan musik pengiring. Bunyian pengiring hanya berasal dari suara kendang kecil yang dimainkan penari wanita dan suara giring-giring yang dipasang di kaki penari. Selain itu, bunyian mulut dari para penari pria untuk menegaskan suasana tarian perang.

Tari Likurai ditampilkan para penari wanita dan penari pria. Jumlah penari biasanya terdiri dari sekelompok penari wanita dan satu orang penari pria yang digambarkan sebagai pahlawan. “Tarian ini juga menjadi tarian adat Timor Leste karena mereka juga satu rumpun,” lanjut pria asal asal Kupang, NTT, itu.

Dalam Tari Likurai ini, gerakan penari pria dan penari wanita berbeda. Gerakan penari wanita biasanya didominasi gerakan tangan memainkan kendang dengan cepat dan gerakan kaki menghentak secara bergantian. Selain itu, penari melenggak-lenggokkan tubuh ke kiri dan kanan sesuai dengan irama. Penari wanita bergerak sembari terus memainkan kendang dan menjaga irama yang dimainkan agar tetap sama dengan penari lainnya.

Gerakan penari pria biasanya didominasi gerakan tangan memainkan pedang dan gerakan kaki menghentak sesuai dengan irama. Selain itu, penari pria sering melakukan gerakan seperti merunduk dan berputar-putar sambil memainkan pedang mereka. Gerakan penari pria harus menyesuaikan antara tarian, hentakan kaki, dan irama musik.

Kostum adat

Kostum yang digunakan penari Tari Likurai biasanya merupakan kostum adat. Para penari wanita biasanya dibalut dengan kain sarung panjang yang menutupi tubuh mereka dari dada sampai kaki. Bagian rambut biasanya dikonde dan menggunakan ikat kepala khas Belu. Selain itu, penari menggunakan berbagai aksesori seperti gelang serta kalung yang khas, dan membawa kendang kecil yang digunakan untuk menari.

Penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang pada bagian atas dan kain sarung pada bagian bawah. Pada bagian kepala, penari pria juga menggunakan ikat kepala yang khas dari Belu. Untuk menari, biasanya penari pria membawa pedang pada tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri.

Kini, Tari Likurai sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, upacara adat, pertunjukan seni, dan festival budaya. Dalam perkembangannya, berbagai variasi dan kreasi juga sering ditambahkan, baik dalam segi gerak, kostum, maupun penyajian tariannya. Hal itu dilakukan agar terlihat lebih menarik, tetapi tidak meninggalkan ciri khasnya.

Itulah sekelumit gambaran dari Tari Likurai. Wanita penabuh tihar atau tifa itulah yang diterjemahkan seniman Fecky Messah dalam bentuk lukisan berjudul Likurai Belu. Karya itu dipamerkan dalam tajuk Nusalontar di Galeri Cipta III TIM, (9-13/7). Pameran itu dikuratori Yusuf Susilo Hartono.

Selain karya Likurai Belu, Fecky memamerkan karya lain berjudul Mendayu Bonet. Karya itu mengambil ide dari salah satu tarian berlatar budaya yakni Tari Bonet. Tari itu bersifat komunal dan ditarikan secara bersama. Tari Bonet biasa dilakukan saat pesta panen. Fecky Messah ialah salah satu seniman yang berkomitmen dengan seni tradisi dan kearifan lokal tempat ia berasal. Ia menjadi salah satu contoh dari seniman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal.

“Saya berkomitmen untuk tradisi NTT itu,” tegas Fecky.

Fecky berangkat dari kenyataan bahwa arus modern membawa teknologi dan kebiasaan asing masuk ke Indonesia. Ia juga khawatir dengan kebiasaan ataupun budaya yang penuh dengan kearifan lokal ketika berhadapan dengan gemburan tersebut. Tidak menutup kemungkinan, nilai-nilai kearifan lokal itu akan tergerus.

“Timbul pertanyaan apakah gaya hidup yang dipenuhi dengan kearifan lokal ini bertahan tidak? Itu landasan yang saya pakai dalam berkarya,” pungkasnya. (M-2)

Komentar