Humaniora

Sang Penggagas IPB Mengajar 2.0

Kamis, 27 July 2017 06:16 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/ BARY FATHAHILAH

IA membesarkan tiga anak sebagai orangtua tunggal plus berkontribusi kepada sekitar dengan menggagas program pendidikan informal bagi anak-anak yatim, yakni IPB Mengajar 2.0. Ia pun membagikan dan menularkan semangat kepada sekitarnya, mahasiswa-mahasiswa IPB yang menjadi pengajar bagi program yang dibinanya. Keistimewaan pada sosok Siti Zulaedah itulah yang memacu Media Indonesia menjumpainya di kampus IPB di Dramaga, Bogor, Senin (10/7). Zulaedah ialah staf di Biro Hukum, Promosi, dan Humas IPB.

Daftar kontribusinya kepada sekitar bertambah ketika ia berkisah tentang Yayasan Ar-Rohman yang berawal dari tempat mengaji kecil, di Desa Cikarawang, Dramaga, Bogor, yang ia dirikan dan kelola sejak 2014 silam. "Yayasan kami bergerak di bidang pendidikan anak yatim, santunan, serta pemberdayaan janda. Kami mengajarkan bahasa Inggris, matematika, mengaji, maupun menghafal Alquran kepada mereka dan anak-anak lain di sekitarnya. Khusus untuk pendidikan informal inilah, kami wadahi dalam IPB Mengajar 2.0 karena melibatkan mahasiswa-mahasiswa IPB sebagai pengajar," ujar Zulaedah.

Mengomparasi nasib
Zulaedah mengaku terusik untuk terjun berkontribusi karena membandingkan anak-anak yatim di sekitarnya dengan nasib ketiga anaknya yang juga tak berayah sejak sang suami meninggal pada Maret 2014. "Saya berusaha mendidik anak agar tumbuh menjadi saleh meski tanpa ayah mereka. Saya antar anak mengaji, sekolah di SD Islam Terpadu, juga dibantu saudara-saudara. Lama-kelamaan saya berpikir bagaimana dengan anak yatim yang lain?" imbuhnya. Penelusurannya berujung pada temuan bahwa pendidikan anak-anak yatim di lingkungannya jauh dari ideal.

"Untuk pendidikan akademik saja kurang terpenuhi, apalagi pendidikan agamanya," lanjutnya. Ia pun menghimpun mahasiswa-mahasiswa IPB yang piawai bahasa Inggris dan matematika untuk mengajari anak-anak yatim tersebut serta mendatangkan guru mengaji. "Akhirnya anak-anak sekitar yang tadinya tidak bisa mengaji berdatangan. Mereka juga tertarik karena ada pelajaran ekstra yaitu bahasa Inggris," tandasnya. Jumlah anak yang datang pun semakin bertambah, dari yang awalnya hanya 10-12 orang kini sudah mencapai 30 orang.

Itu awalnya dikhususkan untuk anak yatim di lingkungan sekitarnya, tetapi semakin merambat ke anak-anak nonyatim yang juga ingin ikut. "Ternyata anak-anak sekitar, yang bukan yatim, yang tadinya enggak mengaji jadi ikut mengaji. Ini tidak dipungut biaya. Mahasiswanya juga enggak dibayar," jelasnya.

Plus beras
Bahkan sejak 2015, ada donatur tetap yang rutin memberikan beras melalui kegiatan ini agar disalurkan kepada para anak yatim tersebut. "Yang rajin mengaji mendapatkan 9 liter per bulan, yang kurang rajin 5 liter per bulan," imbuh Zulaedah.
Kegiatan pendidikan yang dilakukan setiap Senin-Jumat setelah asar sampai menjelang magrib tersebut, menurut Zulaedah, sudah mulai memberikan dampak positif. Berdasarkan pengamatannya, anak-anak yang awalnya malu-malu terhadap orang asing saat ini berani dan percaya diri bahkan berebut untuk menjawab jika diberi pertanyaan.

Kalau dari sisi orangtuanya pun mengakui prestasi anaknya semakin meningkat di sekolah, yang tadinya tidak mendapatkan rangking menjadi masuk 10 besar. Bahkan, lanjut Zulaedah, seorang anak asuhnya menjadi ketua OSIS. Jadi setelah 3 tahun belajar dan bertemu kakak-kakak mahasiswa, mulai timbul rasa percaya diri dan jiwa kepemimpinannya. Sang anak bahkan sudah terbayang ingin kuliah hingga orangtuanya pun mulai bertanya cara menguliahkan anaknya, masuk SMK atau SMA. "Jadi ibunya juga sudah punya bayangan anaknya akan kuliah. Saya tidak punya ukuran untuk melihat hasilnya, tapi yang terjadi ialah perubahan pola pikir mereka," paparnya.

Sistem pengajaran
Mayoritas anak yang diajar ialah anak-anak mulai kelas 1 hingga 6 SD. Jumlah mahasiswa yang mengajar ada 17 orang, dengan jadwal pengajaran setiap Senin bahasa Inggris, Selasa matematika, Rabu membaca Alquran dan terjemahan, Kamis matematika, Jumat kaligrafi, dan Sabtu nantinya akan diadakan kelas menghapal Alquran. Kegiatan yang diberinya nama IPB Mengajar 2.0 tersebut tidak hanya sukses mengajarkan pendidikan akademis dan nonakademis bagi anak-anak di lingkungan sekitarnya.
Itu bahkan turut mendapatkan penghargaan sebagai juara 3 dalam Literacy Award 2017 yang diselenggarakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). (M-1)

Komentar