MI Anak

Inilah Sosok Pemimpin Cilik

Ahad, 30 July 2017 03:01 WIB Penulis: Suryani Wandari/M-1

Dok. Pribadi

"HATIKU tergerak untuk lebih berani melangkah mengambil keputusan, antara membiarkan generasi bangsa ini rusak atau mendidiknya sebelum semakin banyak kerusakan generasi bangsa. Bila dipikir ulang, buat apa aku berprestasi tetapi banyak teman seperjuanganku di luar sana yang menderita.

" Kalimat itu diucapkan Rahayu Ingratrimulya Saputri, kelas 5 SDN Sukorame 1 Kediri, dalam esai yang dibuatnya untuk seleksi Tunas Muda Pemimpin Indonesia (TMPI).

Kalian tahu apa itu TMPI? Program TMPI merupakan salah satu bentuk fasilitas pemerintah dalam mempersiapkan kader-kader pemimpin bangsa di masa yang akan datang yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dari esai dan video yang masuk, terpilih para pemimpin dari kategori SD, SMP, SMA hingga kabupaten dan kota yang diberi nama penerima anugerah TMPI.

Fleycia Tandria Chen dari Pekanbaru, Rahayu Ingratrimulya dari Kediri, Fayanna Ailisha Davianny dari Depok, dan Gardana Wong Alit dari Surabaya menerima penghargaan TMPI 2017 secara langsung dari Ibu Yohana Yambise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di acara Hari Anak Nasional, Minggu (23/7) di Pekanbaru, Riau. Anak-anak ini pun punya kontribusi dan langkah nyata untuk anak Indonesia lo. Yuk kenalan dengan mereka yang Medi wawancara Rabu (25/7).

Fayanna, sang penulis

Dalam kaitannya dengan anak-anak, sekarang ini ada beberapa isu yang mengkhawatirkan ya seperti kekerasan pada anak hingga pendidikan yang belum layak. "Dalam forum anak yang dilaksanakan sebelum penghargaan berlangsung, kami diskusi mengenai isu yang berkaitan dengan anak di beberapa daerah. Aku juga menilai anak Indonesia memiliki minat baca yang kurang." kata siswi kelas 7, SMP Dian Didaktika, Depok itu.

Menurut Fayanna, hal itu terjadi karena anak-anak lebih suka bermain gim atau internet di gawainya. Dengan demikian, langkahnya untuk mengubah anak Indonesia dimulai dengan membuatkan anak-anak sarana membaca lo. Ya buku, sejak kecil Fayanna sudah gemar membaca dan saat duduk di kelas 2 SD ia mulai menulis buku. Hingga kini di usianya ke-12 tahun, ia sudah punya 37 buku yang di antaranya berisi tentang persahabatan, keluarga, ataupun misteri.

Fleycia, semangat sang pembaca puisi

Siswa kelas 5 SLB Cendana Rumbai Pekanbaru (Riau) sudah beberapa kali memenangi kompetisi seperti juara baca puisi harapan 3 di Palembang, juara 1 bertutur kata di Pekanbaru, juara 3 Membaca dongeng di pekanbaru, dan juara 1 Membaca puisi di pekanbaru.

"Aku belajar bersama guruku, kadang juga belajar sendiri. Saat aku mendapat penghargaan, tentu orang tuaku bangga dan memberikan selamat padaku," kata Fleycia, penyandang tunanetra yang bersemangat.

Gardana Wong Alit, mengampanyekan sirih

Pemimpin bukan hanya memikirkan dirinya ya sobat. Ia mampu mengayomi dan mau mengambangkan atau memajukan wilayahnya lo. Gardana Wong Alit, kelas 6 SDN Kaliasin I Surabaya, misalnya, sengaja membudi daya sirih di lingkungan rumahnya. Ia memulai untuk bidi daya menggunakan beberapa metode seperti stek, yakni dengan memotong bagian tanaman tersebut dari induknya dan menanamnya dalam suatu media persemaian ataupun cangkok, yakni menguliti dan memindahkannya ke wadah lain saat akar telah tumbuh.

Tentu kalian juga pernah belajar tentang pengembangan tanaman ini kan? Selain belajar, Gardana memang mempraktikkannya langsung bahkan menjadi percontohan bagi masyarakat di daerahnya lo.

"Dulu didaerahku masyarakatnya kurang menyadari tentang lingkungan. Kan selain untuk tambahan perekonomian keluarga, budi daya ini juga bisa sebagai penghijauan," kata Gardana. Tak hanya itu, Gardana pun mengatakan kini pembudidayaan tanaman yang bermanfaat untuk obat seperti gatal-gatal ini kini mendapatkan dukungan dari masyarakat. Ia juga mengaku ingin mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli kepada lingkungan. "Langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk peduli lingkungan adalah membuang sampah dengan benar dan menampung air hujan," lanjut Gardana.

Rahayu, anak SD yang mengajar

Rahayu, kelas 5 SDN Sukorame 1 Kediri, memilih mengajar anak-anak sebayanya di Pondok Belajar dan Taman Bacaan (PBTB) Mandiri Sukorame Kediri. Di PBTB yang didirikan ayahnya ini, Rahayu menjadi relawan untuk mengajarkan membaca dan belajar bersama kepada anak taman kanak-kanak hingga kelas 6 SD. Ia pun khusus mengajari kelas 4-6 untuk belajar matematika. "Selama disekolah saya telah belajar. Jadi di rumah saya hanya menghabiskan waktu untuk sekadar membaca pelajaran yang telah saya pelajari disekolah. Lalu sedikit waktu saya luangkan untuk bermain di rumah saja, itu saya lakukan sepulang sekolah. Sehabis magrib saya baru memulai aktivitas mengajar karena teman-teman baru bisa datang ke PBTB sehabis waktu magrib," kata Rahayu yang menceritakan cara membagi waktu kesehariannya.

Rahayu pun mengatakan pendidikan di Indonesia masih perlu perhatian besar karena sistem pendidikan di Indonesia masih belum merata. Di luar sana masih banyak teman-teman yang tidak seberuntung saya. Yang bersekolah harus melewati sungai, berjalan berkilo-kilo dan sebagainya. Rahayu juga suka memberikan motivasi lo untuk anak sebayanya, kata-kata yang sering dia ucapkan ialah Hal yang besar dimulai dari yang kecil. Semangat, semangat dan semangat, yang terakhir aku bangga jadi anak Indonesia.

Komentar