MI Muda

Kolaborasi Seni dan Teknologi di Pojok Belajar

Ahad, 30 July 2017 03:31 WIB Penulis: Iis Zatnika

DOK SAMSUNG

KOLABORASI itu mempertemukan seniman-seniman keren, penghuni Rumah Yatim Kemang, Jakarta Selatan, serta para donatur dalam semangat yang sama, mengungkit kondisi anak-anak tak berorangtua, pun yang duafa. Ada aneka motif abstrak dengan sentuhan warna emas sebagai latar belakangnya yang disematkan Darbotz, sang legenda mural, pada sosok Samsung S8+ yang sukses dilelang dan menghasilkan donasi seharga Rp100 juta. Sementara itu, motif serupa daun menjuntai anggun, dengan motif batik berpulas putih, hijau dan emas yang dilukis desainer Biyan sukses dibeli seharga Rp105 juta. "Ini pengalaman yang seru, berhadapan dengan ponsel sebagai media. Lebih kerennya lagi, ini dikhususkan buat amal," ujar Darbotz pada jumpa media di Jakarta, Rabu (21/6).

Ada lima kreatif yang dilibatkan dalam proyek seni, teknologi, dan donasi ini. Selain Darbotz yang Cumi Kong serta Biyan yang elegan, ada pula Thalita Maranila yang memang ilustrator, Tulola, serta seniman tari Didik Nini Thowok. Melantai di pasar lelang amal dan menghimpun dana puluhan hingga lebih dari Rp100 juta, dana buat donasi bagi anak-anak yatim itu digenapkan menjadi Rp1,2 miliar. Dana itu dibagikan pada 12 panti asuhan dalam bentuk Samsung Learning Corner serta santunan.

Mengaji di tablet

Muda mendatangi salah satu pojok belajar canggih itu di Rumah Yatim, di Kemang Utara, Jakarta Selatan, Jumat (28/7). Sore itu, seluruh penghuni asrama, 12 anak, berkumpul di ruang pertemuan. Usai membaca Al Matsurat, termasuk mengaminkan permohonan dari para donatur yang kerap menitipkan permohonan agar didoakan, mereka mengambil Samsung Galaxy Tab With S Pen di pojok ruangan. Tablet-tablet yang menjadi peranti Rumah Belajar, selain Smart TV, dijadikan sebagai layar monitor.

"Jadi, Nabi Muhammad rutin mendatangi kakek buta untuk memberi makanan, bahkan menyuapinya. Kakek itu bahkan bukan muslim dan selalu membicarakan kejelekan Muhammad, tanpa tahu, orang yang ia cerca itulah yang menyuapinya. Usai Rasul meninggal, khalifah Umar mencoba menggantikan, tapi sang kakek merasakan perbedaan, terasa kasar baginya, ia pun kaget menyadari betapa mulianya orang yang ia benci," ujar Muhammad Naufal, siswa kelas 8 Madrasah Sanawiah Jamiatul Huda mengisahkan video yang baru saja ia simak sore itu melalui Youtube. Sementara itu, kawan-kawannya yang lain, silih berganti menyimak penampilan para penceramah. Ustaz-ustaz itu boleh saja tak pernah hadir di televisi, tapi nama mereka tersohor di kalangan umat yang memanfaatkan situs berbagi video itu untuk menyimak berbagai pembelajaran agama.

Coding game

"Kami juga belajar coding di komputer, ada kakak donatur yang datang setiap hari ke sini. Kami belajar buat gim dengan aplikasi Scracth, seru sih, langkah demi langkah, kami bisa buat permainan sendiri," kata Junaidi yang bersama tim manajemen Rumah Yatim serta anak-anak penghuni asrama, bias menyebut tenaga relawan, juga dengan sebutan donatur.

Naufal dan Junaidi, bersama 10 kawan yang tinggal di asrama, bersekolah di Mts Jamiatul Huda yang bisa ditempuh berjalan kaki dari asrama. Mereka berasal dari Bogor, Cianjur hingga Tangerang. Sebagian telah yatim piatu, pun ada yang yatim atau piatu, serta ada pula yang masih punya orangtua lengkap tapi kondisi ekonomi keluarga tergolong tak mampu.

Irfan Firdaus, yang telah setahun menghuni asrama, mengaku butuh waktu satu bulan buat beradaptasi. Ia yang yatim, mengaku berupaya menyesuaikan diri, mematuhi aturan serta jadwal ketat dan padat kegiatan sebagai penghuni asrama karena meyakini, hidupnya juga keluarga, akan terungkit jika ia tinggal di sini. "Karena kan kami dapat sekolah, biaya hidup gratis, dan kalau berprestasi bisa sampai dikuliahkan juga," ujar Irfan yang sama seperti penghuni lainnya bercita-cita serupa, jadi pengusaha.

Memulai hari di pukul 03.00 dengan salat malam dan beristirahat pada sembilan malam setelah belajar, pun melaksanakan kewajiban puasa sunah Senin Kamis, dengan hadirnya Rumah Belajar, nyatanya Irfan pun tetap bisa berinteraksi dengan gadget seperti anak-anak lain, tentu dengan batasan-batasan soal waktu dan isi, yang mestinya juga harus dipatuhi anak-anak lainnya saat berhadapan dengan gadget.

Mari membuat dampak

"Bantuan dari donatur, baik itu berupa barang maupun tenaga sangat berarti. Kalau bisa sih yang manfaatnya berkesinambungan, misalnya kalau memang mau memberi les atau keterampilan tertentu ya bisa rutin, enggak sekali dua kali datang, lalu enggak datang lagi. Atau kalau barang, yang berdampak. Gadget seperti ini sih bisa membuat anak-anak asrama merasa enggak beda dengan anak lain, bisa pegang gadget, walau tentu ada aturannya," ujar Siti Handayani, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang mendampingi anak-anak Rumah Yatim Kemang Utara pada acara jumpa media. Siha, begitu ia disapa, mengaku terhitung alumni yang menjadi tenaga pendidikan dan kesehatan alias penkes di Rumah Yatim. Ia menghuni panti sejak SMP dan kini melanjutkan kuliah juga dengan beasiswa.

Kolaborasi seni, teknologi, dan donasi itu telah membuka pintu persentuhan warga Rumah Yatim dengan teknologi serta berbagai inspirasi dan informasi yang ditularkannya. (M-2)

Komentar