Khazanah

Seranting Andaliman

Ahad, 6 August 2017 02:31 WIB Penulis: BRESMAN MARPAUNG

MI/Rudi Pata

Di atas batu cadas bukit gerigis
berlari moyangku menangkis si bengis
dari Szechuan meloncati Himalaya tangisnya terus meringis
rindu dipendam-pendam meniris-niris
sejak sampai di laut, sampai di danau
berkudis dibelah cadas
perih di mata, pipih di hati
terngiang sekarat luka berganti-ganti

tapi moyangku titis moyang pandai
sebelum mati, getir ia tumpang sensasi
di ketiak perdu dijaga tubir duri-duri
pupus betul aroma sekantung sedih
dari bintil ranting silsilah

batu cadas bukit gerigis
siapa yang melinggis di akar tangis
serupa kakek dari kakek
sedih rindunya mudah terkopek

tapi silsilah tumbuh berkeluh kisah
di beragam masa gugur tak beradab tumbuh
sejak perut menyeringai keluh
walau belanda kepincut menempuh
habis sudah sekantung getir dikikis
memecut nasib tertawa bergegas-gegas

Balige, 2016

Takaran Si Jon

Jon dan sebangsalnya menjajal
tatapan membusung
di undakan cermin cembung
mengasah retina berbayang tanggung
seperti bangsa senang tak tenang
kening kering selebar benang dipicing

setebal raut kaum tak bermalu terdesak ilalang
melulu bertarung ilusi tak matang
di padang murung yang malang
tak menyangka karam berdangkal linang

seperti kau yang kering tawakal
gugur menyiasati ratapan jalang pulang terjal
mata fana tak kepingin dipenggal-penggal

menyantap hawa sesuatu
terasa kental tersedak kepingan batu
melolong diperangkap pecah bau
serasa diburu beribu bayang semu

selang menyusuri dekil makna terbeliak
nasi di bibir diratapi bubur berbisa onak
para penganut bumi datar
temurun rabun jauh
sekilas mengutip latar
mengintip sekhilaf kanta cembung
terpikir selesai mengantar kepala membubung
yang belum pernah sepintas
mengentas rupa sepantar

dan pengamat kejam bumi datar
pengikat rabun terdekat
tersekat sepicik andil lensa cekung
memikat berkas bagai mata terkesima
pataka terluka lekas-lekas diingat
hanya desah kibaran kisah
mengikut selaksa bias penglihatan
bukan fantasi terpejam ilusi

ahai, dubur berlumur
dicatutnya
moncong berkumur-kumur

Medan 2017

Sihir Mobe

jika kematian kelak dingin-dingin saja dan sia-sia
tinggalkan itu danau linang para nestapa
pandai bertekad baka
hanya meluapkan kabar-kabar tuba
melayar sengsaramu tergoda-goda payah

jangan cemaskan ketabahan duka
kayuh saja nasibmu ke belanga
sejauh dari bangsa pencemooh
kutebar upah pada tiap inang luka
niscaya ajalmu sedap dilayang cinta

Porsea 2016
Baiat Si Buta

pmeski kau tebar roti jala-jala,
penunggu lapar di dada kami merasa
kau tetap penabur pandai merujuk tabir bencana
sedang memeram cikal laluan tujuan lain-lain bara

tapi itulah kami yang terkubur pilu mimpi lama
mengerahkan segenap percaya kabar
tergiring dalil belas kasihan abu rela

tahu-tahu kau teruskan lihai mata ganti masa
pada mala-mala gerus siang raya
segala, betul-betul girang terdampak buta

dalam gelap kau menukik menyengatku
yang tak mampu berkaca berlumur sia-sia umur
degil dan ganjil merangkak
di bibir tubir menangkap cahaya palsu

layu terperosok bermain api
enyah dari sesungguhnya kenduri

Menjadi Dua Kepala Berita

1) hukum rimba otentik
sekujur tubuh kota ini sesungguhnya
belantara penyimpang rerimbun gejolak permai
kau menyimpan degup kebinatangan alami
sudah berani tak mengendap-endap

oleh cemburu berumur puritan
parasmu kekal tampak beringas dihuni erangan
kau tepat menjadi ras sasaran empuk berjuang
dihasut terlalu berani berandai di sekitar jeratan
tapi luruh dikeker pemangsa sepintar pindai

dalam tata boga tak konvensional,
kau seperti tunjukan jelajatan kelasmu
terpuruk di asas rantai makanan terlemah
yang malas membangunkan akal budi
yang ingkar berguru tulus dan pandai

terima suratan cepat bagi santapan hingar-bingar!
singa tetap singa bergaung. sekali terengah lengah
kau kambing berguratan kambing guling

jika suratanmu mau lepas dari tikam keji taring
belajarlah mula senyap jejak sampai mahir mengendus celaka
sekali-kali jangan gemar menyeret domba bermain
khianat setega mangsa ganti mangsa

begitulah seharusnya tata laksana murni hukum rimba
boleh mengelak sarapan sia-sia bagi raja rimba
pantang mengumpan sesama berbakat kurban

2) kartu-kartu elektronik turun harga
apakah kau sama denganku
mengaku dan diakui berkhasiat lembaran sakti
tapi menggandakan ciri-ciri mengenal diri
bernas sekelas fotocopy terlalu banyak catatan kaki
berdusta mengandalkan mata hati berganda nilai

setelah semua kau lancung bermula dari kepala
segala yang terkira menurun seharga gadai malai
kepuritanmu yang bodoh, tergopoh jika mulai diintai
kami selalu terpaksa ikut beringsut
kekal dalam interogasi manual
menunggu dengan ritual lama membantai sesal

belum kau beri kata kunci mendesak pintu terlarang
berbagai kemerdekaan hanya terucap
seperti cita-cita sia-sia sembarang orang
padahal, bila kau tak memahami tunjuk mata
rabalah, jemari kami jelas-jelas bukan penganut ilusi

terkutuklah kalian pelaku lancang bermata iba
dalam hingar-bingar dan sedap malak kota
menjegal langkah mulai berani malai jelata
seperti kami yang kerap kau percik celaka

bukannya kau tegarkan iman seberani kelasi.
Tapi ikut
seperti kerani menyikut ayat hukum rimba agung:
hikmat makan adalah secukupnya!
dompetmu lapar, liar berburu kartu - kartu main

di suatu waktu kau pantas diberantas bala celaka

Medan, Maret 2017

Bresman Marpaung, dilahirkan di Pematang Siantar pada 15 April 1968. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 1992. Menggeluti dunia sastra sejak 1984. Beberapa puisinya terhimpun dalam beberapa antologi bersama, yaitu dalam Antologi 175 Penyair dari Negeri Poci 6-Negeri Laut, antologi puisi Dapur Sastra Jakarta berjudul PALAGAN SASTRA, dan Antologi 174 Penyair Dari Negeri Poci 7- Negeri Awan. Ikut bergabung dalam Komunitas Omong-Omong Sastra Medan.

Komentar