Khazanah

Mengenal Rumah Asli Suku Betawi

Ahad, 6 August 2017 03:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

SUASANA berbeda tampak pada Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Jika sebelumnya kawasan Setu Babakan ramai ruah dengan pengunjung saat Lebaran Betawi 2017, hari itu Rabu (2/8) sebaliknya. Suasana tenang menyapa sejak dari gerbang pintu masuk.

Tampak beberapa petugas kebersihan sedang menjalankan tugas mereka. Mereka membersihkan situs yang menjadi pagar bagi kebudayaan Betawi.

Berkunjung ke Setu Babakan tidak lengkap jika tidak melihat bentuk rumah adat Betawi. Empat rumah itu cukup mencolok pandang. Keberadaannya tepat berada di tengah mengelilingi sebuah panggung terbuka. Keempatnya ternyata punya bentuk atap yang berbeda. Dari depan, bentuk atap rumah itu terlihat bentuk berbeda dari setiap rumah. Namanya pun berbeda, beberapa di antara namanya adalah rumah bapang atau kebaya dan rumah gudang.

“Semuanya berbeda, ada yang corong airnya ke depan, ada yang ke samping. Semuanya berbeda kalau dilihat. Jadi bentuk rumah beda atapnya, di belakangnya juga beda, kamar mandinya juga beda,” terang Syaiful Amri.

Rumah kebaya, sekilas namanya terdengar seperti jenis pakian nasional. Disebut dengan rumah kebaya karena bentuk atap yang menyerupai pelana yang dilipat dan apabila dilihat dari samping, lipatan-lipatan tersebut terlihat seperti lipatan kebaya.

Sekilas bentuk rumah kebaya memang mirip dengan rumah joglo. Sekilas memang keduanya serupa. Namun, jika dilihat secara saksama, keduanya sangatlah berbeda. Salah satu perbedaannya terlihat dari atap rumah. Rumah joglo atapnya tidak menyerupai pelana layaknya lipatan, tetapi menyerupai seperti perahu terbalik.

Rumah kebaya memiliki karakteristik khas yakni teras yang luas. Teras tersebut berguna untuk menjamu tamu dan menjadi tempat bersantai keluarga. Lantai dibuat tinggi dari permukaan tanah sehingga bali suji sebagai unsur pendukung masih tetap dipertahankan.

Bentuk denah dari rumah Kebaya memiliki empat persegi panjang yang memiliki tiga kelompok ruang yang jelas, yaitu ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Struktur kuda-kuda bagian atap berada di tengah-tengah bagian atap.

Rumah gudang merupakan rumah dari suku Betawi yang letaknya berada di daerah pedalaman. Ciri khas rumah tipe gudang ini pada umunya memiliki denah berbentuk segiempat, memanjang kebelakang. Atapnya berbentuk pelana dan struktur atap rumah tipe gudang tersebut tersusun dari kerangka kuda-kuda dan memiliki perisai yang ditambahkan satu elemen struktur atap, yaitu jurai.

Bentuk panggung rumah Betawi ternyata juga punya makna. Menurut seniman dan budayawan Syaiful Amri, dahulu bentuk rumah sengaja dibuat seperti itu. Kolong bawah panggung biasa digunakan untuk memelihara hewan ternak.”Nah, zaman dulu rumah panggung itu di bawah biasanya peliharaan. Buat ayam, kam­bing, segala macam,” terang Syaiful Amri.

Selain itu, rumah Betawi punya kekhasan yakni pintu belakang. Pintu itu digunakan untuk akses ke kamar mandi atau jamban. Itu mengandung pesan bahwa segala yang kotor harus dibuang dahulu di luar rumah. “Kalau zaman dulu itu rata-rata sumur ada di luar. Kamar mandi dan jamban juga di luar. Karena yang namanya kotor-kotor itu harus di luar rumah,” terangnya.

Ukiran Betawi

Selain itu, masyarakat Betawi punya ukiran rumah khas yang sarat makna seperti ukiran bunga matahari dan bentuk ukiran pada rumah-rumah Betawi sederhana dengan motif-motif geometris seperti titik, segiempat, belah ketupat, segitiga, lengkung, setengah bulatan, bulatan, dan sebagainya. Ukiran biasanya di­letakkan pada lubang angin, kusen, daun pintu atau jendela, dan tiang yang tidak tertutup dinding.

Ukiran bunga matahari atau banji biasanya terletak pada bagian atas pintu ruang tamu. Hiasan ukiran bunga matahari ini melambangkan bahwa kehidupan pemilik rumah harus menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar karena matahari dilambangkan sebagai sumber kehidupan dan terang. Terang matahari diartikan bahwa pemilik rumah harus selalu memiliki pemikiran dan batin yang terang. Ukiran ini juga simbol penerang yang menerangi hati para penghuni rumah tersebut.

Hiasan berupa ukiran bunga melati yang terdapat pada tiang rumah adat Betawi tidak hanya berfungsi untuk memperindah. Ukiran bunga melati tersebut bermakna bahwa sang pemilik rumah memiliki hati atau perasaan harum selayaknya aroma wangi bunga melati yang sedang mekar.

Yang paling terkenal dari ornamen khas Betawi ialah gigi balang yang merupakan papan kayu yang berjejer berwujud segitiga. Biasanya terdapat di lisplang pada bagian depan atau gerbang yang diberi atap. Ukiran berbentuk bulatan bermakna kesabaran, keuletan, dan keberanian.
Berbincang tentang makna dan filosofi hidup masyarakat Betawi, ada satu yang menarik. Mereka dikenal dengan semboyan ‘Lo jual, gue beli’.
Menurut Syaiful Amri, semboyan itu bukan pengertian buat untuk berantem saja. Bukan. “Maksudnya orang Betawi itu ditantang bagaimana untuk berkarya, dia akan berkarya,” pungkas Syaiful Amri. (M-2)

Komentar