Travelista

Jelajah Pulau Harta Karun

Ahad, 6 August 2017 06:31 WIB Penulis: Was/M-1

Terumbu karang di bawah Laut Morotai/DOK. TIM TERIOS 7 WONDERS

KESERUAN petualangan tim Daihatsu Terios di Maluku Utara belum berakhir. Di hari kelima, Selasa (18/7), tim beranjak menuju bungker pertahanan Jepang saat perang dunia kedua di Desa Hate Tabako, Wasile, Halmahera Timur. Perjalanan dilakukan pukul 06.00 dari tempat menginap di Desa Subaim, Wasile. Setelah sejam perjalanan, tim sampai di Desa Hate Tabako. Dari desa ini, tim menembus perkebunan kelapa sekitar 100 meter dari jalan desa.

Bungker memiliki struktur bangunan beton dan kerangka besi dilengkapi 4 pintu dan 2 ruangan. Tiap-tiap ruangan dihubungkan dengan lorong panjang. Tidak hanya bungker, meriam tempur Jepang masih bisa dilihat di kawasan ini. Moncong meriam menjadi saksi bisu pertempuran pasukan Jepang dan sekutu 1943-1944.

Selain benteng pertahanan, bungker persembunyian bisa ditemui. Para tentara Jepang memfungsikan menjadi tempat persembunyian dengan 20 pintu rahasia. Hanya, bungker ini terbuat dari tanah liat yang dipahat apik. Setiap pintu terhubung dengan pintu lain dan berhubungan.

Setelah 2 jam mengamati bungker, tim Terios 7 Wonder Wonderful Moluccas melanjutkan perjalanan ke Desa Budaya Sasadu di Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat. Jarak tempuh sekitar 176 kilometer dengan rute Wasile-Sofifi-Jailolo. Tim disambut kehangatan warga Desa Sasadu dengan Tari Dabi-Dabi saat datang sekitar pukul 14.00. Tarian dilakukan oleh 2 perempuan dan 5 laki-laki yang mengenakan pakaian adat. Kemudian tim diajak berkeliling oleh kepala adat, Thomas Salasa.

Bentuk rumah adat sasadu simpel dan unik. Rumah adat diwariskan secara turun-temurun kepada suku Sahu di Halmahera Barat. Sasadu berasal dari kata sasa-sela-lamo atau besar dan tatadus-tadus atau berlindung. Sasadu memiliki arti berlindung di rumah besar. Rumah ini digunakan untuk tiga acara besar, yaitu perkawinan, makan bersama saat musim panen sebagai rasa syukur, dan musyawarah desa.

Rumah panggung dibangun menggunakan bahan kayu sebagai pilar atau tiang penyangga dari batang pohon sagu dan anyaman daun sagu sebagai penutup atap. Rumah ini memiliki dua pijakan tangga yang terletak di sisi kiri dan kanan tanpa paku, tetapi dengan bahan alami yaitu pasak kayu untuk memperkuat sambungan dan tali ijuk sebagai pengikat rangka atap.

Rumah adat sasadu tidak memiliki pintu dan sisi-sisinya tidak memiliki dinding penutup. Untuk memasuki rumah adat Sasadu, seseorang harus merunduk karena atap yang rendah. Hal ini memiliki makna penghormatan tamu kepada tuan rumah. Bentuk rumah adat secara umum menggambarkan burung garuda berkepala dua yang sedang mengerami anaknya dengan maksud melindungi masyarakat atau suku Sahu.

Selesai berkeliling, tim disuguhi minuman hasil produksi rumahan yang bernama gurnas, yakni hasil fermentasi anggur, nanas, dan gula aren. Seusai merasakan keramahtamahan suku Sahu, tim melanjutkan perjalanan lagi sejauh 144 km ke Tobelo di Halmahera Utara untuk beristirahat.

Sendok dan koin

Sekitar pukul 10.00, tim meninggalkan Tobelo dengan menyeberang ke Kabupaten Morotai menggunakan feri. Peserta diajak berburu harta karun tersembunyi di sana. Sekadar informasi, Pulau Morotai menjadi basis militer Jepang dan Amerika saat Perang Dunia II pada 1945. Letaknya strategis di bagian paling utara Indonesia menghadap Lautan Pasifik.

Saat sampai di Morotai, tim disambut putra daerah Morotai bernama Muhlis Eso. Ia mengajak tim melihat koleksi benda bersejarah peninggalan perang. Peserta serasa kembali ke suasana masa Perang Dunia II ketika melihat koleksi benda bersejarah itu.

Tidak puas melihat koleksi itu saja, tim penasaran ingin menggali harta karun yang banyak terkubur di tanah, seperti senjata, peluru, dan sisa peralatan perang lain.

Muhlis Eso yang juga Kepala Museum Perang Dunia II di Morotai dan telah melakukan penggalian benda bersejarah sejak berusia 10 tahun memimpin perburuan itu. Tim berhasil menemukan benda bersejarah berupa koin dan sendok sisa zaman perang. Padahal, tim hanya menggunakan lot alias tongkat besi panjang tanpa metal detection untuk mendeteksi keberadaan benda logam yang tersimpan di tanah.

Setelah puas mengoleksi harta karun, tim menuju Daluha Resort untuk beristirahat. Resor ini dibangun Jababeka di Tanjung Dehegila pada 2012. Tahun lalu Presiden Jokowi dan rombongan pun bermalam di Daluha Resort saat meresmikan pembangkit listrik terbarukan.

Hari ketujuh, ADM melakukan seremonial finis perjalanan Terios 7 Wonder Wonderful Moluccas sekaligus memberikan donasi pendidikan untuk 110 siswa yang berada di Morotai. Tim mencatat perjalanan melalui tiga pulau menempuh jarak sampai 1.276,1 kilometer.

Bawah laut

Meskipun telah mencapai titik finis, ekspedisi masih berlanjut pada keesokan hari.

Kali ini tim mengeksplorasi bawah laut Morotai, tepatnya di Pulau Dodola. Bagi yang sudah mahir menyelam (diving) dapat menyaksikan keindahan terumbu karang. Sebagian yang belum bisa diving cukup puas dengan kegiatan snorkeling dan melihat batu-batu karang berwarna-warni dalam air yang transparan.

"Di kedalaman 5 meter, kami sudah dapat menemukan terumbu karang yang indah beraneka warna dengan ikan-ikan berwarna-warni yang mengelilinginya," ujar Indra Setyawan, Executive Coordinator Public Relations ADM.

Setelah puas snorkeling dan diving, tim mendarat di Pulau Dodola yang berpasir putih. Pulau ini sejatinya terbagi dua: Dodola Besar dan Dodola Kecil. Pembagian tersebut akibat adanya pasang air laut pada sore hari sehingga memisahkan Pulau Dodola.

Sekitar pukul 14.00 tim berlayar menuju Pulau Zum-Zum atau disebut Mac Arthur Island. Berdasarkan sejarah, ada panglima perang terkenal Amerika yang memilih Morotai sebagai basis militernya. Dialah Jenderal Douglas Mac Arthur. Nah, di pulau inilah sang jenderal berdiam untuk menyusun siasat perangnya.

Di hari kesembilan atau terakhir, tim melakukan diving ke lokasi karamnya kapal perang. Menurut Executive Coordinator Domestic Marketing ADM Rocky Irvayandi, selain eksplorasi di darat, Morotai menyimpan keindahan bawah laut yang unik, yaitu terdapat bangkai peralatan Perang Dunia II, mulai Jeep, truk, dan pesawat tempur yang berada di kedalaman 40 meter. Di lokasi ini juga terdapat spot untuk berinteraksi langsung dengan hiu liar. Harmoni yang tak lazim, tetapi indah.

Komentar