Travelista

Sembilan Hari, Tiga Pulau

Ahad, 6 August 2017 06:46 WIB Penulis: Wisnu Arto Subari

Pemandangan saat naik diving di Laut Morotai/DOK. TIM TERIOS 7 WONDERS

Mengeksplorasi Maluku Utara selama sembilan hari, menyusuri tiga pulau sekaligus, Ternate, Halmahera, dan Morotai, menyisakan banyak cerita.

SUSUR pulau, itulah yang menjadi tantangan PT Astra Daihatsu Motor (ADM) dalam mewujudkan ekspedisi Terios 7 Wonders ke-6 bertajuk Wonderful Moluccas, pada 14-22 Juli 2017.

Titik start ekspedisi dimulai dari Madrasah Ibtidaiah Nuruddin, Kelurahan Marikurubu, Kecamatan Kota Ternate Tengah. Saat tiba sekitar pukul 07.45 WIT, tim ekspedisi yang terdiri dari 15 orang dalam empat mobil disambut Tari Soya-Soya oleh para siswa.

Sebelum petualangan dimulai, ADM memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah kepada 110 siswa dari lebih 20 sekolah dasar di Ternate. Asal tahu saja, angka 110 merupakan usia perusahaan pada tahun ini.

Kaki Gunung Gamalama

Destinasi pertama yang dituju, Desa Marikurubu di kaki Gunung Gamalama dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Jaraknya 5 km dari pusat kota, dapat dicapai dengan berbagai moda transportasi, seperti sepeda motor dan mobil.

Desa ini memiliki hamparan kebun cengkih. Daya tarik rempah-rempah seperti pala dan cengkih itulah yang menjadi magnet bagi para bangsa Eropa ingin menguasai Ternate dan Tidore di masa lalu.

"Ada pepohonan cengkih tua masih berdiri kukuh di sini. Konon, usia pohon cengkih tua berusia kurang lebih 400 tahunan," ujar Toni, sang ketua tim.

Tim kemudian meluncur ke kawasan wisata Batu Angus di Kulaba. Ada batu-batu besar berwarna hitam di sana. Muasalnya, muntahan Gunung Gamalama pada 1673.

Rasanya kurang afdal jika tim tidak mengunjungi spot yang terkenal melalui uang pecahan Rp1.000. Dari tempat ini, kita dapat menyaksikan Pulau Tidore. Untuk mencapai tempat yang dituju, harus bergerak ke selatan menuju Gambesi. Sesampainya di Gambesi, kita wajib memarkirkan kendaraan bermotor. Dari sini kita harus berjalan masuk menyusuri rumah-rumah penduduk dan hutan kecil yang terdapat di setiap kampung untuk sampai di bibir pantai.

Berburu cakalang

Esok harinya, tim ekspedisi berangkat pukul 02.00 atau 00.00 WIB. Cukup berat memang. Pasalnya, mereka harus mencapai spot tempat memancing ikan cakalang di tengah laut pukul 05.30 sebagai waktu terbaik. Yang unik, memancing dilakukan secara tradisional.

Pemancing dibekali alat yang terbuat dari bambu panjang. Memancing seperti ini merupakan kearifan lokal yang ramah lingkungan. Selain itu, tradisi memancing di Laut Maluku Utara terdapat ritual doa yang dilakukan terlebih dahulu. Teknik memancingnya disebut funai. Para pemancing duduk melingkar di anjungan kapal mengarah ke laut sembari menunggu cakalang naik. Beberapa kru kapal ditugaskan menyebar umpan ikan puri.

"Ikan-ikan beterbangan dari pancing nelayan ke atas kapal," seru Kadek, bloger yang ikut dalam perjalanan itu, dengan takjub.

Seusai memancing, tim bergerak menyambangi Pulau Halmahera, tepatnya di Kota Sofifi. Perjalanan Ternate-Sofifi dapat ditempuh dengan menggunakan feri atau speedboat.

Feri membutuhkan waktu 1,5 jam dan speedboat hanya 45 menit. Tim sampai di ibu kota Maluku Utara tersebut pada sore hari untuk mempersiapkan diri menjalani etape 3 menuju Gua Boki Moruru Sagea.

Gua sang putri

Minggu (16/7) sekitar pukul 08.00, tim berangkat melewati Weda hingga Desa Sagea di Halmahera Tengah. Jalan yang kami tempuh kali ini paling banyak tantangan. Kondisi jalan berlumpur, naik turun dengan tikungan tajam, dan banyak bebatuan dengan jalan aspal hanya 20%.

Tak mengherankan, ada mobil Daihatsu Terios yang sempat terjebak dalam lumpur. Beruntung hal tersebut tidak menimbulkan masalah berkepanjangan. Jalan tak bersahabat ditambah jarak tempuh sekitar 190 kilometer tujuan yang jauh membuat tim baru sampai di Desa Sagea sekitar pukul 15.00. Dari Desa Sagea, tim menyusuri sungai Sangeyan dengan menaiki kapal tradisional kora-kora menuju Gua Boki Moruru Sagea. Kami disuguhi pemandangan pepohonan yang rindang dan mengapit Sungai Sangeyen.

Di muka gua, mereka disambut suara nyanyian kelelawar paniki.

Boki Moruru memiliki arti putri yang menghanyutkan diri. Menurut hikayat dahulu kala di Sungai Sangeyan ditemukan seorang putri dari Tidore tengah mandi dan menghanyutkan diri mengikuti alur sungai. Dengan kejernihan Sungai Sangeyen yang berwarna biru muda, pantaslah seorang putri mau mandi di sungai tersebut.

Perpaduan bebatuan alam stalaktit dan stalakmit cantik terukir alami. Penerangan di gua sangatlah sedikit, hanya cahaya yang masuk dari celah-celah bebatuan dan lampu senter milik pengunjung. Ini menciptakan kesan misterius dan mistis.

Menjumpai burung bidadari

Saat sore tiba, tim menyusuri jalan ke arah Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Halmahera Timur sejauh 158 kilometer. Pukul 02.00, tim baru menjejak tanah Lolobata dan langsung beristirahat di kemah. Tidak lama mereka beristirahat karena pukul 04.30, mulai berjalan kaki menuju penangkaran burung bidadari yang merupakan ikon Maluku Utara. Perawakannya yang indah membuat ilmuwan asal Inggris Albert Russel Wallace tertarik untuk menelitinya pada 1858. Burung ini menjadi daya tarik bagi pencinta burung dan fotografer fauna.

Perjalanan menuju penangkaran sangatlah sulit. Tim menempuh jalan tanah yang licin akibat hujan sebelumnya dan menaiki bukit. "Kami juga melewati tiga sungai yang deras sedalam leher orang dewasa," tutur Ashoka, bloger lain yang bergabung dalam tim.

Sesampainya di penangkaran, tim harus naik ke rumah pohon untuk melihat lebih jelas dengan menggunakan teropong. Burung ini punya keunikan yaitu pejantan memiliki warna indah serta terdapat perisai di leher. Sang betinanya hanya berwarna abu-abu cokelat polos. Tantangan lain, burung bidadari hanya dapat dilihat di penangkaran sebelum pukul 08.00. Memang butuh perjuangan untuk menjumpai sang bidadari. (M-1)

Komentar