Humaniora

Agar Angka Perceraian Turun

Sabtu, 12 August 2017 07:15 WIB Penulis: (Ths/H-1)

MI/RAMDANI

ANGKA perceraian yang tinggi memotivasi Kementerian Agama untuk mengharuskan para calon pengantin untuk lulus kursus pengantin sebelum menikah. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa calon pengantin harus mengikuti pendidikan pra­nikah yang diselenggarakan Kantor Urusan Agama (KUA). “Grafik (perceraian) terus meningkat. Adanya kecenderungan generasi muda meng­anggap pernikahan sesuatu yang biasa saja. Di sini terlihat hilangnya kesucian dari pernikahan yang seharusnya dimaknai dengan baik sehingga tetap terjaga,” tegas Menag Lukman saat menghadiri pembukaan acara Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Jumat (11/8).

Menurutnya, telah terjadi degradasi pemaknaan terhadap pernikahan di kalangan generasi muda sehingga perceraian menjadi sesuatu yang lumrah. Karena itu, para calon pengantin perlu diberikan edukasi wawasan dan pemahaman yang cukup mengenai perkawinan. Menag menginginkan kursus pengantin didorong menjadi syarat pengajuan pernikahan. “Pasangan yang ingin menikah nantinya harus punya sertifikat pendidikan pranikah. Kesiapan finansial penting, tapi kesiapan pemahaman terkait rumah tangga juga tidak kalah penting,” tegasnya. Pendidikan pranikah sudah dilaksanakan di 16 provinsi. Menag mengakui belum semua wilayah tercakup karena anggaran terbatas.

Materi kursus
Dalam kursus pranikah itu, pasangan calon pengantin akan mendapatkan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang kerumahtanggaan, hak dan kewajiban suami istri, serta hal-hal lain yang menyangkut hubungan dengan Al-Khaliq secara vertikal dan dengan lingkungannya secara horizontal. Pada kursus juga ada materi bagaimana cara mengatasi permasalahan yang terjadi di rumah tangga (manajemen konflik).

Kemenag sudah mengantongi bahan kursus. Hal itu disebabkan materi pengajaran kursus pranikah dibuat dengan melibatkan antara lain BKKBN, Kemenkes, dan pengamat hubungan keluarga. Lukman menyebutkan, nantinya setiap orang yang mengikuti program kursus pranikah itu akan diberikan sertifikat. Menteri Lukman berharap, program tersebut bisa memberikan kesiapan mental dan wawasan kepada calon pengantin.

Secara terpisah, Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty menilai kursus ini penting karena akan meningkatkan kualitas penduduk. “Ya, itu memang sejalan dengan prog-ram bkkbn, yaitu kkbpk (Kependudukan Keluarga Be­rencana dan Pembangunan Keluarga). Kita menggelorakan program KB bukan saja untuk pengendalian kuantitas penduduk, melainkan peningkatan kualitas penduduk.”

Untuk kursus, Bkkbn menyiapkan materi berupa buku panduan untuk calon pengan­tin. Bkkbn di berbagai provinsi menyelenggarakan pelatihan bagi para petugas Kemenag tentang buku tersebut dan materi KKBPK. Berdasarkan data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung pada 2010-2014, dari se­kitar 2 juta pasangan menikah, hampir 300 ribu (15%) bercerai. Sementara itu, data BPS menunjukkan peningkatan perceraian dari 2013 sebanyak 324.247; 344.237 (2014); dan 347.256 pada 2015. (Ths/H-1)

Komentar