Humaniora

Barisan Caping Hijau Meriahkan Madinah

Sabtu, 12 August 2017 09:45 WIB Penulis: Laporan Siswantini Suryandari dari Madinah

MI/SISWANTINI SURYANDARI

“PAKAI caping biar enggak kepanasan dan juga gampang dikenali,” kata Moh Zuhri, 80, jemaah asal Kecamatan Gandrung Manis, Cilacap, Jawa Tengah, saat tiba di Pavillion 3i Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah, kemarin pukul 10.00 waktu Arab Saudi.

Caping warna hijau yang ia kenakan sungguh menarik perhatian. Bahkan ada orang Arab yang meminjam caping dengan gambar bendera Merah Putih dan bertuliskan KBIH Al Munawarroh itu untuk berswafoto. Tak cuma Zuhri, dari 320 jemaah dari Kloter 45 Embarkasi Solo ini, ada 45 jemaah yang menggunakan caping hijau.

Penggunaan caping itu juga simbol bahwa mayoritas jemaah berasal dari kalangan petani. “Saya ini buruh tani, menabung haji sejak 2010. Tahun ini bisa berangkat haji, tapi tidak bersama suami. Sudah kehendak Allah, suami meninggal beberapa bulan lalu. Saya akan badalkan suami,” kata Suparni, 47, warga Kecamatan Kedungreja, Cilacap.

Wajah-wajah lelah, tetapi gembira terlihat dari raut muka para jemaah. “Menjadi tamu Allah rasanya susah dikatakan,” kata Gozali yang duduk di depan Suparni.

Penanda-penanda unik yang dipakai jemaah Indonesia memang mencuri perhatian banyak orang. Jika dari Cilacap ada kelompok caping hijau, lain lagi dengan kelompok jemaah dari Tuban, Jawa Timur. Mereka menggunakan topi rajutan dengan warna mencolok. Para jemaah perempuan dari Tuban yang mayoritas lansia ini pun mendapat perhatian khusus askar (petugas keamanan) di Raudah.

Saat para jemaah berdesak-desakan di pintu Raudah (makam Nabi Muhammad SAW), mereka mendapat akses langsung karena dikawal para perempuan askar untuk bisa mendekat ke makam Nabi. Kiki, petugas Perlindungan Jemaah Sektor Khusus Masjid Nabawi, mengatakan mereka mendapat prioritas karena memang sudah sepuh. Ditambah lagi topi yang mereka pakai menarik perhatian.

Ada juga kelompok jemaah dari Sulawesi Tenggara yang memakai pita dengan warna mencolok, hijau muda. Pita-pita itu disematkan di kerudung. “Kalau terlepas dari rombongan, bisa dilihat pita di kepala,” ujar Niah, seorang jemaah sambil menunjukkan pita.

Lain lagi jemaah dari Yogyakarta. Saat menjalankan salat Arbain di Masjid Nabawi, mereka mengenakan blangkon sebagai pengganti peci. Ada juga jemaah yang mengenakan lurik khas Yogyakarta menggantikan baju koko yang dipakai jemaah pada umumnya.

Penanda-penanda unik ini merupakan khas jemaah Indonesia. Selain meriah, jemaah lain atau warga lokal pun cepat mengenalinya. (X-8)

Komentar