Polkam dan HAM

Indonesia tidak Boleh Runtuh Oleh Pengaruh Ideologi Asing

Sabtu, 12 August 2017 19:18 WIB Penulis: Golda Eksa

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

BANGSA Indonesia tidak akan dapat menghindari dinamika globalisasi dengan pelbagai ancaman dan tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta dari seluruh komponen bangsa untuk tetap memelihara sikap nasionalisme dan kesadaran bela negara dengan berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.

Demikian pidato sambutan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada acara Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia bertajuk 'Revitalisasi Pancasila', di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (12/8).

"Jika Pancasila tidak dijadikan falsafah dalam berbangsa dan bernegara, maka bangsa ini akan kehilangan roh dan jiwanya. Akibatnya, masyarakat dapat mudah disusupi oleh ideologi asing yang belum tentu sesuai dengan akar budaya bangsa Indonesia," ujarnya.

Contohnya, ada beberapa negara yang telah hancur karena simbol persatuannya telah dirusak oleh pengaruh ideologi lain, seperti Yugoslavia, Uni Soviet yang kini menjadi Rusia, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Ryamizard berharap Indonesia dikemudian hari tidak mengalami keruntuhan dan perpecahan atas persoalan serupa.

Menurutnya, sebagai falsafah hidup bangsa, Pancasila sudah mengandung nilai-nilai filosofis khas bangsa Indonesia, yakni mencerminkan hakikat, asal, tujuan, nilai, serta arti dunia seisinya, khususnya manusia dan kehidupannya secara perorangan maupun sosial.

"Ini berarti bahwa wawasan dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara kultural seyogyanya harus tertanam dalam hati sanubari serta karakter dan kepribadian yang mewarnai kebiasaan, perilaku, dan kegiatan setiap bangsa Indonesia secara utuh."

Ia menambahkan, dinamika modernisasi dan interaksi global juga telah berimplikasi terhadap munculnya tantangan keamanan nasional, yaitu isu-isu keamanan baru berdimensi ancaman keamanan bersama lintas negara. Jenis ancaman nyata itu ialah terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian SDA, wabah penyakit, perang siber dan intelijen, serta peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Tidak hanya itu, perlu diwaspadai pula ancaman lain yang bersifat non fisik, yakni serangan ideologis dengan kekuatan 'soft power' yang berusaha merusak 'mindset' dan jati diri bangsa Indonesia melalui pengaruh kehidupan ideologi asing yang beraliran materialistis.

"Ideologi asing yang saya identifikasi berpotensi mengancam keutuhan ideologi negara Pancasila di sini adalah liberalisme, komunisme, sosialisme, dan radikal Islam. Serangan ideologis inilah yang sering saya sebut dengan istilah Perang Modern," terang dia.

Senada disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan. Menurut dia, Pancasila merupakan jalan kehidupan yang menjadi satu cara atau landasan hidup berbangsa dan bernegara. Pancasila tidak membedakan suku dan agama apa pun.

"Perbedaan karena suku, agama itu sebaiknya tidak dipertentangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Boleh saja orang itu punya perbedaan, ikut keyakinan tertentu dan kepercayaan tertentu, itu tidak masalah. Tetapi, dalam berbangsa dan bernegara itu satu, yaitu Pancasila," ujar Jonan.

Jonan yang hadir dalam kapasitas sebagai tokoh Katolik, mengaku tidak pernah merasa menjadi anak bangsa dari kalangan minoritas. Ia menilai bangsa Indonesia sangat majemuk dan telah ber-bhinneka sejak awal.

"Saya 100 persen Indonesia dan 100 persen Katolik. Saya juga tidak pernah merasa saya ini minoritas, memeluk agama Katolik dan enggak merasa perbedaan jadi halangan. Kalau saya satu-satunya anggota kabinet yang beragama Katolik, ya, itu kebetulan saja," katanya.

Masih di lokasi yang sama, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, menilai perbedaan sebagai sebuah anugerah. Semua pihak pun diimbau untuk tidak lagi mempertentangkan persoalan agama, namun harus menunjukan sikap untuk saling menghormati.

"Karena yang harus dicari itu bukan perbedaan, tapi persamaannya. Makin banyak kita menemukan persamaan, makin banyak pula kita bergerak berdasarkan persamaan itu, makin besar negara kita," tandasnya. (OL-2)

Komentar