Khazanah

Caos Dahar dan Makna Sekeranjang Kembang

Sabtu, 12 August 2017 23:31 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

MI/Ebet

CAOS dahar dalam tradisi Jawa sudah berlangsng sejak lama. Di Keraton Jawa, seperti Keraton Ngayogyakarta, tradisi ini pun masih lestari secara turun-temurun. Dalam bahasa Indonesia, caos artinya menyiapkan, sedangkan dahar adalah makan. Jadi secara harfiah caos dahar adalah menyiapkan makan.

Di keluaga Keraton Ngayogyakarta, hampir saban malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, tradisi ini dilaksanakan, terutama bagi keluarga yang masih memegang teguh tradisi Jawa. Caos dahar ialah sebentuk cara untuk melatih pribadi menghormati leluhur dan bersukur kepada Yang Mahakuasa.

Menghormati leluhur yang sudah bersusah payah berjuang dan prihatin, dan beryukur kepada Yang Mahakuasa karena telah memberikan kenikmatan, itulah mengapa caos dahar dilakukan. Seperti yang dilakukan Buyut tertua dari HB VIII, Raden Mas Hertriasning.

“Caos dahar merupakan hubungan timbal balik Sangkan Paraning Dumadi atau Yang Mencipta dengan kita sebagai manusia,” ujarnya.

Sebagai keturunan keraton Jawa, dia memiliki kewajiban moral untuk terus melestarikan tradisi caos dahar, terutama pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Dua hari ini memiliki makna yang berbeda. Selasa Kliwon bermakna melakukan sesuatu yang sifatnya cinta kasih sesama makhluk, sedangkan pada Jumat Kliwon adalah puncaknya. Raden Mas Hertriasning mengistilahkan caos dahar di malam Jumat Kliwon bagaikan bulatan utuh, seperti bulan purnama.

“Kalau Jumat Kliwon itu seperti kalau mau wisuda, berbeda dengan Jumat biasa,” ceritanya sambil mengisyaratkan kedua tangan mengepal seperti bulatan utuh.

Ketika melaksanakan caos dahar, secara batiniah Raden Mas Hertriasning merasakan ketenangan. “Bagi orang Jawa sendiri itu merupakan proses penyempurnaan jati diri pribadi kepada Yang Mahakuasa dan hubungan dengan sesama,” ujarnya tentang apa yang Raden Mas Hertriasning rasakan. “Itu yang saya rasakan.”

Saat Media Indonesia berkunjung ke rumahnya pada malam Jumat Kliwon, dia beserta istrinya tengah menyiapkan sejumlah ubo rampe atau perlengkapan untuk ritual caos dahar. Ada kembang kantil, kembang mawar merah dan putih, pisang raja, dan beberapa gelas yang terisi kopi, layaknya orang yang sedang menyiapkan makanan.

Daharan atau beberapa makanan itu adalah simbol; interaksi batiniah manusia dengan alam, antara yang terlihat dan tak terlihat. “Jadi caos dahar bukan secara analogi seperti layaknya manusia makan atau minum, melainkan makna-makna simbolis yang diwakili beberapa bentuk seperti kembang, minuman, dan buah-buahan,” kata dia.

Ritual sakral

Memakai pakaian khas keraton, baju peranakan, Raden Mas Hertriasning membawa masuk sejumlah ubo rampe yang telah disiapkan ke dalam ruangan berukuran sekitar 4,5x3,5 meter. Ruang­an itu tepat berada di ruang tengah rumah joglo, namanya senthong tengah.

Bagi orang Jawa yang memiliki rumah joglo adat Jawa, sentong tengah adalah ruangan khusus untuk olah batin. Ruangannya tepat berada di tengah rumah. Biasanya ruangan ini dipakai untuk menyimpan pusaka, berdoa, atau melakukan ritual-ritual khusus lainnya, seperti melakukan ritual caos dahar.

Setelah semua ubo rambe dimasukkan, Raden Mas Hertriasning duduk bersila, mengambil beberapa pusaka, lilitan kembang melati yang sudah mengering digantinya denan yang baru, lalu dimasukkan kembali ke sebuah kotak.

Malam itu ruangannya tak berlampu, hanya cahaya api dari kemenyan yang dibakarnya menjadi penerang. Bau menyan mulai terasa, lalu pintu ditutup. Dia di dalam melakukan ritual caos dahar melakukan interaksi batin dengan leluhur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa.

Menyendiri dalam ritual caos dahar adalah sebuah simbol sakralitas, rahasia yang sangat pribadi. Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, PM Laksono, menyebutnya sebagai hubungan pribadi dengan alam lain adalah sesuatu yang disengker, atau sangat pribadi.

Dalam semua kebudayaan, bagi PM Laksono, hubungan batin seperti caos dahar ialah sesuatu yang pribadi karena akan memengaruhi kualitas ritual dan tidak semua harus dikatakan atau diperlihatkan.

“Itu tidak hanya hak, tapi menjaga kerahasiaan itu sebuah kekuatan dan bisa sangat efektif,” kata dia.

Cukup lama Raden Mas Hertriasning di dalam senthong tengah. Kurang lebih 45 menit dia melakukan ritual dan berinteraksi dengan alam lain. Pintu jati terbuka, dia keluar dari dalam senthong tengah. Sisa-sisa nyala api dari kemenyan yang dibakarnya masih terlihat. Asapnya mengepul tipis, suara pletikan kemenyan terdengar di heningnya malam Jumat Kliwon.

Kembang dalam ritual

Dalam ritual caos dahar, ada ubo rampe yang dipakai. Namun ada syarat yang tidak boleh ditingglkan, yakni kembang mawar merah dan putih. Secara keseluruhan memiliki makna tersendiri.

Pisang raja berjumlah empat sisir dalam ritual caos dahar memiliki simbol sang raja yang tak lain adalah Tuhan Yang Mahakuasa. Dua sisir pisang ketika disatukan bentuknya mirip tanganh orang berdoa, itu simbol untuk berdoa kepada raja Yang Maha Raja, Tuhan Yang Mahakuasa.

Ubo rambe juga ada bermacam-macam kembang, seperti kembang kantil yang menyimbolkan manusia harus siap lahir batin secara spritual manghadap Yang Mahakuasa. Kembang melati sebagai simbol segala sesuatu yang diucapkan haruslah berlandaskan hati nurani, lahri batin.

“Jadi semua yang kita ucapkan harus sesuai dengan norma, tidak munafik, dan itu semua harus dilakukan dengan ikhlas lahir batin,” ujar Raden Mas Hertriasning.

Kembang kenanga adalah simbol untuk selalu mengingat pada leluhur atau orangtua yang telah melahirkan, mengasuh. Kembang kenanga, menurut Raden Mas Hertriasning, juga bisa bermakna pusaka, tradisi, budaya atau filsosofi ajaran Jawa.

Mawar merah adalah simbol dumadine jalma atau berarti ibu. Mawar putih adalah mawar putih, adalah simbol dari roh atau bapak. Kedua kembang ini harus ada, karena inilah perlambang jiwa dan nusantara: bapak adalah jiwa dan ibu sebagai Nusantara.

“Tapi dari semua ubo rampe yang paling pokok ada kantil, kenanga, mawar merah, mawar putih, melati, dan telon. Itu simbol biar kita menjadi orang yang sukses supaya kita bisa seimbang dalam hidup. Punya sifat roso, rumongso, dan ngrumangsani,” jelas Raden Mas Hertriasning.

Dengan media kembang-kembang itulah olah batin dan komunikasi dengan alam lain terjadi. PM Laksono menuturkan kembang memiliki kekuatan mediasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang di sekitarnya karena sebaran bau, pancaran warna, dan citra yang keluar darinya sehingga dalam tradisi Jawa seperti di Yogyakarta kembang sering dipakai sebagai media komunikasi atau berhubungan dengan kehidupa lain.

Selain mengeluarkan aroma wangi, menurut Laksono, kembang juga mampu mengundang sesuatu karena kekuatan yang luar biasa dan bisa menjangkau wilayah yang tidak kelihatan.

“Bebauan itu tidak kelihatan tapi terasa sehingga kalau ingin berkomunikasi dengan dunia yang tidak kelihatan maka bebabuan menjadi strategis, bisa terjangkau,” kata dia.

Seperti Raden Mas Hertriasning, setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon, selalu menggelar ritual caos dahar. Sebagai keturunan Keraton Yogyakarta dari HB VIII, Hertriasning mengaku perlu melestarikan trasisi leluhurnya untuk berinteraksi batin dan mengolah jati diri pribadi kepada Yang Mahakuasa dan hubungannya dengan sesama.

Caos dahar adalah ritual tradisi jawa terutama di lingkungan keraton ngayogyakarta, keturunan keraton akan terus melestarikannya. Menjaga keseimbangan anara yang terlihat dan tidak terlihat. “Tradisi ini mengajari perlunya menjaga keseimbangan kehidupan antara yang terlihat dan tidak terlihat,” ujar Raden Mas Hertriasning. (M-2)

Komentar