MI Muda

Bahasa Isyarat untuk Semua

Ahad, 13 August 2017 02:01 WIB Penulis: Grace Kolin/M-1

MI/Ramdani

Yuk belajar bahasa isyarat meski kamu tidak tuli. Dengan masyarakat yang ramah pada keterbatasan, Indonesia akan makin keren.

Kehilangan pendengaran bukan berarti kiamat bagi Panji Surya Putra Sahetapy. Ia menjadikan keterbatasan sebagai batu loncatan untuk melebihkan usahanya untuk bermakna bagi sekitarnya.

Muda menjumpai Surya untuk menggali agendanya berikhtiar untuk Indonesia yang ramah terhadap kaum disabilitas.

Apa arti keterbatasan buat kamu?

Keterbatasan adalah ketika orang-orang yang tidak mengerti perbedaan yang ada pada kita dengan orang lain. Di saat kita tidak bisa mendengar, orang berpikiran kalau kita tidak bisa apa-apa, padahal bisa melihat. Ketika kemampuan mendengar kita tidak ada, kemampuan pengelihatan kita harus lebih tajam. Karena itu, kita lebih mengandalkan komunikasi visual. Meski kemampuan kita berbeda-beda, kita sama-sama manusia.

Gimana perasaan kamu ketika kamu menyadari dirimu berbeda?

Dari kecil, saya sadar berbeda ketika saya masuk sekolah tuli, bersama teman-teman tuli. Setelah lulus masuk sekolah SMP umum, saya merasa ada yang berbeda. Karena apa? Karena teman-teman komunikasi terlalu cepat. Saya menyadari, oh ternyata saya tuli, mereka bisa dengar. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, saya bertemu dengan teman-teman seperti saya. Di dunia ini ada 360 juta orang tidak bisa mendengar, 70 juta orang tuli menggunakan bahasa isyarat.

Di Indonesia, kaum disabilitas tuli kira-kira lima sampai tujuh juta, artinya apa? Saya tidak sendirian.

Kamu tidak sedih?

Tidak, tidak boleh itu. Karena apa? Tuhan mengambil pendengaran kita, bukan berarti kita bisa meminta untuk dikembalikan.

Tidak bisa, ikhlaskan. Karena masih ada cara lain yaitu menulis, belajar bahasa isyarat, berbicara dan sebagainya. Banyak cara komunikasi selain mendengar.

Suka duka menjadi seorang tuli?

Ketika saya menggunakan bahasa isyarat, saya bisa berkeliling dunia komunikasi tanpa hambatan. Bahasa isyarat itu berbeda-beda, tapi mungkin bisa cepat dipelajari, seperti bahasa isyarat Amerika, Hong Kong, dan Turki. Ini harus dipelajari. Dengan bahasa isyarat, kita bisa mengajak orang untuk lebih memahami dunia tuli. Seperti tidak memaksakan orang tuli berkomunikasi verbal. Padahal itu tidak boleh, verbal itu pilihan.

Paling penting, kita bisa merubah pola-pola pikir orang terhadap bahasa isyarat. Jangan memaksakan perubahan. Itu pilihan. Tidak semua orang itu seperti saya, bisa verbal. Percayalah di dunia ini, kita mengekspresikan isi hati tidak harus lewat suara, bisa lewat visual, tulisan dan sebagainya.

Lagi sibuk apa di Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin)?

Selama ini ada namanya Pusat Layanan Guru Bahasa Isyarat yang mengadakan kelas bahasa isyarat untuk kalangan umum di Pasar Minggu, tapi kadang-kadang di tempat lain setiap seminggu sekali.

Wuih, banyak yang daftar. Karena bahasa isyarat bukan hanya untuk orang-orang tuli, tapi juga untuk semua. Tapi sayangnya, guru yang mengajar bahasa tuli masih terbatas. Kami berharap supaya pemerintah mendukung guru-guru tuli bisa bertambah agar bisa ke daerah lain.

Kalau untuk sekarang sih, seperti biasa saya sibuk melakukan advokasi ke kementerian-kementerian tentang hak dan Undang-Undang disabilitas No 8 Tahun 2016. Selain itu, saya meningkatkan kesadaran lewat proyek videoklip, film, dan sebagainya.

Tapi sekarang, saya mau berusaha fokus belajar ujian masuk universitas, jurusan kebijakan publik.

Moto hidup kamu?

Banyak sekali yang moto, tapi saya paling suka dengan moto 'Satu pintu tertutup, tapi masih banyak ribuan pintu terbuka untuk kita'. Artinya, meski kita tidak bisa dengar, bukan berarti kita tidak bisa hidup. Karena kebanyakan orang-orang berpikir, keterbatasan membuat kita tidak bisa apa-apa. Itu salah.

Keterbatasan membuat kami lebih kuat. Tertantang untuk mengatasi dunia yang berat ini.

Hobi kamu?

Hobi saya berkumpul dengan teman-teman tuli, bertukar pikiran. Sepak bola dan mengajar bahasa isyarat. Mengapa? Karena bahasa isyarat bukan cuman teman-teman tuli. Tapi juga diperuntukkan orang-orang yang mendengar. Pertama, bahasa isyarat membantu otak lebih aktif. Mengurangi depresi dan bikin awet muda. Bisa digunakan untuk berkomunikasi di dalam air dan tempat yang berisik.

Kenapa kamu pengin hijrah ke jurusan kebijakan publik?

Awalnya, pada 2015 saya mendaftar program magang di kantor Gubernur DKI Jakarta karena saya memiliki perspektif negatif tentang pemerintah. Pemerintah itu tidak peduli dengan teman-teman disabilitas. Cuek. Dari bagian pendidikan, saya dipindahkan ke bagian anggaran. Nah, anggaran itu tentang peraturan, keuangan, utang, kebijakan publik dan sebagainya. Saat itu aku menganalisis program anggaran daerah, ada 40 ribu program masyarakat, tapi untuk disabilitas cuma satu sampai dua. Hanya sebatas kursi roda. Bahkan untuk pendidikan dan pelatihan, untuk kaum disabilitas masih minim. Di situ, passion saya berubah.

Saya ingin supaya pemerintah lebih memahami disabilitas. Karena peraturan itu penting untuk memastikan masyarakat tuli atau disabilitas bisa mengakses bahasa Indonesia.

Magang itu seru ya?

Benar-benar luar biasa, kenapa? Karena awalnya saya memiliki perspektif negatif. Ternyata orang-orang di sana itu bukan tidak peduli, melainkan belum memahami. Mereka berpikir, disabilitas itu cuman kursi roda. Ternyata disabilitas itu luas dan berbeda-beda.

Saya mempelajari kebijakan publik supaya mereka memahami tentang disabilitas. Dan yang paling penting, ketika membuat kebijakan publik atau peraturan tentang disabilitas, harus melibatkan kaum disabilitas. Selama ini, pemerintah sering membuat kebijakan atau peraturan tapi tidak melibatkan disabilitas sehingga peraturan yang sudah diimplementasikan masih sulit diakses kaum disabilitas.

Tantangan sebagai kaum disabilitas?

Bagaimana bisa membuat orang memahami kami. Kadang kan ada orang yang tidak mau tahu, atau ada yang pengin merasakan gimana jadi kaum disabilitas. Tapi kadang-kadang kami harus berlatih membuat orang bisa memahami kami. Seperti contoh, kita menonton televisi, suara dimatikan, apakah kamu paham apa yang dikatakan? Seperti itulah yang kami rasakan.

Seberapa berarti dukungan orang tua bagi dirimu?

Paling penting ialah orangtua mau menerima saya sebagai orang tuli. Tidak membatasi ruang saya untuk mengekspresikan bahasa isyarat, ngobrol pakai bahasa isyarat, atau bertemu teman-teman tuli. Soalnya, kalau orangtua tidak menerima keberadaan anak disabilitas, anak itu akan sulit berkembang. Ketika masyarakat sudah memahami disabilitas seperti bahasa isyarat, negara kita mungkin akan menerima anak-anak tuli atau disabilitas.

Satu kata bahasa isyarat yang paling kamu sukai?

Indonesia dan Merah Putih karena aku cinta Indonesia (sambil mempraktikkan bahasa isyarat).

Idola kamu dalam memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas?

Aku terinspirasi dari Thomas Alva Edison. Dia juga tuli. Kalau seandainya dunia ini tidak ada 'tuli', tidak ada lampu. Karena Thomas Alva Edison itu pencipta lampu, dan dia tuli. Saya juga mengidolakan aktor dari Amerika, George Clooney, ia aktivis yang memperjuangkan Sudan, terus menegakkan hak asasi manusia. (M-1)

Grace Kolin, Jurusan Ilmu Komunikasi

Universitas Sumatra Utara

Komentar