Ekonomi

RNI Tunggu Instruksi Pemerintah Beli Gula Petani Rakyat

Ahad, 13 August 2017 13:19 WIB Penulis: Gabriela Jessica Restiana Sihite

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Didik Prasetyo -- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

PT RAJAWALI Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI masih menunggu instruksi pemerintah untuk membeli gula hasil giling petani rakyat. Alasannya, produksi gula perusahaan pelat merah itu juga sedang tinggi dengan tingkat penjualan yang cukup rendah di pasar.

Direktur Utama RNI Didik Prasetyo mengatakan saat ini stok gula di gudangnya ada sekitar 30 ribu ton dengan tingkat produksi 2.500-3.000 ton per hari. Jumlah itu dinilai berlebih ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau ditugaskan pemerintah (membeli gula hasil giling petani rakyat) ya kami jalanin. Kalau tidak ditugaskan, ya wong gula kami sendiri saja belum banyak laku," ujar Didik kepada wartawan di Tarakan, Kalimantan Utara, Sabtu (12/8) malam.

Ia menyebut selama periode Juli-Desember merupakan masa giling tebu. Karena itu, produksi gula nasional saat ini memang sedang membanjir.

Per 4 Agustus 2017, produksi gula RNI mencapai 102 ribu ton. RNI memproyeksikan produksi gula tahun ini bisa mencapai 316 ribu ton atau naik 11,6% dari realisasi produksi tahun lalu yang sebesar 283 ribu ton.

Didik mengatakan hasil produksi tahun lalu bisa habis lantaran dibeli oleh Perum Bulog. Pemerintah menugaskan Bulog untuk menyerap seluruh gula RNI guna menstabilkan harga gula dengan menjual Rp12.500 per kilogram (kg).

Namun, tahun ini Bulog belum mendapat penugasan kembali dari pemerintah, sehingga produksi gula RNI belum terserap maksimal.

Akibat dari produksi yang melimpah, harga gula milik RNI pun menurun dari sekitar Rp11.500 per kg menjadi Rp10.900 per kg. Belum lagi, harga di tingkat penggilingan juga disebut Didik mengalami penurunan.

Dengan kondisi itu, Didik memprediksi akan ada banyak lahan yang tidak tergarap ke depannya lantaran petani gula yang beralih usaha.

"Kami memperkirakan luas tanam tebu di wilayah RNI pada musim giling tahun depan hanya 53.000 hektare atau berkurang 3.000 hektare dari luas tanam tebu pada tahun ini," imbuh Didik. (OL-3)

Komentar