Megapolitan

Polisi Geledah PT First Travel, Tiga Mobil Mewah Disita

Ahad, 13 August 2017 18:48 WIB Penulis: Kisar Rajaguguk

MI/Adam Dwi

PENYIDIK Bareskrim Polri menggeledah Kantor Biro Perjalanan Umroh PT First Travel di Jalan Radar Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Dari kantor itu polisi menita tiga unit mobil mewah.

Kasubdit V Jattanwil Bareskrim Polri Komisaris Besar Dwi Irianto mengatakan pihaknya mengambil barang bukti berupa sejumlah berkas dan dokumen serta tiga unit mobil mewah. Salah satunya mobil mewah jenis Toyota Alphard warna putih Nopol F 777 NA. “ Cukup banyak dokumen yang diambil, seperti paspor dan money fast, “ katanya, Minggu (13/8)

Irianto mengatakan, masih mencari data-data yang ada di kantor tesebut. Setelah ini pihaknya akan menginventarisirnya. Dia mengakui cukup kesulitan mengumpulkan barang bukti karena jumlahnya yang cukup banyak. "Saking banyaknya jumlah data itu kita kesulitan, makanya minta bantuan staf First Travel. Kita 11 jam melakukan penggeledahan," tukasnya.

Zakky Farhan, salah satu jemaah mengaku sudah menunjuk pengacara, (Alwin Rahardian) untuk memperdatakan pimpinan PT First Travel Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan ke pengadilan. “ Aldwin Rahardian kami tunjuk sebagai pengacara jemaah, “ katanya.

Saat ini pihaknya tengah mengumpulkan data-data jemaah First Travel yang belum diberangkatkan. Dia mengungkapkan yang tergabung saat ini sekitar 1000 jamaah.

"Tuntutan kami intinya meminta penjelasan termasuk menuntut pengembalian dokumen yang hingga sekarang belum diberikan. Kami kebingungan mau lapor kemana. Untuk itu kami berharap pemerintah atau Bareskrim segera membuat crisis center," terangnya.

Menurutnya crisis center dibuka agar jawaban terkait proses pengembalian refund dan data-data bisa terjawab. "Termasuk janji mereka yang katanya Desember tahun ini ada yang diberangkatkan. Kami minta kepastian hitam di atas putih. Jangan ditunda-tunda lagi," ujarnya.

Dia menuturkan sudah banyak jemaah yang stres terhadap kasus tersebut. Apalagi jemaah yang niat berangkat kemudian menggunakan uang tabungannya.

"Tidak semua orang mampu yang berangkat. Mereka yang niat mengumpulkan uang kemudian mimpi mereka hilang karena oknum yang tidak bertanggungjawab. Kasihan banyak yang stres. Kami di sini serentak menuntut hak-hak kami. Kami juga tidak menuntut secara pidana," pungkasnya.(OL-3)

Komentar