Polemik

Tajam Boleh asal Tetap Santun

Senin, 14 August 2017 07:09 WIB Penulis: Nov/P-1

Arsul Sani -- MI/Susanto

TIDAK sedikit elite partai di negeri ini masih belum mengindahkan etika dan moral dalam melakukan tindak komunikasi politik, bagaimana tanggapan Anda?

Perlu ada kesadaran kolektif dari semua orang yang tergolong sebagai elite politik, politisi, dan pejabat publik untuk bisa mengar­tikulasikan pandangan atau aspirasi sosial-politiknya dengan pilihan bahasa yang lebih santun dan tidak kasar.

Apakah itu berarti tidak elok melontarkan kritik-kritik keras atau pendapat berbeda yang menyinggung pihak lain?
Tajam, kritis, dan saling berbeda boleh saja, tetapi pilihan dan rangkaian kata harus mempertimbangkan psikologi sosial masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya kelompok atau partainya sendiri. Ini tampaknya masih gagal untuk dibangun dan dibudayakan oleh segelintir elite tersebut.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari beberapa peristiwa yang telah terjadi?
Kita sebetulnya bisa belajar banyak tentang ini, baik dari Bung Karno maupun Pak Harto. Dalam rentang waktu kekuasaan keduanya yang begitu lama, boleh amat sangat jarang keduanya memilih kata atau kalimat yang menimbulkan perpecahan atau segregasi antarelemen masyarakat.

Setujukah Anda kalau ini bisa juga digunakan rival untuk manuver politik jelang Pemilu 2019?
Sebaiknya rivalitas tidak menggunakan cara-cara atau kata-kata yang mempertaruh­kan persatuan dan kesatuan masyarakat kita.

Bagaimana menurut Anda sebaiknya menyikapi elite-elite politik yang melanggar etika, perlukah dilaporkan ke polisi dan diselesaikan di sana?
PPP berpendapat jika soal tersebut bisa diselesaikan secara musyawarah dari hati ke hati, ini harus diprioritaskan. Tentu yang bersangkutan juga perlu berbesar hati termasuk jika harus meminta maaf secara terbuka.

Jadi cukup mengakui meminta maaf dan mengakui kesalahan?
Meminta maaf itu kan sebuah kebesaran jiwa, tidak harus diartikan sebagai pengakuan bersalah. Arief Puyono (Wakil Ketua Umum Partai Gerindra) misalnya justru bagus ketika dia meminta maaf, malah tidak kehilangan muka. Setelah itu, ya harus dianggap selesai pula secara hukum permasalahannya. (Nov/P-1)

Komentar