Polemik

Jangan hanya Berorientasi Kekuasaan

Senin, 14 August 2017 07:08 WIB Penulis: P-5

Pakar komunikasi, Emrus Sihombing -- MI/Arya Manggala

Kenapa fenomena ini terjadi?
Saya melihat dari sudut pandang komunikasi bahwa ada faktor tidak adanya kedewasaan politik. Tapi saya terus terang mengatakan tidak semua seperti ini, karena tetap ada tokoh politik yang baik, yang negarawan. Hal ini bisa dipicu oleh elite politiknya yang juga kurang memberi contoh. Karena, elite politik yang sudah baik pun di bawahnya akan tetap ada yang berprilaku tidak baik, apalagi jika tidak bisa memberi contoh yang baik.

Apa yang menyebabkan politisi tidak memiliki kedewasaan politik?
Sebab mereka sesungguhnya berlatar belakang semata politisi yang kemudian hanya berorientasi kekuasaan. Mereka belum bisa berorientasi menjadi negarawan. Kemudian mereka lebih cenderung memberikan pernyataan tanpa basis data.

Siapakah yang bisa jadi contoh dan teladan apa yang bisa dipetik?
Pak Habibie cukup jadi contoh yang baik. Lepas jadi Presiden dia melepas seluruh jabatannya di partai dan sepenuhnya menjadi negarawan kalau bisa dibilang, ia juga bapak bangsa. Contohnya saat Pilkada DKI, ia menerima semua calon gubernur dan calon wakil gubernur, memberi wejangan yang sama dan berpesan kepada semua pihak untuk menjaga kedamaian, ia menengahkan isu politik.

Apa yang harusnya dilakukan partai agar tidak terulang kembali?
Ketua partainya berlakukan komunikasi yang elegan, karena ketuanya bagus saja masih ada yang menyimpang. Kadernya harus melihat teladan dalam hal pengelolaan emosi, spiritual, berpartai untuk negara bukan hanya jabatan.

Seperti apakah komunikasi yang ideal itu?
Idealnya komunikasinya jadi pendidikan dan proses penyampaian pembangunan budaya politik. Budaya politik kita adalah Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Di partai politik belum ada melakukan pendidikan komunikasi politik dengan maksimal. Proses internalnya belum berjalan dengan baik. Pemilihan kader masih berpatokan pada yang populer, dekat pendiri dan alasan elitis lainnya.

Perlukan dibuat aturan?
Buat aturan. Kalau ada politikus yang berkomunikasi tidak dewasa dan tidak matang, melakukan kesalahan, dan hal tersebut bersifat fatal, ditunda pencalonan legislatif atau eksekutif-nya. (P-5)

Komentar