MI Anak

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Banten

Ahad, 20 August 2017 04:01 WIB Penulis: Suryani Wandari/M-1

MI/Seno

PAPAN dari kayu yang disusun yang dikenal sebagai ponton itu mengambang di permukaan laut, tiang yang berada di depannya pun menjulang hingga 8 meter lebih dari permukaan laut.

Saat lagu Indonesia Raya dilantunkan peserta upacara yang berada di ponton, sang Merah Putih pun perlahan naik hingga ke permukaan laut. Bahkan, bendera itu berhasil mencapai puncak pas dengan lagunya lo.

Ya, mungkin sobat Medi sering mendengar pembentangan bendera Merah Putih di bawah laut, kan? Tapi kali ini berbeda sobat, para siswa yang tergabung dalam Pramuka Satuan Karya Bahari Kwarda Banten bersama TNI-AL berhasil mengibarkan bendera Merah Putih ke permukaan laut, Kamis (17/8) di area Beach Club, Tanjung Lesung, Banten.

"Sebanyak 17 orang yang melakukan pengibaran itu semua berasal anggota Pramuka mulai tingkatan penggalang hingga penegak yang berada di Provinsi Banten. Mereka dilatih tentang teknik-teknik penyelaman yang baik lalu dilanjutkan teknik upacara dan pengibaran bendera melalui metode kode," kata Kak Miftahul Rachmat, pembina Pramuka Saka Bahari. Keren, kan, sobat. Yuk, cari tahu cerita di balik perjuangan mereka!

Kemerdekaan Indonesia

Tanggal 17 Agustus memang diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia. Perjuangan para pahlawan melawan penjajah menjadi bukti Indonesia bisa bangkit dari 350 tahun jajahan Belanda, dan 3,5 tahun dari Jepang.

Setelah perumusan naskah, teks proklamasi pun diketik Sajuti Melik dan ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta. Pembacaan teks proklamasi oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, itu pun dilakukan di kediaman Soekarno, Jl Pegangsaan Timur, Jakarta, yang dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih, 17 Agustus 1945. Hingga saat ini pengibaran bendera menjadi agenda wajib setiap 17 Agustus di seluruh Indonesia. Selain di Istana Negara, ada pula tempat menarik lainnya untuk mengibarkan bendera seperti di puncak gunung bahkan di bawah laut seperti dilakukan beberapa siswa Pramuka di Banten ini.

Pakai kode

Upacara dimulai pukul 09.00 WIB dan dipimpin Kwartir Daerah Banten, Kak Cepi Safrul Alam. Dari 60 total peserta yang mengikuti upacara, 17 di antaranya siswa yang bertugas mengibarkan bendera di bawah laut, sementara lainnya menjadi peserta di ponton.

Selama mengibarkan bendera itu, pengibar atau penyelam tidak mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan para peserta upacara. Untuk terhubung dengan pembina upacara yang berada di ponton, tentunya mereka harus mengetahui apa yang dilakukan keduanya. Untuk itu ada penyelam yang khusus memberikan kode ke atas permukaan laut.

"Menarik tali yang terhubung dengan balon berada di atas permukaan laut sekali untuk siap, tarik dua kali untuk membentangkan dan seterusnya hingga pengibaran bendera yang diiringi lagu Indonesia Raya," kata Pak Heru, pelatih selam.

Belajar berenang dan menyelam

Mengibarkan bendera di bawah laut menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa ini. Ya, mereka punya tugas lebih daripada pengibaran di darat. Selain mengibarkan bendera, mereka harus mahir menyelam di kedalaman 12 meter.

"Awalnya saya sama sekali enggak bisa renang. Tapi demi cita-cita menjadi TNI-AL dan peringatan kemerdekaan Indonesia, saya belajar keras untuk bisa berenang dan menyelam," kata Fajar Fiqi yang masih duduk kelas 5 SD.

Fiqi mempunyai tugas yang cukup berisiko, pasalnya ia harus masuk ke dasar laut dengan kedalaman 12 meter untuk mengerek bendera hingga mencapai permukaan laut. Bukan hanya Fiqi, Meri siswa SMK N 4 Pelayaran Banten pun punya cerita yang sama. Ia senang bisa mengibarkan bendera kebanggaannya apalagi dengan cara yang unik dan berbeda.

"Yang saya pikirkan di dalam laut itu hanya pasrah, yang penting kami sudah melakukan yang terbaik semaksimal yang kami bisa," kata Meri yang ditemui usai geladi bersih sehari sebelumnya.

Meri pun yakin ia bersama rekannya bisa mengibarkan bendera dengan baik karena telah berlatih intens 1,5 bulan secara bertahap, yakni belajar renang, menyelam dalam 2 meter, 4 meter, hingga 12 meter lo.

Bukan hanya harus bisa menyelam, keadaan di bawah laut menjadi tantangan lainnya nih sobat. Sewaktu-waktu mereka bisa saja terbawa arus bawah air. "Kami tidak bisa berdiri tegak, di bawah laut kami harus duduk bersimpuh sambil berangkul tangan agar tidak terbawa arus," kata Muhammad Wongki Alfin, siswa MA Hidayatul Muhtadin.

Belajar disiplin

Sejak berlatih intens 1,5 bulan, mereka harus pula melakukan rangkaian kegiatan seperti medical check up dan karantina dari 6 Agustus lalu. Karantina itu dilakukan dengan menginap di bawah tenda di area Beach Club.

Dalam karantina itu pula mereka harus belajar disiplin dan mandiri mulai bangun pagi, sarapan, hingga latihan. Bahkan peralatan yang mereka gunakan untuk menyelam pun harus dirawat dengan baik.

"Kami diberi tanggung jawab untuk merawatnya. Kami harus segera membersihkannya setelah latihan karena air laut bisa merusak alat," kata Adrian Karnova, SMK 1 Kragilan Banten. Bahkan, mereka harus bisa mengisi gas oksigen ke tabung yang mereka gunakan dan memastikan alat yang akan mereka gunakan bisa berfungsi saat pelaksanaannya. Dengan latihan keras, akhirnya mereka mampu mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan baik, bahkan bisa pas dengan lagunya loh sobat. Kamu punya cerita dalam peringatan kemerdekaan juga sobat?

Komentar