Khazanah

Panji, Kisah Cinta untuk Dunia

Ahad, 20 August 2017 09:56 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Grafis/Ebet

CINTA memang tak ada habisnya. Cerita tentangnya tak pernah usang dikisah ulang. Tema itu selalu bisa dihadirkan. Bukan hanya itu, kisah lekat hidup manusia pun seolah melintas batas ruang dan waktu. Di mana pun dan kapan pun, cerita itu selalu menjadi hal menarik. Semacam kisah Romeo dan Juliet, Shah Jahan dan Arjumand Bann Begum, dan Laila Majnun.

Ternyata cerita cinta juga dipunyai khazanah Nusantara dengan kisah tentang Panji. Bahkan kisah ini telah menyebar ke Asia Tenggara dan Eropa.

Cerita Panji dimulai di abad ke-13 atau pada masa awal Kerajaan Majapahit. Panji merupakan kisah tradisional Jawa Timur yang berasal dari abad ke-13 yang kemudian menyebar ke beberapa wilayah dan negara lain. Sejalan dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan ke-15, Panji juga ikut tumbuh sehingga menyeberang ke Bali, Lombok, Kali­mantan, dan ikut dibawa ke Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.

Cerita itu melibatkan kisah percintaan antara Pangeran dari Daha dan Putri dari Kediri. Yang laki-laki Inu Kertapati dan yang perempuan Dewi Sekartaji dari Kediri. Percintaan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji tidak disetujui orangtua. Akibatnya mereka berkelana, berperang, menyamar, tapi pada akhirnya bertemu kembali.

Kisah Panji yang begitu besar itu dihadirkan dalam salah satu rangkaian dari Festival dan Seminar Budaya Panji yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI 4–6 Agustus 2017. Festival itu menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi lintas budaya serta mementaskan sejumlah pertunjukan seni dan pameran karya sastra, naskah kuno, dan kreasi seni rupa.

Prof Roger Tol dari Universitas Leiden Belanda menjadi salah satu dalam seminar itu. Roger membeberkan beberapa manuskrip yang berusia ratusan tahun. Manuskrip pertama tentang Panji diketahui milik Isaac de St Martin (1696). Ia militer dan kolektor.

Kisah Panji juga disebutkan ensiklopedia tulisan Francois Valentyn (1724-1726). Masih menurut Roger Tol, penelitian Panji pernah dilakukan WH Rassers (1877-1973) dalam disertasinya De Pandji-Roman. Poerbatjaraka juga pernah menulis cerita Panji. Bahkan, pada 1968 terbit terjemahan karya Poerbatjaraka, Cerita Panji dalam Perbandingan. Peneliti lain Panji ialah Adrian Vickers, S Robson, dan Lydia Kieven.

Isaak de St Martin mengoleksi banyak buku Arab, Persia, Melayu Jawa, dan Makassar. Salah satunya terdapat roman Jawa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, berjudul Tsiarang Kolijna atau Hikayat Carang Kulina (salah satu nama Candra Kirana).

Sementara itu, Francois Valentyn (1724-1726) mempunyai ensiklopedia yang terdiri atas 5 jilid besar. Dalam jilid 3 ada bagian tentang Ambonsche Zaaken (Hal-ihwal Ambon). Dalam manuskrip Melayu berhuruf Arab milik Valentyn beberapa di antaranya terdapat Hikayat Misa Gumitar yang bercerita tentang sejarah Jawa dan Corripan/Kuripan yang berisi tentang hal ihwal beberapa pangeran dan putri jawa.

Veritas mitos Jawa
TS Raffles dalam History of Java (1817) menyebut bahwa Panji menjadi tokoh termasyhur dalam cerita Jawa. Petualangan Panji telah dimuat dalam banyak cerita yang merupakan bagian penting dari sastra halus dan juga seni rakyat di Jawa. WH Rassers (1877-1973) menyebut cerita Panji sangat orisinal dan punya pendekatan baru. Ia juga menganggap cerita Panji sebagai cerita mitos Jawa.

Terdapat banyak manuskrip cerita Panji yang tersebar. Satu naskah tersimpan di Perpustakaan Nasional Kamboja, 76 naskah di Perpustakaan Nasional RI, 5 naskah di Perpustakaan Negara Malaysia, dan 250 naskah di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda. Diperkirakan di seluruh Indonesia ada ratusan naskah Panji.

Naskah Panji yang paling unik tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Naskah tersebut mempunyai ilustrasi. Hal itu merupakan sesuatu yang langka dalam penulisan naskah Panji. Naskah itu ditulis dengan huruf Jawa di atas kertas Eropa.

Sebagian besar naskah-naskah Panji Jawa koleksi Perpusnas menggunakan alas tulis kertas Eropa dan hanya sebagian kecil menggunakan alas tulis kertas tela. Di samping itu hanya sedikit naskah yang menyebut nama penulis dan penyalin serta tempat penulisannya.

Kisah Panji yang telah ditemukan punya banyak variasi dalam jenis manuskrip seperti daun lontar, daluang (kulit kayu yang ditum­buk), mayoritas manuskrip menggunakan kertas Eropa. Naskah Panji paling sedikit ditulis dalam 10 bahasa; Kawi-Bali, Jawa, Bali, Melayu, Sasak, Sunda, Aceh, Bugis, Thai, dan Khmer. Di Thailand Panji terkenal sebagai Inao, dan di Kamboja sebagai Eynao.

“Naskah-naskah itu berbahan daun lontar, daluwang, dan kertas Eropa. Paling sedikit ditulis dalam sepuluh bahasa seperti Kawi, Bali, Melayu, dan Kamboja,” ucap Roger Tol.

Manuskrip yang tersimpan di Universitas Leiden Belanda ditulis di atas lontar pada 1725 yang merupakan manuskrip tertua. Ditulis dengan bahasa Kawi-Bali dengan aksara Bali.

Menurut Roger, setiap penulis mengikuti fantasinya sekaligus mempergunakan bahasa dan adat istiadat lokal.

Perpustakaan Nasional bersama dengan Malaysia, Kamboja, British Library, dan Leiden Universiteit telah mendaftarkan naskah Panji sebagai Ingatan Kolektif Dunia untuk kategori naskah kuno atau memory of the world di UNESCO yang hasilnya akan diketahui Oktober 2017 mendatang. (M-2)

Komentar