MI Anak

Wajah Indonesia dalam Lukisan Koleksi Istana

Ahad, 27 August 2017 04:01 WIB Penulis: Suryani Wandari/M-1

MI/Seno

Pulasan cat air itu menempel di kanvas-kanvas berukuran besar. Berbagai warna dibuat bergradasi dengan pemilihan warna dan teknik tertentu hingga menciptakan gambar yang indah.

Lukisan tersebut diberi pigura dan ditempelkan di dinding. Tak hanya Medi, semua pengunjung Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (24/8) pun menikmati suguhan lukisan yang jarang kita lihat.

Ya, lukisan-lukisan ini karya seni koleksi Istana Kepresidenan yang selama ini menghiasi istana, dan dipamerkan Kementerian Sekretaris Negara. Pameran lukisan ini pun turut dibuka pula oleh Pak Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia, Selasa, (1/8).

Bertajuk Senandung Ibu Pertiwi, pameran ini dapat dimaknai sebagai Tanah Air, tempat kita dilahirkan dan berkarya bersama-sama. Ibu Pertiwi menjadi gambar bijak bestari yang dihidupkan sebagai sosok imajinasi yang penuh kasih, penjaga, dan pelindung bagi semua.

48 lukisan dari 41 pelukis

Sobat, karya seni rupa ini mengingatkan kita terhadap karya para seniman berkualitas tinggi masa lalu lo. Ini menjadi salah satu tujuan diadakannya pameran ini.

Selain itu, menunjukkan karya-karya unggulan seniman kita kepada komunitas internasional dan wujud komitmen Kementerian Sekretariat Negara dalam pemeliharaan karya-karya seni unggulan dari masa lalu, yang menjadi koleksi di Istana Kepresidenan.

Pameran yang dilaksanakan sepanjang Agustus 2017 ini pun menampilkan lebih banyak lukisan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Ada 48 lukisan dari 41 penulis yang dibuat antara abad 19 dan 20.

"Lukisan-lukisan yang dipamerkan itu telah dipilih empat kurator seni terkemuka setelah melalui seleksi cermat dan teliti. Diharapkan, lukisan-lukisan itu sanggup menyajikan karya seni terbaik yang berpadu dengan kekayaan makna di dalamnya," kata Pak Pratikno, Menteri Sekretaris Negara, dalam sambutan dalam bukunya.

Alam, mitologi, dan religi

Sebanyak 48 lukisan itu terdiri atas 12 lukisan keragaman alam yang merupakan bagian dari daya tarik Kepulauan Nusantara yang saat ini menjadi keunggulan wisata dunia, seperti lukisan berjudul Pantai Flores, karya Basoeki Abdullah pada 1942 dan Pemandangan di Sulawesi oleh Henk Ngantung pada 1954.

Karya ini sebagai penanda pada masa itu para pelukis sudah menjelajah ke berbagai pelosok dan merekam pemandangan alam, misalnya, nyiur di pinggir pantai, ombak yang bergulung, pepohonan rindang, gunung yang tinggi, dan sawah yang luas dengan padi yang menguning.

Ada pula 11 lukisan menggambarkan dinamika keseharian, misalnya, dari kalangan petani, nelayan, dan para pegagang. Pemandangan itu umum pada masanya, tapi masih berjejak hingga kini lo sobat.

Selain itu, terdapat lima lukisan dengan tema tradisi dan identitas. Di sini ditampilkan lukisan perempuan berkebaya seperti lukisan berjudul Potret Sumilah oleh Soedibio, Wanita Berkebaya Hijau oleh Thamdijin dan Tiyul oleh Sudarso. Koleksi perempuan berkebaya ini menunjukkan kebaya menjadi tradisi dan identitas berbusana di Indonesia.

Satu lagi sobat, lukisan yang tak kalah dikagumi pengunjung ialah yang bertema mitologi dan religi. Ya, masyarakat Indonesia kaya dengan nilai-nilai mitologi yang berasal dari perpaduan agama-agama besar, yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha serta cerita kerajaan-kerajaan besar yang tumbuh di Jawa dan pulau lainnya. Ada pula yang menggambarkan mitologi, seperti Nyai Roro Kidul.

Aneka kegiatan

Selain lukisan koleksi Istana Kepresidenan, ada pula kegiatan lain yang tak kalah seru lo sobat, seperti lomba lukis kolektif tingkat nasional pada 26 agustus, work shop menjadi apresiator seni terhebat se-Jabodetabek pada 29 agustus, dan tur galeri setiap Sabtu dan Minggu pukul 10.00.

Yuk catat tanggalnya dan nikmati lukisan indah sebagai media belajar. Kapan lagi melihat masa lalu lewat lukisan indah para pelukis ternama Indonesia, apalagi lukisan itu berada di Istana Negara.

Komentar