WAWANCARA

Ahmad Dumyathi - Teknologi Aplikasi Mudahkan Kontrol Petugas Haji

Ahad, 27 August 2017 08:28 WIB Penulis: Siswantini Suryandari

Ahmad Dumyathi -- MI/Siswantini Suryandari

SEBAGAI bagian dari mata rantai upaya untuk mendekatkan jemaah kepada para petugas dan untuk mengumpulkan pengaduan, pemanfaatan teknologi seperti SMS center, Whatsapp Center, dan call kini terus digalakkan.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyathi melakukan terobosan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti aplikasi gadget, yang bisa membantu tugas para petugas haji Indonesia selama berada di Arab Saudi.

Dengan adanya jalinan komunikasi ini, ia berharap call center dan Whatsapp/SMS center bisa segera dipahami jemaah haji dan keluarga serta dimanfaatkan mereka sebagai sarana menyampaikan aduan, saran, dan masukan. Berikut petikan wawancara dengan Media Indonesia, Minggu (13/8):

Bagaimana seputar pelaksanaan penyelenggaraan haji tahun ini?
Alhamdulillah sejauh ini penyelenggaraan haji tahun ini berjalan lancar. Baik dari penerbitan visa, penempatan jemaah di Madinah yang sema prosesnya sangat sulit sekali dan melelahkan, dapat diurai dan diselesaikan dengan baik. Ini berkat kerja sama semua pihak secara kolektif bak seluruh unsur PPIH dari unsur Kementerian Agama, TNI/Polri, Kementerian Kesehatan, Kemenkum dan HAM, Kementerian Perhubungan, maupun dari pihak Arab Saudi dari Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan seluruh masyarakat Arab Saudi di bawah kepemimpinan Khadimul Haramain al Syarifain Raja Salman bin Abdul Aziz.

Apa kendala yang ada selama ini?
Hambatan-hambatan kecil di lapang­an itu hal biasa tidak kita nafikan keberadaannya. Maklum dinamika haji ini sangat tinggi, tapi kesigapan semua pihak untuk melayani para tamu Allah di waktu yang sama, di tempat yang sama dapat diselesaikan secara cepat. Dengan koordinasi, komunikasi, dan kerja sama yang baik bertujuan membina, melayani dan melindungi jemaah haji kita sehingga tidak ada hambatan yang berarti ditemui di lapangan.
Dengan media komunikasi modern seperti Whatsapp dan media lain seperti telepon dan alat komunikasi bravo sangat membantu proses penyelesaian masalah yang ada di lapangan. Baik itu dari sisi akomodasi, transportasi, dan katering.

Untuk mengantisipasi agar tidak ada tragedi seperti tahun-tahun sebelumnya?
Tantangan tahun ini tentu kita perlu selalu waspada dengan hal-hal eksternal yang bersifat perlindungan kepada jemaah Indonesia. Arab Saudi sangat peduli dengan jumlah jemaah haji yang demikian besar. Tahun ini kuota haji seluruh dunia kembali normal. Ditambah dengan kuota bagi sebagian negara termasuk Indonesia yang bergerak secara bersamaan menuju titik yang sama.
Ini selalu berpotensi menimbulkan kerawanan. Oleh karena itu, Arab Saudi telah mempersiapkan aspek perlindungan dan keamanan jemaah dari manajemen kerumunan manusia. Istilahnya idarat alhusyud. Pihak perwakilan Indonesia baik KBRI Riyadh maupun KJRI Jeddah bekerja sama secara aktif dan intensif dengan pihak aparat keamanan Arab Saudi agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Demikian juga dengan PPIH harus mengantisipasi terkait kerawanan-kerawanan yang mungkin terjadi, termasuk meletakkan contingency plan saat diperlukan.

Bagaimana dengan pendisiplinan jemaah menaati waktu lempar jumrah?
Kita telah berkoordinasi dengan muasasah terkait hal ini. Disampaikan bahwa Saudi sangat ketat dalam hal ini, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Muasasah telah memberikan waktu melontar jumrah dan waktu-waktu terlarang guna menghindari bahaya. Bahkan muasasah terpaksa harus mengunci gerbang bila jemaah mendesak keluar di luar jadwal yang sudah ditentukan.

Jumlah petugas haji tidak banyak jika dibandingkan dengan jumlah jemaah. Bagaimana pelaksanaan di lapangan?
Memang pada tahun ini ada perubahan mendasar pada aspek tata kelola SDM. Para petugas dan perangkat kloter dilibatkan penuh. Ini sudah ditegaskan pimpinan di Jakarta, yaitu empowering para ketua regu, ketua rombongan, dan ketua kloter. Alhamdulillah sejauh ini to some extent berjalan dengan baik. Terlihat perubahan terjadi pada kesigapan kerja dan keterlibatan mereka di lapang­an. Namun hal ini memerlukan mekanisme kontrol yang baik, dengan jumlah tenaga yang banyak. Sebaran wilayah yang lebar dan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada diakui masih ada kekurangan dan kelemahan.
Tantangannya bagaimana kita dapat memastikan semuanya berjalan sesuai dengan perencanaan. Untuk itu salah satu inisiatif yang dilakukan PPIH pada tahun ini ialah aplikasi Siskoppih yaitu aplikasi tracking petugas yang bisa diunduh di Playstore sebagai media percepatan penyelesaian masalah atau pengaduan jemaah kepada markas PPIH di Jeddah.
Awalnya aplikasi ini sebagai pilot project karena untuk tim pendukung PPIH (istilah untuk tenaga musiman). Namun, karena efektivitas yang ditemukan di lapangan, sekarang ini pemasangannya diperluas bagi sebagian petugas PPIH dari Jakarta. Aplikasi ini bekerja dengan memanfaatkan pengaduan jemaah yang diterima lewat SMS, Whatsapp, call center, dari Mabes PPIH di Jeddah (Kanor Urusan Haji KJRI Jeddah).

Bagaimana menindaklanjuti mekanisme pengaduan tersebut?
Semua pengaduan dikonfirmasi dan didata, dan ditindaklanjuti dengan monitoring sebaran petugas di lapangan. Dari layar tampak siapa petugas paling dekat wilayahnya dengan jemaah yang dilaporkan hilang, sakit dan sebagainya. Ketika petugas terdekat terdeteksi di monitor lengkap dengan nomor Whatsapp dan telepon, segera dikontak dan diperintahkan untuk membantu jemaah yang sedang kesulitan.
Petugas pun diminta melaporkan apabila sudah menunaikan kewajiban. Pelapor (jemaah) pun akan dimintai konfirmasi bila sudah ditangani petugas. Semua ini dicatat di mabes, sebagai bagian dari laporan penanganan pengaduan, termasuk para petugas yang online maupun offline terekam sebagai bentuk akuntabilitas publik.
Memang aplikasi ini akan terus dikembangkan sehingga semakin user friendly dan tidak tertutup kemungkinan dapat diakses jemaah yang familier dengan gadget sehingga dapat mendeteksi para petugas terdekat mereka untuk meminta bantuan dan jemaah dapat dilayani lebih baik lagi. Tantangan aplikasi ini ialah belum tersosialisasi secara baik. Dari Jakarta masih banyak yang belum menginstal dan mengaktifkannya hingga hari ini. Semoga ini akan menjadi kewajiban setiap petugas PPIH ke depan, termasuk perangkat petugas yang melekat di kloter.

Lalu, bagaimana antisipasi pihak PPIH untuk penanganan masalah wabah kolera?
Soal kolera sejauh ini sudah diantisipasi tim kesehatan PPIH dengan melakukan sosialisasi kepada jemaah agar hati-hati mengonsumsi makanan. Pihak Saudi sangat baik menangani masalah kesehatan dan telah melakukan banyak hal untuk menghindari wabah penyakit yang sedang merebak di Yaman. Kita berdoa semoga Allah melindungi para tamu-Nya, agar dijauhkan dari seluruh mara bahaya dan kembali ke Tanah Air dengan selamat dan membawa haji mabrur. (M-2)

Komentar