WAWANCARA

Menjaga Pluralisme Kota Madinah

Ahad, 27 August 2017 08:28 WIB Penulis: Nda/M-2

Suasana di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, yang sebelumnya dipenuhi para jemaah haji, sejak Minggu (20/8) berangsur sepi karena sebagian besar jemaah sudah menuju Mekah. -- MI/Siswantini Suryandari

JUTAAN orang memadati Masjid Nabawi di Kota Madinah setiap hari. Apalagi saat musim haji seperti sekarang ini, jemaah dari berbagai negara datang ke masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW tersebut. Berbagai ras, suku, bangsa berkumpul di masjid yang megah itu untuk melakukan salat dan bermunajat.

Selawat tidak putus-putusnya dilantunkan para jemaah sebagai bentuk ucapan salam dan doa untuk Rasulullah SAW beserta keluarganya.

Madinah yang didirikan Rasulullah SAW ini merupakan kota yang memiliki kehidupan masyarakat pluralis. Islam pun telah mengenal sistem kehidupan masyarakat pluralis sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Kota Yatsrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah.

Nabi Muhammad SAW mulai meletakkan dasar kehidupan yang kukuh bagi pembentukan masyarakat baru. Masyarakat baru ini merupakan masyarakat majemuk, yang berasal dari tiga golongan penduduk, yakni kaum muslim yang terdiri atas kaum Muhajirin dan Anshar yang merupakan kelompok mayoritas. Kemudian kaum musyrik yaitu orang-orang berasal dari suku Aus dan Khazraj yang belum masuk Islam.

Menurut Ketua Dewan Riset Islam Universitas Taibah Madinah, Prof Abdul Jabbar Asya’bi, kedua suku ini berasal dari Yaman. Ketiga, kaum Yahudi yang berasal dari tiga kelompok. Satu kelompok tinggal di Kota Madinah, yakni Bani Qainuqa, dan dua kelompok lainnya tinggal di luar kota Madinah, yakni Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.

Setelah dua tahun berhijrah, Rasulullah SAW mengeluarkan peraturan dalam hubungan antarkelomok masyarakat yang hidup di Madinah.

Pengumuman yang dikenal dengan Piagam Madinah berisi peraturan sistem politik dan sosial masyarakat Islam dengan kau musyrikin dan Yahudi. Para sejarawan setempat menyebut Piagam Madinah sebagai Konstitusi Madinah.

Membaur tanpa sekat
Keterbukaan masyarakat Madinah pun tecermin di Masjid Nabawi, salah satunya. Masjid yang dibangun Nabi Muhammad ini tidak hanya menampung masyarakat Arab. Jutaan orang muslim dari berbagai strata sosial, ekonomi, pendidikan, warna kulit, dan bahasa membaur tanpa ada sekat.

Di Masjid Nabawi, tidak hanya ulama Arab yang boleh berceramah. Ulama-ulama dari berbagai negara pun diizinkan untuk berceramah di depan para jemaah, termasuk ulama dari Indonesia pun memiliki panggung untuk berceramah dengan bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.

Seperti dilakukan Ustaz Abdullah Roy yang rutin mengisi ceramah di Masjid Nabawi. “Kalau pas musim haji, saya berceramah dengan tema seputar haji seperti manasik haji,” kata Abdullah.

Kegiatan ceramah di Masjid Nabawi sudah berlangsung sejak 2013. Selain Abdullah Roy, ada Ustaz Firanda Andirja dan Ustaz Anas. Para penceramah ini lulusan S-3 Universitas Islam Madinah.

Tidak hanya suara Indonesia terwa­kili di Masjid Nabawi ini. Belakangan ini muslim dari Tiongkok mulai mewarnai wajah Masjid Nabawi. Kaum muslim Tiongkok juga cukup aktif melakukan pengajian di pojok barat laut Masjid Nabawi. “Ustaznya asli warga Tiongkok, memberikan ceramah dengan bahasa Tiongkok dan sesekali bahasa Arab. Ini perkembangan positif,” kata Rektor IAIN Raden Intan Lampung Prof Moh Mukri terharu.

Muruah Kota Madinah sebagai kota pluraris masih terjaga hingga sekarang. Mempersatukan umat dengan beragam kultur bisa berjalan harmonis di Madinah Al Munawarah ini. (Nda/M-2)

Komentar