PIGURA

Holopis Kuntul Baris

Ahad, 27 August 2017 10:49 WIB Penulis: Ono Sarwono

DALANG Ki Manteb Soedharsono merasa tertantang ketika diminta membawakan lakon Tripama di halaman Polres Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (19/8) lalu. Ini memang tidak gampang karena lakon itu mengisahkan tiga kesatria yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Dengan kata lain, tiga cerita berbeda dalam satu pementasan.

Pergelaran ini dihelat selain untuk merayakan hari ulang tahun ke-72 kemerdekaan Republik Indonesia, juga sebagai ajang reuni jajaran Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Salatiga periode 1989-1997.

Pentas wayang dan reuni itu atas inisiatif mantan Kepala Bagian Operasional (KBO) atau Wakil Kasat Reskrim Polres Salatiga Brigjen Agung Setya, yang kini menjabat Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipideksus) Bareskrim Mabes Polri.

Adapun lakon Tripama tersebut merupakan ide dari Ketua umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional (PRSSNI) Rohmad Hadiwijoyo yang juga dikenal sebagai dalang wayang politik.

Mustikaning jagat
Lakon itu mengacu pada Serat Tripama karya KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881). Isi buku ini ditulis dalam bentuk tembang Dhandanggula sebanyak tujuh pada (bait). Ini mengisahkan tiga kesatria yang pantas menjadi teladan, yakni Bambang Sumantri (patih Suwanda), Kumbakarna, dan Karna (Suryaputra).

Dalam sanggitnya, Ki Manteb mengawalinya dengan dialog di antara dua saudara pamong titah di marcapada yang selama ini terpisah karena tugas masing-masing, yakni Semar dan Togog alias Tedjamantri. Keduanya berbagi pengalaman dalam melaksanakan kewajiban mereka yang sama-sama berat tapi dijalani dengan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan.

Dalam dialog itulah Semar menceritakan kiprah tiga kesatria yang berwatak berbeda tapi memiliki kualitas setara. Bambang Sumantri di era Lokapala, Kumbakarna (Ramayana), dan Karna (Mahabharata).

Cerita Semar tentang ketiga kesatria itu di-pakelir-kan satu per satu. Ketika akan mengawali kisah Bambang Sumantri, dilantunkan dulu tembang Dhandanggula bait kesatu dan kedua dari Serat Tripama. Isi pesannya tentang kisah Sumantri, putra Begawan Suwandagni dari pertapaan Argasekar, yang ngenger (mengabdi) kepada Prabu Arjunasasrabahu di Negara Maespati.

Hal sama ketika akan mengisahkan Kumbakarna. Diperdengarkan dulu tembang Dhandanggula bait ketiga dan keempat yang isinya tentang jiwa kepahlawanan adik Dasamuka dari Alengka itu. Begitu juga ketika menceritakan Karna yang tersua dalam bait kelima dan keenam.

Begitu rapi dan apiknya sanggit Ki Manteb, kisah tiga ‘mustikaning jagat’ yang rumit dan pelik itu menjadi gampang dicerna. Sumantri ialah kesatria yang patuh pada pimpinan. Kumbakarna melambangkan kesatria yang mempersembahkan jiwa raganya untuk tanah air. Karna merupakan simbol konsistensi antara hati, ucapan, dan perilaku.

Bergotong royong
Pada sisi lain, di tengah padatnya menyanggit tiga lakon sulit itu, Ki Manteb bisa ‘menyisihkan’ waktu untuk ndhudhah (menggali) ‘mutiara’ terpendam dalam sesi Limbukan. Mutiara itu berupa Lagon 45 karya Presiden Soekarno dengan aransemen musiknya oleh Ki Nartosabdo, satu-satunya dalang sekaligus komposer musik gamelan yang mendapat penghargaan Bintang Mahaputra hingga saat ini.

Tampaknya, lagu ini sengaja dimunculkan terkait dengan nuansa peringatan hari kemerdekaaan. Selain untuk mengapresiasi jiwa seni Bung Karno dalam dunia karawitan, itu guna menggelorakan semangat juang 45 bagi para generasi penerus bangsa.

Berikut syair Lagon 45:

Galo kae genderane kumlebet angawe-awe,
Abang Putih sang Dwiwarna iku lambang sejatine,
Negara kita wus merdika, kang adhedhasar Pancasila,
Dumadi kalaning tanggal pitulas Agustus sasine,
Nuju taun sewu sangangatus patang puluh lima,

Rambate rata hayu, Holopis kuntul baris,
Rambate rata hayu, Holopis kuntul baris,

Tumandang bareng maju nunggal tekad rahayu,
Merdeka... merdeka... merdeka,
Bumi klairanku,
Merdeka... merdeka... merdeka,
Wus tetep merdika.

Terjemahannya:
(Lihatlah di sana, bendera berkibar memanggil-manggil,
Merah Putih sang dwiwarna itu lambang yang sejati,
Negara kita telah merdeka, yang berdasarkan Pancasila,
Terjadi pada waktu tanggal 17 Agustus bulannya,
Tahunnya seribu sembilan ratus empat puluh lima,
Rambate rata hayu, Holopis kuntul baris,
Rambate rata hayu, Holopis kuntul baris,
(ini yel-yel semangat persatuan dan gotong royong)

Bekerja maju bersama menyatukan tekad kemakmuran,
Merdeka... merdeka... merdeka,
Negara kelahiranku,
Merdeka... merdeka... merdeka,
Sudah tetap merdeka).

Poin pentingnya memperdengarkan Lagon 45 tersebut juga konteks dengan moto perayaan HUT ke-72 kemerdekaan Indonesia saat ini, yaitu ‘Indonesia Kerja Bersama’. Ini klop dengan pesan yang tertuang dalam lagu tersebut, yaitu bersatu dan bergotong royong mengisi kemerdekaan.

Hikmahnya, sungguh luar biasa bila anak bangsa ini, terutama para elite pangembating praja (pejabat negara), bisa meneladani nilai-nilai tiga kesatria (Tripama) tersebut. Keutamaan itu kemudian dibingkai dalam semangat persatuan dan bekerja bersama-sama, bahu-membahu, bergotong royong demi mengejawantahkan cita-cita proklamasi kemerdekaan. Bergotong royong inilah sejatinya nilai hakiki dasar negara Pancasila.

Holopis kuntul baris..... Merdeka! (M-4)

Komentar