Khazanah

Peti Mati Bergorga Batak

Ahad, 27 August 2017 11:02 WIB Penulis: Januari Hutabarat

Dok. Facebook Reno Padang

JENAZAH DL Sitorus disemayamkan di rumah parsaktian miliknya yang beralamat di Parsambilan Jae Desa Sinta Dame, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir-Sumatra Utara.

Ribuan pengunjung dengan isak tangis setiap harinya mengiringi kepergian DL Sitorus dari berbagai pulau. Ucapan turut berduka pun memadat­i sepanjang Jalan Silaen (diperkirakan 5 kilometer). Ucapan duka tersebut berasal dari pemerintah, Pengusaha antarpulau bahkan mancanegara. Pejabat daerah juga turut menghadiri serta menyapa keluarga yang ditinggal pergi.

DL Sitorus dikenal sebagai tokoh yang memiliki jiwa sosial tinggi serta menjunjung tinggi kebinekaan. Terbukti semasa hidupnya ia mempekerjakan staf/ karyawan juga buruh di perusahaan miliknya.

AW Sitorus, 50, amang uda (kerabat satu kakek dengan DL Sitorus), Jumat (11/8) mengatakan, DL Sitorus sudah memesan pokok nangka untuk peti mayatnya di kala dirinya meninggal dunia sejak empat tahun lalu.

Pohon nangka memiliki makna dan sejarah yang melekat di suku Batak. Sejarah tersebut merupakan suatu sejarah yang tidak dapat diabaikan dari kepribadian DL Sitorus.

Nangka yang dikenal dengan pinasa (bahasa Batak Toba) merupakan tanaman yang tumbuh di perkampungan. Pohon nangka tersebut memiliki mutu dan kualitas tahan lama, tapi sulit dibentuk menjadi papan karena badan kayu saling mengikat jauh, berbeda dengan pohon lainya.

Dalam pemahaman almarhum semasa hidupnya, nangka memiliki buah yang manis serta kerap digunakan sebagai campuran daging suatu pesta. Nangka mampu menjawab kebutuhan orang banyak serta berbuah manis.

Pencarian pohon nangka tersebut diperintahkan DL Sitorus kepada haha-anggi martinodohon (bahasa Batak) artinya adik menurut urutan marga.

Tuan Naser Sirait, haha-anggi DL Sitorus, Jumat (11/8), mengaku diperintahkan DL Sitorus mencari pohon nangka atau bonani pinasa (bahasa Batak), sekitar empat tahun lalu.

Penjelajahan pun dilakukan hingga satu tahun lamanya. Pohon nangka yang dipesan baru ditemukan di Jalan Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara.

Berburu pohon nangka
Pohon nangka tersebut tumbuh tepat di perbatasan perkampungan yang memiliki usia sangat tua. Konon pohon itu tumbuh sejak kampung tersebut berdiri.
Pohon nangka yang ditemukan cukup besar serta memiliki ukuran keliling lingkaran 400 Cm (empat meter). Setelah pohon ditemukan, Tuan Naser Sirait melaporkannya kepada DL Sitorus.

Laporan tersebut mendapatkan respons dari DL Sitorus. Selanjutnya lobi harga pun dimulai dan Tuan Naser pun membayarnya sebesar Rp50 juta kepada pemilik nangka itu.

Pohon nangka tersebut dipotong sesuai dengan ukuran dan selanjutnya dibawa ke Lampung lewat jalan darat dengan truk khusus milik DL Sitorus.

Saat pengerjaan dilakukan, pinasa tersebut pecah sehingga tidak layak pakai sesuai pesanan DL Sitorus sehingga dilakukan pencarian kembali.Pohon pinasa kembali ditemukan di kampung dengan ukuran yang cukup, diperkirakan memiliki keliling lingkaran 200 Cm.

Pengerjaan peti mayat milik DL Sitorus diselesaikan di Lampung selama tiga bulan. Peti mayat itu tidak disentuh paku karena pengerjaannya dilakukan dengan cara dikeruk.

Penutup peti dan lobang peti tempat jenazah semua dikorek dan kayu yang dijadikan satu badan atau tidak bersambung. Tuan Naser Sirait selanjutnya memanggil Bagian Panjaitan, yang diketahui mahir dalam pembuatan peti mayat yang kerap disebut dalam bahasa Batak Abal-Abal.

Bagian Panjaitan menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk mengerjakan abal-abal atau peti mayat pesanan DL Sitorus, dengan imbalan Jasa Rp150 juta hingga selesai.

Setelah selesai dikerjakan, peti mayat tersebut disimpan, setelah DL Sitorus meninggal dunia peti atau abal-abal dibawa ke Jakarta lewat pesawat.

Gorga Batak
Dari Jakarta, jenazah DL Sitorus dibawa ke kampung halaman menggunakan peti mayat yang sudah tersedia lewat pesawat.

Seluruh bagian peti diukir dengan gorga Batak. Keseluruhan gorga tersebut memiliki makna tersendiri. Bagian Panjaitan, Jumat (12/8), mengatakan bagian kaki dan bagian kepala diikat dengan rotan atau roppu, sedangkan bagian pembatas kepala diberi gorga singa.

Ikatan roppu dilakukan setelah jenazah dimasukkan ke peti. Karena peti tidak dapat dipaku, peti akan diikat dengan rotan dan tidak boleh dibuka kembali.

Gorga singa memiliki makna raja dan laki-laki. Gorga singa tersebut pantas untuk DL Sitorus, dengan alasan pada 2015 DL, Sitorus dikukuhkan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir, sebagai Raja Ma­ngatur Dua, ketika itu masa pemerintahan Bupati Kasmin Pandapotan Simanjuntak.

Pesta adat yang dilaksanakan untuk DL Sitorus disebut dengan pesta saur matua sebab sudah memiliki cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan, dengan jumlah keturunan sebanyak 17 orang.

Menurutnya, tidak semua raja atau pesta saur matua menggunakan peti dari kayu pokok nangka karena keterbatasan ekonomi dan pokok nangka sulit ditemukan.

“DL Sitorus layak dan pantas memiliki peti tersebut. Selain kemampuan ekonomi, juga telah membuka lowongan kerja bagi ribuan orang, memiliki sumbangsih pemikiran dan materi bagi pembangunan serta menyekolahkan anak yang tidak mampu hingga ke perguruan tinggi,” ujarnya mengakhiri.(M-2)

Komentar