Polemik

Doa belum Steril Kepentingan Politik

Senin, 28 August 2017 07:42 WIB Penulis: Astri Novaria

Grafis/Caksono

DUA tahun berturut-turut doa yang disampaikan dalam forum Sidang Tahunan MPR menuai kontroversi. Setelah politikus Gerindra M Syafii pada 16 Agustus 2016, doa yang disampaikan politikus PKS Tifatul Sembiring pada 16 Agustus 2017 juga menjadi perhatian publik.

Pada 2016, saat membacakan doa penutup sidang, Syafii menyinggung sejumlah isu krusial mulai masalah outsourcing hingga soal sosok pemimpin Tanah Air. “Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat, yang memberi janji janji palsu, yang memberi harapan kosong, yang kekuasaannya bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, dan seakan-akan arogan­si kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,” ucap Syafii dalam doanya.

Tepat setahun kemudian, juga dalam forum Sidang Tahunan MPR, Tifatul dalam doanya menyinggung berbagai hal, termasuk mengenai fisik Presiden Joko Widodo dan usia Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam petikan doanya, dia meminta kepada Allah agar membuat Presiden Jokowi menjadi lebih gemuk. Dia juga menyinggung usia JK. “Berilah petunjuk kepada Presiden Bapak Joko Widodo. Gemukkanlah badan beliau karena kini terlihat makin kurus.”

Ia pun mendoakan Wapres, “Ya Allah, bimbinglah wakil presiden kami Bapak Jusuf Kalla. Meskipun usia beliau sudah tergolong tua, tapi semangat beliau masih membara.”

Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia Ade Armando menilai kalimat yang diucapkan Tifatul sangat tidak pantas dan salah tempat. Menurutnya, momentum acara resmi seperti sidang tahunan sejatinya tidak boleh dinodai dengan kalimat bernada minus meski bersifat guyon.

“Meskipun itu bercanda, ada persoalan dengan Tifatul, yaitu selama ini pencitraannya dalam kontestasi politik dia berada dalam kubu di seberang Presiden Jokowi atau kubu pengkritik,” ujar Ade di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dengan demikian, sambung dia, ujaran itu tidak bisa dipandang sebatas candaan biasa, tapi lebih tepat sebagai penghinaan. Perlu dipahami bahwa candaan dan hinaan itu merupakan dua hal berbeda yang tidak bisa dilepaskan dalam konteks politik.

“Tifatul dalam hal ini salah dua kali. Pertama, seharusnya acara resmi tidak digunakan untuk bercanda, apalagi saat berdoa. Kedua, dari konteks politik yang ada, dia seolah-olah sedang menghina Presiden. Efeknya justru bumerang bagi Tifatul dan partainya.”

Ia menyarankan kepada wakil rakyat dan pejabat publik agar memahami konteks berkomunikasi. Kapan boleh mengucapkan sesuatu dan kapan harus mengurungkan niat itu. “Intinya, perlu kehati-hatian ketika menggunakan kata, joke, dan istilah-istilah tertentu.”

Pandangan senada disampaikan pakar komunikasi politik Effendi Ghazali. Menurut dia, soal bercanda atau tidak itu menjadi relatif dari aspek keagamaan masing-masing. Namun, isi doa hendaknya lebih mengarah ke niat dan upaya bersama menyelesaikan masalah bangsa. “Jangan masuk ke soal pribadi, gemuk-kurus, tuda-muda, dan sebagainya,” kata dia.

Membantah
Tifatul membantah ada niat negatif dalam doa yang ia panjatkan tersebut. “Tidak ada (niat mengkritik). Niatnya baik. Supaya Presiden lebih sehat, lebih kuat dalam memikul beban negara ini. Doanya itu bagus semua sebetulnya. Dibaca semua, jangan dipotong. Memang saya amati (Presiden Jokowi) semakin kurus. Makanya saya doakan supaya gemuk. Boleh, kan?” jelas Tifatul.

Ia mengaku menyusun sendiri teks doa tersebut dan sudah diserahkan kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan untuk mendapatkan persetujuan. “Itu sudah dilaporkan ke Pak Ketua MPR tiga hari sebelumnya. Tidak ada tanggapan apa-apa,” jelasnya. Dia meminta maaf apabila ada kata-kata dalam doa penutup sidang tahunan itu yang kurang berkenan. (Gol/P-3)

Komentar