Polemik

Nilai Kebaikan Doa Terkikis

Senin, 28 August 2017 08:10 WIB Penulis: Pol/P-3

Muhammadiyah Amin -- MI/Arya Manggala

Bagaimana Anda menilai politisasi doa yang kembali terjadi pada Sidang Tahunan MPR?
Kejadian politisasi doa ini sebetulnya sudah tiga kali terjadi di Sidang Tahunan MPR. Kami sangat menyayangkan itu. Sebetulnya doa Tifatul itu baik, kecuali di bagian gemuk. Bahkan, kata-kata bagian itu sempat mengganggu kekhusyukan orang yang berdoa. Seharusnya tidak perlu ada hal-hal yang tidak perlu, tapi ternyata muncul. Segala upaya digemukkan. Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin juga mengkritik doa itu. Tapi kami juga tidak bisa apa-apa karena tuan rumahnya MPR. Kami tidak dilibatkan.

Agar doa di acara resmi kenegaraan seperti itu tidak terulang, apa saran dari Kemenag?
Doa yang baik, apalagi dalam sebuah forum resmi seperti itu, sebaiknya tidak ditujukan langsung kepada seseorang agar tidak dipahami berbeda oleh orang lain. Mengapa tidak berdoa bagi persatuan bangsa, kemakmuran rakyat? Saya rasa itu lebih baik.

Apakah ada standar pembuatan doa dalam kegitan resmi kenegaraan, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif?
Kalau di Kemenag, doa biasanya akan diteliti dulu secara saksama, apakah pantas atau tidak. Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) bahkan mengimbau kepada kami agar doa yang dibacakan itu lebih variatif supaya isinya tidak monoton. Doa harus sesuai dengan konteks, tema, bahkan daerahnya, agar doa itu sesuai dengan kondisi riil masyarakat.

Bisa berikan salah satu contoh doa baik?
Seperti doa yang dibawakan ketika upaca­ra pemberian tanda kehormatan di Istana Presiden pada 15 Agustus 2017. Isi doa itu diperiksa berkali-kali dan disesuaikan dengan konteks. Kepada institusi lain, kami menyarankan agar sebelum doa dibacakan dalam forum resmi, diteliti dulu isinya oleh orang yang paham agama. Ini supaya tujuan dan nilai-nilai kebaikan dari sebuah doa tidak terkikis oleh motif-motif lain.

Apakah Anda melihat ada nuansa politisasi doa pada setiap Sidang Tahunan MPR?
Kalau itu, silakan tanya ke mereka. Tapi kalau ditanya apakah doa itu pantas, saya rasa tidak pantas. Saya kenal dengan Pak Tifatul dan Romo Syaii. Mereka sebetulnya pantas memimpin doa. Tapi, ya ternyata ada kata-kata yang tidak pantas untuk disampaikan. Saya sarankan, MPR atau DPR bisa belajar dari apa yang terjadi pada Sidang Tahunan MPR sebelumnya agar tidak terulang. (Pol/P-3)

Komentar