Kesehatan

Pilih Terapi Stem Cell Harus Cermat

Rabu, 30 August 2017 04:30 WIB Penulis: (Pro/H-3)

DOK. VINSKI TOWER

TERAPI stem cell atau sel punca saat ini semakin populer dan menarik perhatian masyarakat. Namun, pemahaman masyarakat akan metode tersebut masih minim. Ditambah lagi, banyak informasi seputar sel punca yang kurang tepat. "Banyak masyarakat salah kaprah, keliru dalam memahami metode sel punca. Hal itu diperparah dengan gencarnya promosi penjualan produk dan jasa yang memanfaatkan kepopuleran stem cell untuk mengambil keuntungan pribadi," ujar dokter spesialis kardiovaskular dan neurologi dari The National Health University, California, Amerika, Prof Taruna Ikrar, dalam temu media di Vinski Tower, Cilandak, Jakarta, pekan lalu.

Ia mencontohkan, ada pihak-pihak yang menyatakan terapi itu bisa dilakukan dengan menyuntikkan sel punca yang berasal dari hewan maupun tumbuhan ke tubuh manusia. "Itu pembodohan, karena langkah itu tidak bisa dan tidak mungkin. Harus (sel punca) dari manusia ke manusia," tegas dokter asal Indonesia yang berkiprah di Amerika itu. Ia pun menjelaskan, sel punca merupakan salah satu jenis sel dalam tubuh. Sel itu istimewa karena memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai macam organ. Karena itu, sel punca bisa digunakan untuk memperbaiki berbagai jaringan tubuh yang rusak.

Dengan sifat yang demikian, sel punca sangat potensial untuk pengobatan berbagai penyakit berat, termasuk penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, diabetes, dan parkinson yang sulit disembuhkan dengan pengobatan medis konvensional.
"Misalnya untuk parkinson, selama ini obat-obatan kimiawi hanya mampu mengurangi gejala, tapi penyembuhan penyakit itu tidak terjadi. Stem cell menjadi pilihan ketika obat-obatan kimiawi tidak banyak memberikan efek perbaikan. Jadi, diobati ke inti (sumber) penyakitnya dengan stem cell," terang Taruna.

Sel punca dapat diperoleh dari embrio bayi, juga dari orang dewasa. Seperti, dari sumsum tulang, darah, dan tali pusat bayi baru lahir. Pengobatan menggunakan sel punca diawali dengan pengambilan sel punca dari diri sendiri maupun orang lain, pengembangbiakan sel punca di laboratorium khusus, serta pemberian (transplantasi) sel punca dengan dosis tertentu kepada pasien. Caranya, antara lain melalui penyuntikan ke jaringan atau organ yang rusak. "Prosesnya mencakup pratransplantasi untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Kedua, proses transplantasi. Terakhir, post-transplantasi, yakni pemantauan berjangka hingga waktu yang ditentukan dokter pada setiap pasien," jelas dokter pemegang paten metode pemetaan otak manusia itu.

Kolaborasi
Pada kesempatan itu, dokter pakar anti-aging Deby Vinski mengumumkan kolaborasinya dengan Prof Taruna Ikrar di Vinski Tower sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia sebagai pusat anti-aging. Prof Taruna dipercaya duduk sebagai Advisor & Consultant of Stemc Cell Therapy di Vinski Tower. "Vinski Tower merupakan salah satu klinik yang melakukan pelayanan Advanced Stem Cell Partikel Nano Rejuvenation and Degenerative Disease.

Bergabungnya Prof Taruna Ikrar merupakan satu tekad bersama sebagai anak bangsa untuk mengaplikasikan keahliannya demi untuk kemajuan bangsa dan negara, khususnya di bidang kedokteran," papar Deby yang saat ini menjadi President World Council of Preventive, Regenerative, and Anti-Aging Medicine itu. Dokter lulusan Dresden International University, Jerman itu berharap kolaborasi tersebut bisa menghadirkan layanan kesehatan yang bisa menyejajarkan Indonesia dengan negara maju lainnya. (Pro/H-3)

Komentar