Kesehatan

Mitos dan Fakta Seputar Daging Kambing

Jum'at, 1 September 2017 02:01 WIB Penulis: Sumber: Mulya Sari H Konsultan: Dr. Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc, Dosen Fakultas Peternakan IPB dan peneliti di CENTRAS-IPB (Center for Tropical Animal Studies).

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

BANYAK mitos yang tersebar dari daging yang lezat ini. Namun, daging yang setiap 85 gram atau 3 onsnya sajian ini mengandung 199 kalori, juga memiliki faktanya tersendiri. Agar Anda tidak ragu lagi soal mitos dan fakta seputar daging kambing, berikut ini kami rangkum informasinya.
Mitos dan Fakta Daging Kambing

Fakta: Hormon yang berpengaruh terhadap libido adalah testosteron. Daging (bukan hanya daging kambing), karena mengandung protein tinggi, bila dikonsumsi dalam jumlah tertentu, mungkin saja berpengaruh terhadap pembentukan testosteron, sehingga libido dapat meningkat. Termasuk bagian torpedo (testis), yang juga kaya protein.
Mitos: Jangan menyantap daging kambing bersamaan dengan buah durian.

Fakta: Seperti halnya alpukat, buah durian adalah jenis buah yang mengandung lemak cukup tinggi. Dalam daging kambing pun ada kandungan lemak. Jika keduanya dikonsumsi oleh orang yang punya riwayat penyakit penyempitan pembuluh darah atau jantung koroner, tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut akan makin parah. Tetapi, bila disantap oleh orang yang sehat, tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan.
Mitos: Penderita tekanan darah tinggi tidak boleh mengonsumsi daging kambing.

Fakta: Belum ada penelitian ilmiah bahwa daging kambing bisa memicu tekanan darah tinggi. Ini hanya kepercayaan masyarakat. Kalaupun memang benar, mungkin karena pengaruh mengonsumsi protein (berlaku untuk semua jenis daging) yang terlalu banyak.
Mitos: Daging kambing lebih menyehatkan daripada daging sapi.

Fakta: Daging kambing lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh daripada daging sapi. Lemak tak jenuh ini lebih bermanfaat untuk kesehatan daripada lemak jenuh. Kandungan lemak jenuh (yang cenderung meningkatkan kolesterol darah) daging kambing 8,5 kali lebih rendah daripada daging sapi.
Mitos: Bau prengus atau tidaknya daging kambing tergantung cara pemotongannya.

Fakta: Kambing yang dipotong dalam keadaan stres membuat rasa dagingnya tidak enak. Agar kambing tidak stres, jaga jangan sampai melihat darah temannya, tidak ada penyiksaan (dipukul atau ditarik-tarik), dan langsung dipotong dengan pisau yang benar-benar tajam. (MTVN/OL-8)

Komentar