Foto

Bahasa Ujian dan Kebesaran Carstensz

Sabtu, 2 September 2017 23:46 WIB Penulis: Briyan B Hendro

MI/BRIYAN B HENDRO

MUDAH adalah kata yang ­tidak kami kenal di perjalanan menuju Carstensz Pyramid di Pegunungan Sudirman, Papua. Bagai sebuah ritual untuk naik tingkat, perjalanan itu pun sarat perjuangan yang tidak jarang menjungkirkan keyakinan diri. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali, optimisme berubah jadi tanda tanya besar.

Seperti itu pula yang kami temui di hari kedua perjalanan dari basecamp utama di Bali Dump. Kegembiraan karena telah ­menyingkat waktu lima hari jika dibandingkan dengan melalui jalur desa adat berubah ketika menatap tebing setinggi lebih dari 500 meter.

Tidak ada pilihan lain, formasi yang bagai monumen alam itu adalah satu-satunya akses untuk mencapai sang puncak tertinggi.

Seusai merayap 5 jam hingga jari-jari luka dan membiru, ujian lain menghadang.

Ada punggungan dengan tiga jurang yang salah satunya harus dilewati melalui jembatan tali baja. Berada di titian amat sempit di ketinggian sekitar 4.800 mdpl, ditambah oksigen yang tipis, kita pun berkenalan pada kepasrahan total.

Sebab itu pula, ketika akhirnya puncak yang berbentuk jambul ayam tersebut ­dijejak, bukan rasa keakuan yang dirayakan. Di balik senyum lebar dan ­rentangan tangan adalah bahasa syukur untuk ­kebesaran alam.

Ini pula yang sesungguhnya menjadi anugerah Carstensz bagi Indonesia. Sebagai salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia (7 summits), Carstensz bukan hanya tentang kebersandingan nama bangsa di antara jajaran atap dunia lainnya, yakni Everest di Himalaya Nepal, Aconcagua di Amerika Selatan, Denali di Amerika Utara, Kilimanjaro di Afrika, Elbrus di Rusia, dan Vinson Massif di ujung selatan bumi, Antartika.

Carstensz dan keseluruhan ekosistem pegunungan tengah adalah bentang lintas ilmu dan pencapaian. Tidak saja tentang pendakian dan batas-batas ujian fisik ­manusia, tetapi juga tentang kekayaan formasi alam, batuan, hingga parameter penting perubahan iklim.

Sayang, hingga kini akses untuk menu­ju Carstensz masih penuh kendala. ­Se­andainya ada keterbukaan akses lebih besar, ­anugerah bukan hanya untuk pendaki, melainkan juga untuk seluruh anak bangsa. (M-3)

Komentar