Khazanah

Hikayat Kerbau Toraja

Ahad, 3 September 2017 01:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

PEMANDANGAN itu hampir selalu menggoda mata meski sudah beberapa kali bertemu dengan yang serupa. Badannya padat, sintal, dan seksi. Tak perlu diragukan lagi. Bahkan dari jauh pun, kesan itu terasa kuat. Apalagi lagi dekat. Mungkin akan lebih indah lagi.

Pemandangan itulah yang paling berkesan ketika melintas di jalanan Toraja, baik Tana Toraja maupun Toraja Utara. Seekor kerbau rawa yang sedang melumpur di sawah. Jauh dari kesan kumuh dan jorok, sebaliknya kerbau-kerbau itu justru seolah punya daya tarik tersendiri.

Memang di Toraja, kerbau tidak hanya sebagai binatang peliharaan yang diperuntukkan sembelihan da­ging. Lebih dari itu, kerbau bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi masyarakat Toraja. Namun, ternyata, tidak hanya masyarakat Toraja yang mengistimewakan kerbau. Penghormatan terhadap kerbau juga didapati dalam tradisi lain. Pulau Jawa, misalnya, beberapa daerah juga memiliki kerbau yang diistimewakan.
Di daerah Banten masih ada kerbau yang dianggap keramat seperti yang disebut dengan kebo dugul. Kerbau bule (albino) ini punya sepasang tanduk menggantung. Ia dianggap memiliki tuah yang dapat membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Jika tanduk kerbau bule sampai melingkar dan kedua ujungnya bertemu secara simetris di bagian bawah leher, biasa dijuluki kebo dungkul kalung. Selain kerbau itu dianggap keramat, air seninya pun dianggap bisa dijadikan semacam obat bagi penyakit tertentu. Itu menurut catatan Yulna Yusnizar dalam buku Kerbau, Ternak Potensial yang Terlupakan.

Tradisi yang hampir sama juga terdapat di Jawa Tengah. Misalnya kerbau bule milik keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di kompleks Alun-Alun Selatan Kota Solo. Pada setiap libur hari raya, orang beramai-ramai memberi makan untuk memperoleh berkah dari kerbau keramat itu.

Kerbau merah pun ditemukan di Pulau Madura. Variasi yang tampak hanyalah pada warna kulit. Sebetulnya warnanya lebih ke arah kecokelatan, tapi masyarakat setempat menyebutnya sebagai kerbau merah.

Namun, tradisi paling menonjol adalah masyarakat Toraja. Dalam budaya Toraja, harmoni adalah nilai utama. Nilai itu berpucuk tiga (tallu lolona) dengan Puang Matua Sang Pencipta, yakni harmoni dengan sesama, harmoni dengan alam lingkungan, dan harmoni dengan hewan ternak.

Kerbau dianggap sebagai hewan yang mempunyai nenek moyang yang bersaudara dengan manusia. Oleh karenanya, kerbau yang akan dikorbankan terlebih dahulu diupa­carakan terlebih dahulu bahwa hewan itu disembelih sesuai dengan persetujuan bersama dengan nenek moyang terdahulu.

Upacara Rambu Tuka’

Pada upacara Rambu Tuka’, kerbau yang akan dikorbankan harus disucikan terlebih dahulu. Passomba Tedong ialah himne yang sangat sakral untuk menyucikan kerbau yang diucapkan Tomina (ahli adat dan aluk) pada upacara merok (sejenis pesta syukur keluarga) atau la’pa’ (sejenis pesta selesainya prosesi aluk).

Sebelum kerbau disembelih sebagai persembahan, Tomina terlebih dahulu mengucapkan dan melagukan Passomba Tedong. Biasanya dilakukan semalam suntuk, dari sekira pukul 23.00 sampai fajar menyingsing. Begitu menurut Stanislaus Sandarupa dalam buku Kambunni’ Kebudayaan Tallu Lolona Toraja.

Prosesi penguburan masyarakat Toraja juga membutuhkan kerbau dalam jumlah besar. Kaum merdeka dan kaum hamba dikubur di gua alam tanpa diukir atau tanpa dibalut bulaan. Syarat dibalut bulaan adalah mengorbankan paling sedikit 12 ekor kerbau sampai puluhan bahkan ratusan ekor kerbau.

Kerbau yang dikorbankan pun punya jenis yang bermacam. Masyarakat Toraja mempunyai pengelompokan kerbau belang berdasarkan corak warna kulitnya. Berdasarkan catatan Yulna Yusnizar, kerbau belang Toraja terdiri atas saleko, bonga, lotong boko, dan toddi’. Kerbau bonga terdiri dari ulu, tenge’, sorri, dan tappi.

Kerbau saleko merupakan jenis belang paling cantik dengan harga paling tinggi jika dibandingkan dengan belang lainnya. Dalam sebuah upacara Rambu Solo’ skala besar, selalu disediakan setidaknya masing-masing satu kerbau jantan jenis saleko, bonga, lotong boko, dan toddi’ dengan kisaran umur di atas 5 tahun untuk dipotong.

Jenis kerbau saleko menduduki tempat tertinggi dalam adat istiadat Toraja. Dalam suatu upacara Rambu Solo’ yang besar harus disediakan dan dipotong setidaknya satu kerbau saleko sebagai persembahan utama bagi orang yang telah meninggal. Kerbau saleko memiliki corak belang putih kemerahan merata di seluruh tubuhnya.

Kerbau saleko yang bagus mempunyai warna kulit putih yang dominan daripada hitam dengan warna iris mata juga putih. Warna hitam pada bagian punggung yang dominan putih tersebut biasanya membentuk pola tertentu yang oleh masyarakat setempat dianggap seperti parang. Makin besar corak parang, makin banyak warna hitam di permukaan kulit, maka makin rendah kelas dan harga kerbau Saleko tersebut.

Penilaian terhadap kerbau saleko juga meliputi warna iris mata, bentuk dan warna tanduk yang dimilikinya. Akan semakin bagus lagi jika tanduk kerbau berbentuk panjang, pipih, berwarna putih dengan bagian ujung yang sedikit melentik atau membengkok ke atas.

Sejak 2014, seekor kerbau saleko jantan yang bagus bernilai hingga Rp1 miliar. Teriring dengan tingginya tingkat kebutuhan kerbau untuk upacara adat, kerbau belang bisa jadi mendapati posisi sulit.

Bahkan kerbau saleko yang bagus sudah langka dan sangat sulit ditemukan di Toraja saat ini. Dapat dibayangkan betapa terancamnya populasi kerbau belang di masa datang jika tidak dilakukan upaya konservasi dari sekarang.

Salah satu yang perhatian dengan konservasi kerbau toraja adalah Inagro yang terletak di kawasan Bogor. Mereka mempunyai tiga kerbau Saleko dengan tujuan untuk konservasi dan pelestarian. Bahkan salah satu betina kerbau tersebut disebut telah siap melahirkan keturunan. (M-2)

Komentar