MI Anak

Memotret enggak Asal Jepret!

Ahad, 3 September 2017 06:31 WIB Penulis: SURYANI WANDARI wanda@mediaindonesia.com

MI/WANDARI

Berkumpul di area lobi, beberapa orang terlihat sibuk mempersiapkan peralatan yang akan dipakai. Selain bekal minum, buku, modul yang dimasukkan ke tas selempangnya, tampak pula kamera model DSLR (digital single lens reflex) yang dikalungkan di lehernya.

"Hari ini kita akan mengelilingi Museum Nasional Indonesia sambil belajar jadi fotografer ya adik-adik," kata Kak Vanda Yulianti, Founder Mommie Stories, membuka kegiatan Kids Photosmartgraphy, Sabtu (26/8) Jakarta Pusat.

Disambut gembira, anak-anak yang hadir dari umur 8 tahun ini sangat antusias mengikuti kegiatan kreatif aar mereka pun bisa menyalurkan hobi memotretnya. Ikuti cerita keseruannya ya!

Menentukan cahaya

Dimulai dari pembagian kelompok, mereka pun diberi pengarahan oleh Kak George Arif, Executive Producer Spin Production, cara mengambil gambar yang baik. Menurut Kak Arif, fotografi merupakan seni melukis dengan cahaya, hingga dalam fotografi faktor cahaya menjadi unsur terpenting.

"Untuk mengatur jumlah cahaya yang digunakan suatu gambar, ada 3 aspek yakni pertama kepekaan media (ISO) yang bisa diatur secara manual, semakin besar akan semakin peka, kedua shutter speed atau kecepatan saat memotret, jika mengambil gambar gelap seperti api unggun maka akan lama, terakhir ada diafragma yakni komponen lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke kamera, cara kerjanya mirip retina mata kita," kata kak Arif.

Tak hanya itu, mereka pun diterangkan soal tipe pengambilan gambar loh. Ada wide shot, yakni pengambilan gambar yang sangat jauh, berdimensi lebar dan diambil dari area yang sangat luas hingga objek terlihat sangat kecil, biasanya digunakan untuk memotret gedung. Ada pula full shot dengan pengambilan foto utuh, biasanya badan seseorang yang terlihat dari ujung kepala hingga kaki.

Selebihnya, ada medium shot, yakni pengambilan dari perut hingga kepala, medium close up dari dada hingga kepala, dan close up yakni dari bahu hingga kepala.

Cari angle

Selepas diberi penjelasan, mereka langsung mengeksplor Museum Nasional. Replika manusia purba beserta tengkoraknya, bahkan hingga alat navigasi dan kendaraan zaman dulu pun tak luput dari tangkapan kameranya loh.

Mereka pun mengambilnya dengan beragam gaya, baik berdiri, berlutut atau jongkok mengambil sudut yang bagus. "Karena mereka foto benda di dalam ruangan, bahkan objeknya tertutup kaca, mereka harus pintar-pintar cari angle agar mendapatkan cahaya yang baik pula," kata Kak Arif.

Kak Arif pun menjelaskan posisi atau angle kamera bisa dari atas menyorot ke bawah secara lurus (top angle), dari atas ke bawah (high angle), selurusan mata (eye angle), dari bawah (low angle) atau pun dari bawah sejajar lantai (frog eye view). "Nggak susah sih, aku memang sering pakai kamera mamah untuk potret, jadi sedikit-sedikit aku ngerti," kata Farrel, kelas 6, SD Al-Azhar 5 yang sedang asyik hunting foto.

Caption

Tak hanya asyik dengan kameranya, kadang-kadang mereka pun membaca dengan cermat keterangan benda koleksi museum yang akan di potretnya. Selain mengagumi sejarah warisan nenek moyang kita, hal ini pun menjadi poin penting untuk pemberian caption loh.

Ya, jika kalian suka membaca koran maupun majalah, tentu dalam foto itu terlihat caption kan? Itu loh, keterangan yang menjelaskan isi gambar tersebut. "Isi caption harus berhubungan, bersifat menjelaskan dan bisa saja mengandung kejutan di balik itu. Kamu bisa mencatat apa yang kamu foto, misalnya alat untuk apa, ditemukan di mana, tahun kapan dan sebagainya," kata kak Arief.

"Ini jadi salah satu tempat kesukaanku untuk berfoto, kami bisa mengenal sejarah lewat hobi, seru deh," kata Nayya, kelas 6 SD Istiqlal.

Lima kebaikan

Kak Vanda memang sejak 22 Desember 2013 telah mendirikan komunitas ini untuk sosialisasi kebiasaan bercerita lo sobat. Banyak sekali kegiatan yang diadakan yang bisa diikuti anak maupun orangtua, salah satunya kegiatan sobat Medi kali ini.

Tak mau melihat perkembangan anak era digital didominasi gawai, Kak Vanda mengarahkan anak untuk bisa menggunakan gawai secara positif, seperti foto. Dalam kegiatan ini pun ada lima kebaikan yang bisa didapatkan anak. "Lima kebaikan yang didapat dari pelatihan sederhana ini yakni kemampuan memotret, membiasakan diri membaca, melatih kemampuan menulis, memberanikan diri untuk menceritakan objek apa yang sudah difoto dan mengetahui banyak tentang sejarah Indonesia," kata Kak Vanda.

Seru kan medi, rupanya fotografer pun punya beragam teknik untuk menghasilkan foto yang bagus kan? Kalian pun bisa latihan motret di mana saja, baik di dalam maupun luar ruangan dan tentunya harus cari cahaya yang baik ya. Kalian pun bisa berlatih menggunakan smartphone kalian! (Suryani Wandari/M-1)

Suara Anak

Nayya

Kelas 6 SD Istiqlal

Aku memang suka foto-foto, biasanya pakai kamera HP. Aku coba utak-atik cara pakai dan ngaturnya. Aku berharap nantinya aku bisa jadi fotografer.

==========

Farrel

Kelas 6 SD Al-Azhar 5

Aku memang sudah biasa motret. Biasanya aku foto keluarga. Aku juga pernah jadi sutradara saat syuting untuk tugas sekolah. Menurutku nggak sulit kok.

=============

Aurelia

Kelas 2, Sekolah Global Mandiri

Aku senang foto, biasanya belajar sama ayah kalau lagi liburan, aku bisa foto hewan atau pemandangan. Kadang kesulitan kalau foto di dalam ruangan kayak gini, cahayanya kurang.

=============

Jinda

Kelas 5, SD 2 Islamic School

Untuk bisa motret biasanya aku diajarin ibu, kebetulan ibu juga suka motret. Aku suka diajarin ngatur cahaya dan cari angle yang bagus.

======================================================================

C A R I TA H U Y U K

Kiat agar Hasil Foto Lebih Bagus

1. Setting terlebih dahulu ISO, semakin besar semakin banyak menangkap cahaya.

2. Untuk foto di luar ruangan bagusnya foto pagi sebelum 08.00 dan 17.00 saat matahari berwarna jingga.

3. Untuk foto di dalam ruangan, kamu harus mencari angle untuk mendapatkan cahaya yang pas.

4. Jika bisa lebih bagus mendekat ke arah objek daripada zoom dari kamera.

5. Untuk menghindari hasil yang bergerak, kamu bisa memanfaatkan dinding atau tiang di dekatmu sebagai senderan atau tahan nafas saat akan memotret.

Sumber: George Arif, Executive Producer Spin Production

Komentar