WAWANCARA

Menulis Fiksi, Menyeimbangkan Rasa

Ahad, 3 September 2017 12:00 WIB Penulis:

MI/ADAM DWI

SUHARIYANTO, yang akrab dipanggil Kecuk, memiliki hobi membaca, menulis, dan berkebun. Ia mengaku telah menulis fiksi maupun ilmiah, diterbitkan baik di dalam maupun di luar negeri, seperti Inggris.

“Kalau menulis ilmiah, saya menggunakan statistik, kalau fiksi, feeling saya,” jelas Kecuk. Menulis, kata Kecuk, membuat hidupnya lebih sehat karena tidak hanya mengandalkan kemampuan matematisnya saja, tetapi juga rasa.

“Cuma sekarang memang kesempatan saya menulis saya jadi habis karena kurang waktu,” imbuhnya.

Selain menulis, Kecuk pun mengharuskan dirinya untuk membaca buku, minimal seminggu sekali di akhir pekan, baik novel maupun buku ilmiah.

“Kalau tidak membaca, tidak akan men-charge baterai dan akan menjadi bebal. Saya imbangkan membaca novel dan ilmiah biar berimbang,” lanjut pria yang mengaku menikmati memberikan kuliah umum di kampus.

“Karena bagi saya, itu refreshing, enak berinteraksi bersama anak-anak muda, mereka masih sangat idealis. Rambu-rambu mereka masih tanpa batasan dan kadang-kadang hal itu yang memberi kita sesuatu,” pungkasnya. (Riz/M-1)

Komentar