Kesehatan

Sariawan yang Berujung Kanker

Rabu, 6 September 2017 03:00 WIB Penulis: Eni Kartinah

Grafis seno

FIRDAUS, 45, berlega hati setelah tuntas menjalani pengobatan kanker di mulutnya. Meski harus melalui proses panjang, ia lega karena pengobatannya dinyatakan berhasil. "Sudah dibedah, dikemo (kemoterapi), dan radioterapi. Tinggal pengobatan lanjutan dan pengecekan secara berkala. Dokter bilang hasilnya bagus. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur," ujarnya saat ditemui pekan lalu.

Ayah satu anak itu menuturkan, semula ia sama sekali tak menyangka bakal didiagnosis menderita kanker mulut. "Karena tadinya yang muncul cuma sariawan di pipi bagian dalam ini. Tapi, kok enggak sembuh-sembuh sampai dua bulan lebih. Terakhir, sariawan itu enggak begitu nyeri lagi. Tapi, jadi ada semacam benjolan agak keras. Makanya saya periksa ke dokter," tuturnya mengisahkan riwayat penyakitnya.

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan termasuk biopsi (pengambilan contoh jaringan), ia dinyatakan menderita kanker mulut. Saat itu dirinya sangat khawatir. Tak mau ambil risiko, ia mengikuti seluruh prosedur pengobatan medis. "Sudah sering baca-baca, pengobatan alternatif banyak bohongnya. Jadi, mengikuti dokter saja," imbuhnya. Kini setelah tuntas menjalani prosedur pengobatan, ia mengubah gaya hidup. "Dokter bilang harus jaga kebersihan gigi dan mulut, juga tidak boleh merokok. Jadi, saya tidak merokok lagi sekarang," katanya.

Kanker mulut seperti yang diderita Firdaus memang kerap kali disangka sariawan di awal kemunculannya. "Karena itulah masyarakat perlu jeli apakah benar menderita sariawan saja atau kanker mulut," ujar dokter gigi spesialis penyakit mulut Febrina Rahmayanti, dalam diskusi yang digelar Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)-Pondok Indah, Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan, sariawan perlu dicurigai sebagai kanker mulut bila menampakkan sejumlah tanda. Antara lain, sariawan itu tidak sembuh dalam 3-4 minggu. Luasan 'luka'-nya lebih lebar, tapi rasa sakitnya justru lebih ringan daripada sariawan biasa.

"Tanda lainnya, kalau diraba terasa ada pengerasan. Ada pembesaran jaringan," katanya. Gigi penderita kanker mulut, lanjutnya, juga bisa tiba-tiba goyang ketika kankernya sudah mengenai bagian tulang rahang penyangga gigi. Jika mendapati tanda-tanda itu, ia menyarankan pasien segera memeriksakan lebih lanjut ke dokter. Sebab, kanker mulut termasuk jenis kanker dengan prognosis (prediksi perjalanan penyakit) buruk. "Angka kesintasan selama lima tahun setelah terdiagnosis hanya 50%-60%. Semakin cepat dideteksi dan diobati dengan benar, semakin baik hasilnya," terangnya.

Gigi berlubang
Pada kesempatan itu, Febrina juga mengingatkan pentingnya mengatasi gigi berlubang. Sebab, pada gigi yang berlubang, bisa saja ada bagian gigi yang tajam hingga kerap melukai dinding pipi dalam rongga mulut atau lidah. "Penelitian membuktikan, luka yang berulang dan terjadi terus-menerus di tempat sama dalam jangka panjang bisa memicu terjadinya kanker," kata dia. Karena itulah, gigi yang berlubang harus mendapat perawatan. Lebih bagus lagi bila sejak awal kita menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut yang tentunya akan bermanfaat mencegah gigi berlubang.

"Caranya seperti yang sudah sering disosialisasikan, sikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur malam, serta kontrol ke dokter gigi enam bulan sekali. Kontrol ini sekaligus menjadi upaya deteksi dini penyakit-penyakit gigi dan rongga mulut," jelasnya. Selain gigi berlubang, struktur gigi yang kurang baik sehingga kerap menyebabkan pipi atau lidah kerap tergigit atau terluka. "Masalah itu juga harus dibenahi."

Ia juga mengingatkan pentingnya menjalani gaya hidup sehat, termasuk tidak merokok. "Rokok mengandung banyak sekali zat karsinogenik, pemicu kanker, termasuk kanker mulut," imbuhnya. Sebagai langkah deteksi awal, selain rutin memeriksakan diri ke dokter gigi, Febrina menganjurkan untuk mempraktikkan The 8-step oral cancer screening atau delapan langkah mendeteksi kanker mulut (lihat grafik).

"Intinya, perhatikan dan raba dengan saksama seluruh bagian rongga mulut. Seperti, permukaan atas, bawah, dan samping kiri kanan lidah, permukaan dalam bibir atas dan bawah, langit-langit mulut, dasar mulut yang ada di bawah lidah, pipi bagian dalam kiri dan kanan, seluruh bagian gusi, dan area belakang mulut dekat tonsil (kelenjar amandel). Jika ada yang mencurigakan, periksa ke dokter," pungkasnya. (H-2)

Komentar