Khazanah

Mengenal Gambuh sebagai Sumber Tari Bali

Ahad, 10 September 2017 00:31 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

MENDENGAR kata Bali, tentu yang terbayang keindahan alam, keindahan budaya, dan tradisi. Masyarakatnya dikenal sebagai pemeluk agama yang taat. Keindahan alamnya menjadi destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sementara itu, kesenian tradisinya dikenal sebagai salah satu gaya yang paling banyak diminati termasuk drama dan tari. Namun, di balik banyaknya kesenian tradisi di Bali, ada seni yang paling tua, yakni Gambuh.

Gambuh ialah tarian yang terkadang lucu dan keras, terkadang kasar dan sengit, terkadang dilakonkan penari lanjut usia dengan keanggunan yang menghanyutkan, tapi terkendali. Namun, di balik itu, ternyata Gambuh juga menyimpan hal menarik lain. Salah satunya anggapan Gambuh merupakan sumber dari tari Bali.

"Gambuh merupakan dramaturgi yang paling tua dan dianggap sebagai sumber tari Bali," begitu kata Prof Dr I Made Bandem, MA, untuk mengawali penjelasannya tentang Gambuh.

Kala itu, I Made Bandem menjadi salah satu pemateri dalam Festival dan Seminar Budaya Panji yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di Museum Wayang Jakarta pada 4-6 Agustus 2017. Festival itu menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi lintas budaya serta mementaskan sejumlah pertunjukan seni dan pameran karya sastra, naskah kuno, dan kreasi seni rupa.

Kapankah Gambuh mulai ada di Bali? Sulit untuk diketahui tepatnya. Namun, dapat dikirakan, Gambuh sudah ada di Bali pada abad XV atau abad sesudah itu. Bila dihubungkan dengan peristiwa sejarah di kala Majapahit runtuh pada pertengahan abad XV ketika khazanah sastra Jawa termasuk cerita Panji diboyong ke Bali, kesenian Gambuh diperkirakan muncul di Bali sekitar abad XV.

Menurut Bandem, sebelum adanya Gambuh, Bali tidak memiliki tarian. Sebab tari sebelum Gambuh digolongkan dalam tari sakral yang ditampilkan di tempat ibadah sebagai ritual keagamaan. Tidak ada persiapan latihan secara khusus untuk sebuah pementasan.

"Itu ada trance atau ekstasi. Di situ tidak ada koreografi yang pasti seperti koreografi Gambuh. Jadi semuanya improvisasi," terang I Made Bandem.

Seni pentas

Sementara itu, Gambuh merupakan seni pentas yang berbentuk total teater. Meskipun unsur seni tari dominan, terdapat juga unsur-unsur seni lainnya, seperti seni tabuh, seni sastra, seni dialog, seni rupa, dan seni rias. Semua unsur itu berpadu secara harmonis dan indah.

Pementasan Gambuh dilakukan di sebuah area bernama Kalangan yang berbentuk segi empat. Sebagai pemisah antara penari dan penonton, terdapat bambu yang biasa disebut tangluk. Pementasan Gambuh untuk upacara adat biasanya dimulai pada pukul 09.00 dan berlangsung hingga tengah hari. Gambuh termasuk tari sakral yang menunjang jalannya upacara. Namun, ketika pada malam hari Gambuh dipentaskan lagi, fungsinya hiburan.

Pertunjukan Gambuh lengkap dimainkan 25-40 penari laki-laki dan perempuan. Cerita Gambuh dibagi beberapa episode dengan struktur naratif dan dramatik yang memikat.

Gambuh didukung dengan berbagai karakter, seperti karakter halus dengan tokoh Rangkesari dan Panji, karakter keras para patih Arya dan Prabangsa, ataupun karakter lucu Demang Tumenggung. Setiap tokoh memiliki gending iringan tersendiri yang dipimpin suling panjang hingga 90 cm dengan karakter dinamis dan manis. Di samping itu di tengah-tengah penabuh duduk satu atau dua orang juru tandak yang berfungsi untuk menghidupkan suasana dalam dramatisasi pertunjukan seperti sedih, gembira, marah, dan lucu.

Setiap tokoh karakter putra maupun putri memiliki tatanan busana tersendiri. Kostum dibagi menjadi dua, yakni untuk kelompok putra dan putri. Setiap kelompok alus maupun keras memakai kostum yang hampir sama, kecuali gelungan atau hiasan kepala.

Setiap tokoh utama harus mampu berbahasa Kawi atau Jawa kuno yang akan diterjemahkan para panakawan. Di samping itu Gambuh sangat ekspresif karena mengutamakan ekspresi muka dan banyak memakai gerakan mata yang disebut nelik, nyureng, gagilehan, dan nyerere.

Tanpa ekspresi utama itu, Gambuh tidak akan kelihatan hidup. Hal ini akan memberikan kendala pada generasi muda bila diarahkan untuk mempelajari kesenian yang sulit dan kurang menarik baginya.

Lakon utama Gambuh ialah cerita Panji yang mengisahkan kehidupan, romantika, dan peperangan dari kerajaan di Jawa Timur pada abad XII-XIV. Di Bali cerita itu disebut Malat, sesuai dengan nama tokoh sentral, yakni Panji Amalat Rasmi. Cerita Panji merupakan kisah yang populer bukan hanya dalam masyarakat Indonesia, melainkan juga negara tetangga. Cerita Panji adalah karya cipta asli budaya Nusantara, bukan seperti Mahabharata dan Ramayana.

Nama bangsawan

Selain itu, Gambuh masih menggunakan nama-nama bangsawan dari kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, di antaranya seperti Demang Sampigontak, Tumenggung Macan Mangelur, Patih Rangga Toh Jiwa, Panji Kudanarawangsa, dan Mahisa Prabangsa.

Adapun seni pertunjukan yang bersumber dari Gambuh seperti wayang Gambuh, Arja, Topeng, dan Calonarang. Wayang Gambuh merupakan pertunjukan wayang kulit bernuansa Pagambuhan, yang dapat dijumpai pada tokoh, cerita, tembang, dialog, maupun iringan. Dikabarkan, sekeropak wayang Gambuh bersama benda-benda seni lainnya, yakni satu peti topeng dan dua buah gong, diboyong ke Bali setelah Dalem Waturenggong mengalahkan kerajaan Blambangan di Jawa Timur pada abad ke-16.

Arja merupakan satu-satunya dramatari opera yang bentuknya sangat dipengaruhi Gambuh, baik dari segi cerita, perbendaharaan gerak, struktur pertunjukan, maupun kostum. Jika dibandingkan dengan Gambuh, Arja memiliki lebih banyak versi cerita Panji, bisa berupa lakon carangan atau pengembangan, misalnya, Pakang Raras, Godogan, Cilinaya, dan Made Umbara.

Topeng ialah dramatari yang semua pelakunya memakai topeng. Dramatari itu mengangkat cerita sejarah dan babad Bali. Tari yang mengambil laras Gambuh ialah patih keras memakai laras Prabangsa seperti gelatik nuut papah, ngerajeg, ataupun ngerangrang. Sementara itu, yang mengambil laras Panji ialah Arsawijaya.

Sementara itu, Calonarang ialah dramatari yang memakai lakon Calonarang dari zaman Erlangga di Kerajaan Kediri Jawa Timur. Tokohtokoh yang mengambil gerak Gambuh di antaranya Patih Madri yang memakai laras Panji, Pandung mengambil laras Prabangsa, dan Ratnamanggali memakai laras Putri Gambuh.

Wayang Wong dan Parwa merupakan dramatari yang bernuansa pewayangan dengan lakon Ramayana dan Mahabharata, para pemeran tokoh halus dan keras yang mengambil gaya Gambuh. Selain itu masih ada tari Baris, tari Legong Lasem, dan tari Panji Semirang, dan drama gong. (M-2)

Komentar