PIGURA

Pengorbanan Tiada Tanding

Ahad, 10 September 2017 00:46 WIB Penulis: Ono Sarwono

BICARA berkorban dalam konteks kekuasaan, menarik untuk memahami perjalanan hidup Dewabrata, kesatria yang kemudian menjadi resi ulung bernama Bhisma. Ia membuktikan diri bahwa tanpa menggenggam kekuasaan, ia mampu memiliki kehormatan, kemuliaan, dan kemasyhuran.

Bukan hanya emoh kekuasaan, ia pun bertempat tinggal di dusun yang jauh dari istana Astina, tempat ia dilahirkan. Darah birunya pun tidak menjadikannya berlimpah materi. Ia memilih hidup dalam keterbatasan sehingga tak mengenal kemewahan, apalagi kefoya-foyaan.

Pada bagian lain, meski terpinggirkan dari hak konstitusionalnya, Bhisma tetap mencintai tanah airnya. Ia terus mengawal jalannya pemerintahan dan selalu memberikan nasihat kebaikan kepada raja. Lebih dari itu, ia menghibahkan jiwa raganya untuk negaranya.

Keluhuran budi itulah yang menjadikannya sebagai salah satu titah mustikaning jagat, bintang keindahan dunia. Dewa pun hormat dan menyabdanya, Bhisma tak akan mati bila bukan dari kehendaknya pribadi.

Melamar Durgandini

Alkisah, Raja Astina Prabu Sentanu jatuh cinta kepada Dewi Durgandini, janda warga negara Wiratha. Sentanu sendiri telah lama menduda setelah ditinggal istrinya, Dewi Gangga, yang mudik ke Kahyangan. Persisnya pascakelahiran Dewabrata dalam drama rumah tangga memilukan.

Sentanu kemudian melamar Durgandini. Putri Prabu Basuketi, raja Wiratha, ini telah memiliki putra bernama Abiyasa, buah pernikahannya yang singkat dengan sang petapa Palasara.

Basuketi bergembira dengan pinangan Sentanu. Ini impiannya. Sebagai orangtua, ia menggadang-gadang putrinya bisa menjadi permaisuri raja. Apalagi, calon menantunya itu raja Astina, negara besar nan kuncara. Akan tetapi, lamaran sepenuhnya ia serahkan kepada Durgandini.

Sejujurnya Durgandini juga kesengsem kepada Sentanu. Namun, seperti adatnya, ia juga minta syarat. Kelak, bila pernikahannya memiliki anak, merekalah yang harus menggantikan sebagai raja di Astina.

Permintaan itu tampaknya sederhana, tapi sungguh berat bagi Sentanu. Betapa tidak. Sesuai dengan paugeran, yang harus menggantikan dirinya nanti sebagai penguasan ialah anak kandungnya tertua, tentunya Dewabrata. Seketika itu, Sentanu tidak bisa berkata-kata.

Sepulang dari melamar, Sentanu meriang. Berhari-hari hingga berminggu-minggu hanya di atas peraduan. Ia seperti tidak bergairah hidup sehingga mengganggu jalannya pemerintahan. Dewabrata lalu menanyakan kepada ayahnya, apa yang menyebabkannya kehilangan asa hidup.

Sambil menahan tangis, Sentanu membeberkannya secara rinci kepada putra satu-satunya itu. Namun, ia memintanya untuk tidak usah memikirkan. Sejenak kemudian, Dewabrata matur (bicara) bahwa dirinya tidak mempermasalahkan syarat Durgandini.

Semula, Sentanu memilih untuk tidak jadi menikahi putri Wiratha itu karena beratnya syarat. Ia malu kepada rakyatnya karena bisa dicap hanya mementingkan kebutuhan diri sendiri, tidak memikirkan masa depan anak.

Sumpah wadat

Kerelaan Dewabrata tidak menjadi raja itu tulus dan ikhlas. Oleh karenanya, ia berinisiatif menghadap sendiri Prabu Basuketi di istana Wiratha. Di sana ia memperkenalkan diri sebagai putra Sentanu. Kedatangannya pun membawa pesan bahwa ayahnya menerima atau bersedia memenuhi syarat yang diminta Durgandini.

Lebih dari itu, Dewabrata pun berjanji mendukung sepenuhnya siapa pun nanti putra Sentanu-Durgandini yang menjadi pemimpin Astina. Berulang kali prasetianya tersebut ia yakinkan kepada calon ibu tirinya itu.

Karena masih ragu, Durgandini meminta bukti. Tanpa pikir panjang, Dewabrata lalu menyatakan sumpah bahwa dirinya tidak akan menjadi raja. Durgandini belum sepenuhnya percaya. Ia lalu bertanya, bagaimana nanti bila ada keturunan Dewabrata yang menuntut takhta Astina.

Saat itu juga Dewabrata bersumpah untuk kedua kalinya. Dengan saksi dewa di Kahyangan dan dunia seisinya, Dewabrata menyatakan bhishan-pratigya, yang artinya sumpah membujang hingga akhir hayat (wadat) serta tidak akan mewarisi takhta ayahnya. Sejak saat itu Dewabrata memiliki nama lain, yakni Bhisma, yang artinya sumpahnya dahsyat.

Singkat cerita, menikahlah Sentanu dengan Durgandini. Dari perkawinan mereka, lahirlah dua putra, Citranggada dan Wicitrawirya. Pada suatu ketika Sentanu lengser, Citrangganda yang menggantikannya. Namun, tidak lama kemudian ia meninggal dunia tanpa memiliki keturunan.

Estafet kepemimpinan dilanjutkan Wicitrawirya. Janji dukungan Bhisma kepada adiknya lain ibu ia bukti juga dengan mencarikan putri sebagai permaisuri raja. Bhisma unggul dalam sayembara di Negara Kasi dengan memboyong tiga putri, yakni Amba, Ambika, dam Ambalika.

Wicitrawirya berkenan menikahi Ambika dan Ambalika, sedangkan Amba ditolak karena pernah menjalin kasih dengan Raja Salwa dari Negara Saubala. Dikisahkan, Wicitrawirya juga meninggal di usia muda tanpa memiliki keturunan.

Karena sudah tidak ada lagi putranya dari benih Sentanu, Durgandini lalu mengangkat putra pertamanya, Abiyasa, menjadi raja baru bergelar Prabu Kresnadwipayana. Dari pernikahannya dengan jandanya Wicitrawirya (Ambika dan Ambalika), serta dayang Datri, Abiyasa memiliki tiga putra, yakni Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura.

Hingga akhir hayat

Kepemimpinan silih berganti, tetapi Bhisma senantiasa menjaga keluhuran Astina. Hingga pada suatu ketika Astina di bawah kekuasaan rezim Kurawa yang dipimpin Duryudana. Di era itu Bhisma, yang tinggal di pertapaan Talkanda, menjadi pepunden yang nasihat-nasihat luhurnya selalu diabaikan keturunan Drestarastra-Gendari itu.

Kurawa, yang dimentori pamannya dari garis ibu, Sengkuni, merampas kekuasaan Astina dari ahli warisnya, Pandawa. Perampasan inilah yang menjadi bibit perseteruan abadi Kurawa dengan adik sepupunya, Pandawa, lima putra keturunan Pandu-Kunti/Madrim.

Puncaknya, terjadilah perang besar di antara mereka di Kurusetra yang bernama Bharatayuda. Di medan itulah, Bhisma, yang membela tanah kelahirannya, gugur di tangan Srikandi, senapati Amarta (Pandawa).

Hikmah kisah ini ialah pengorbanan Bhisma untuk bangsa dan negaranya hingga tetes darah penghabisan. Bila dikontekskan dengan situasi kebangsaan negeri kini, laku Bhisma ini merupakan paradoks.

Jangankan berkorban, sekadar tahu malu atau tahu diri dan berintrospeksi saja, para elite tidak kuasa. Mental dan kecerdasannya setiap hari hanya dicurahkan untuk menjelek-jelekkan dan memfitnah lawan politiknya demi kekuasaan. Sungguh memprihatinkan. (M-4)

Komentar