WAWANCARA

Motivasi Menjadi Lebih baik

Ahad, 10 September 2017 11:15 WIB Penulis: Satria Sakti Utama

ANTARA/YUDHI MAHATMA

SEGUDANG prestasi telah dipersembahkan Tontowi Ahmad dan pasangan ganda campurannya, Liliyana Natsir, untuk Indonesia. Masih tersirat jelas Owi dan Butet--sapaan keduanya--sukses besar mengembalikan budaya medali emasi di Olimpiade 2016, lantas juara Indonesia Open 2017, dan persembahan terbaru bagi bangsa ialah menjadi nomor satu pada kejuaraan dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia, Agustus lalu.

Prestasi ganda campuran yang disandingkan sang pelatih Richard Mainaky tujuh lalu kini kebanjiran bonus. Salah satunya dari Bakti Olahraga Djarum Foundation yang mengganjar mereka dengan total hadiah Rp1 miliar. Bonus tersebut diberikan secara langsung di pelataran GOR Djarum Kudus, Kamis (7/9). Tidak hanya pemberian ha­diah, acara ini juga dimeriahkan band Ibu Kota, Kotak.

Di tengah euforia itu, ada sejumlah tantangan besar yang menanti pasangan peringat ketiga dunia ini. Salah satunya faktor usia mereka yang sudah tidak muda lagi, sedangkan belum ada suksesor sepadan Owi-Butet yang memperkeruh bayangan masa depan bulu tangkis.

Berbicara tentang masa depan mereka dan olahraga tepok bulu itu, seusai pemberian bonus, Owi-Butet menyempatkan berbincang dengan Media Indonesia di Kudus, Kamis (7/9).

Kalian juara tertua BWF, di satu sisi ini merupakan gelar yang baik, tapi di sisi lain ada kekhawatiran soal lambatnya regenerasi, pendapat kalian?
Butet: Kita punya banyak talen­ta bagus, tinggal bagaimana memotivasi, kerja keras, mau disiplin. Itu yang menjadikan juara atau tidak. Saya tentu berharap setelah dari kita ada muncul pengganti ganda campuran. Berharapnya pelapis-pelapis lebih termotivasi, ‘wah tidak ada mas Owi-ci Butet, giliran saya nih’. Tapi kan tidak semudah itu, lawan-lawan kan semakin berat. Saya harap mereka punya motivasi itu rasa tidak mau kalah, masak sih Owi-Butet bisa, latihannya bareng, pelatihnya sama, masa tidak bisa. Saya harap sih itu.

Owi: Paling mendekati untuk menggantikan kami ya Praveen (Jordan) dan Debby (Susanto, peringkat ketujuh dunia). Mereka juara All England tapi kemudian menurun. Semoga performa keduanya kembali lagi.

Bagaimana kalian menjaga kestabilan mengingat usia kalian sudah kepala tiga?
Butet: Caranya tentu kami tidak bisa bernafsu ikut semua kejuaraan. Kami harus mengatur agar kami tetap di performa terbaik. Seperti kami ada kegiatan di Jepang (19-24 September) tapi dibatalkan, karena kita ingin fokus di kejuaraan Denmark (17-22 Oktober) dan Paris (24-29 Oktober). Kami tidak bisa menggebu-gebu karena usia kami tidak muda lagi. Tidak seperti dulu ayo hajar saja semua kejuaraan. Kayak kemarin kita habis di Indonesia Open (12-18 Juni) langsung ke Australia (20-25 Juni), kan babak belur. Maksudnya bukan saya alasan, saya kalah ya saya akui, dua pasti ada kondisi badan saya mainnya malam terus. Berangkat subuh, istirahat bentar sudah main lagi. Jadi kita bisa atur itu.

Setelah juara BWF, target selanjutnya?
Butet: Tentu kami ingin melanjutkan prestasi, ya. Tadi pak Victor (Hartono, Chief Operating Officer (COO) PT Djarum dan Presiden Direktur Djarum Foundation) menantang sekaligus doa agar tahun depan kami di sini lagi untuk menerima bonus. Tapi kami tentu ingin melakukan yang terbaik di Asian Games 2018 karena kita dimain di kandang sendiri. Tugas kita ya menjaga kondisi saja, ya seperti saya bilang jangan terlalu menggebu-gebu. Masih banyak ajang yang ada untuk persiapan.

Setelah Asian Games, Butet rencana pensiun?
Butet: Rencana seperti itu, setelah Asian Games saya memutuskan untuk mundur ya. Tapi kita lihat dulu nanti karena setelah Asian Games, saya masih ada kontrak sponsor dua tahun hingga akhir tahun depan. Jadi setelah Asian Games mungkin akan mengikuti beberapa pertandingan, di saat bisa juga mungkin akan mengumumkan berhenti atau lanjut. Tergantung stamina dan cedera saya bagaimana. Kalau masih fit, ya oke saya masih bisa. Karena cedera ini banyak mengganggu, jadi di pertandingan Owi banyak sekali mengover. Selain saya mengatur bola, Owi banyak membantu saya dengan keterbatasan saya. Sebenarnya tidak pengin ingat tapi namanya cedera merasa sakit, merasa traumalah.

Seberapa kompak kalian sehingga berdampak positif untuk permainan kalian?
Butet: Berbeda saat saya berpasangan sama mas Nova (Widianto) yang lebih banyak berusaha keras. Ketika di awal saya dipasangkan Owi memang saya lebih berusaha keras, lebih berpikir untuk memberikan Owi permainan yang nyaman. Dia lebih suka melakukan smes, jadi saya lebih banyak di depan. Tapi berjalannya waktu dia sekarang lebih dewasa dan tidak jarang membantu saya dalam kondisi yang sulit. Seperti saat saya mengalami cedera ini Owi yang lebih banyak mengover saya sekarang.

Owi: Sebenarnya tidak bisa diukur. Menurut saya dan banyak yang beranggapan sama kalau ci Butet bisa beradaptasi dengan siapapun. Jadi tidak ada kesulitan apapun.

Hasil buruk di SEA Games 2017, apa yang harus dilakukan?
Butet: Ke depannya kita berharap lebih baik lagi. Saya ingin melihat kita sapu bersih lagi dan saya merasakannya. Tujuh kali medali emas, kita juara, duduk, kemudian juara lagi, momen yang luar biasa. Semoga prestasi yang sama bisa terulang lagi.

Gaya hidup olahraga makin tidak condong kepada bulutangkis, bagaimana agar menjadi tren kembali?
Butet: Bulu tangkis kan kita harus di lapangan tertutup, butuh raket, sepatu, dan lain-lain. Jadi, mungkin itu pertimbangan orangtua untuk mengarahkan anaknya ke bulu tangkis.

Satu lagi harus ada jaminan hari tua ya karena saat memilih menjadi atlet akan mengorbankan salah satu (pendidikan), tidak bisa dua-duanya. Jarang bisa dua-duanya. Kita ninggalin itu saat berhasil tidak ada tunjangan hari tua jadi semua olimpian harap bisa disahkan undang-undang. Menjadi motivasi orangtua dan atlet untuk tekunin olahraga karena juara sudah ada tunjangan hari tua sudah terjamin, kalau tidak ada ya pasti berpikir lagi.

Sekarang banyak berpikir ya kalau jadi, kalau tidak? Kemudian kalau juara tapi tidak bisa mengaturnya jadi apa dia. Sudah tidak sekolah, tidak punya pengalaman kerja. Jadi harus ditanamkan bagaimana bulu tangkis itu bisa menjadi profesi menjanjikan. Pe­ran orangtua sangat penting. Saya merasakan sendiri. Tidak bisa kan saya ujug-ujug berangkat latihan sendiri, tidak mungkin bisa sendiri kecuali anaknya punya kemauan besar. Mudah-mudahan pemerintah segera mengesahkan undang-undang itu.

Baru-baru ini kalian diangkat menjadi duta keberagaman oleh Asosiasi Olimpian Indonesia (IOA)?
Butet: Harapannya kita bisa menjadi contoh keberagaman. Seperti tahu sendiri saya dari Sulawesi, Owi dari Jawa tapi tidak memikirkan perbedaan itu, kita bersatu, punya motivasi, visi, dan misi sama untuk kejuaraan meraih juara untuk Indonesia. Yang penting itu kita ini sama untuk membanggakan indonesia. (M-4)

satria@mediaindonesia.com

Liliyana Natsir
Panggilan: Butet
Tempat, tanggal lahir: Manado, 9 September 1985
Klub:
Djarum (2014-sekarang), Tangkas (2001-2013)
Tinggi Badan: 173 cm
Orangtua: Olly Maramis, Beno Natsir
Prestasi
Juara Indonesia Open Superseries Premier 2017 (ganda campuran)
Juara Hong Kong Open Superseries 2016 (ganda campuran)
Juara China Open Superseries Premier 2016 (ganda campuran)
Medali emas Olimpiade 2016 (ganda campuran)
Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016 (ganda campuran)
Juara Indonesia Masters Grand Prix Gold 2015 (ganda campuran)
Semifinalis Piala Sudirman 2015
Penghargaan
Inews Maker Awards 2017
Golden Award SIWO PWI 2017
Golden Shuttle Awards 2016
Indonesia Kids Choice Awards 2014
Anugerah Seputar Indonesia 2014

Tontowi Ahmad
Panggilan: Owi
Tempat, tanggal lahir : Banyumas, 18 Juli 1987
Klub: Djarum (2005-sekarang)
Tinggi badan: 179 cm
Istri: Michelle Harminc (menikah 2014)
Anak: Danish Arsenio Ahmad
Orangtua: Masruroh dan Muhammad Husni Muzaitun
Prestasi:
Juara Indonesia Open Superseries Premier 2017 (ganda campuran)
Semifinalis Malaysia Masters Grand Prix Gold 2017 (ganda campuran)
Juara Kejurnas Beregu Campuran Dewasa Antar-Klub 2016
Juara Hong Kong Open Superseries 2016 (ganda campuran)
Juara China Open Superseries Premier 2016 (ganda campuran)
Medali emas Olimpiade 2016
Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016 (ganda campuran)
Juara Indonesia Masters Grand Prix Gold 2015 (ganda campuran)
Semifinalis Denmark Open Super Series Premier 2015 (ganda campuran)

Komentar