Megapolitan

Kejujuran belum Berkunjung ke Rumah Neng

Rabu, 13 September 2017 08:55 WIB Penulis:

MI/Ramdani

KESEHARIANNYA, Neng, 56, warga RT 05/04, Benda Baru, Pamulang, Kota Tangsel, banyak berdiam di rumah. Ia menempati rumah sederhana seluas 24 meter persegi yang dua tahun lalu dipugar Pemerintah Provinsi Banten lewat program Bedah Rumah.

Bukannya ia berpangku tangan. Usianya yang tergolong uzur memang kurang memungkinkan orang lain memakai jasa tenaganya. Anak semata wayangnya, Jaya, 25, menjadi satu-satu harapan Neng mencari nafkah supaya dapat terus menyambung hidup.

Kehidupan keduanya sangat sederhana. Jaya bekerja serabutan. Nasibnya bergantung pada masyarakat yang menyewa tenda pesta milik majikannya. Jika tidak ada order, pria lajang itu lebih sering memilih menunggu kabar di rumah.

Kota Tangsel jadi salah satu sasaran program bantuan sosial Kementerian Sosial lewat bantuan pangan nontunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Bantuan nasional itu tidak sampai ke telinga Neng. Hingga saat penyaluran, pupuslah harapannya.
“Nama saya enggak kedaftar (sebagai warga miskin penerima bantuan). Emang Pak RT sini kurang aktif. Kalau jujur saya pasti kebagian. Saya juga tidak mendapat informasi. Warga yang dapat informasi daftar ke kelurahan (Benda Baru) dan kebagian,” lirihnya, Minggu (10/9).

Program BPNT dan PKH di Kota Tangsel bergulir sejak awal 2017. Periode pembagian bantuan dilakukan tiap tiga bulan. Terakhir, itu disalurkan Sabtu (2/9).

Mekanismenya, warga membeli paket sembako dengan cara debit anjungan tunai mandiri (ATM) BNI. Setiap bulan, warga penerima bantuan mendapat deposito Rp110 ribu. Jumlah itu dapat diakumulasikan selama rentang waktu pe­nyaluran bantuan tiba.

Waktu penyaluran bantuan ialah saat paling ditunggu warga. Mereka rela antre berjam-jam asal sembako yang ditunggu sampai di tangan. Namun, kebahagiaan itu tidak dirasakan Neng. Meski tidak terdaftar sebelumnya, ia tetap berupaya mendapat haknya.

Saat pembagian bantuan, ia datang ke lokasi. Langkah itu dilakoni meski ia tidak mengantongi kartu keluarga sejahtera (KKS) dan ATM sebagai syarat mutlak pengambilan. Ia terus berharap syukur-syukur dapat merasakan kebahagiaan yang sama seperti warga lain. Namun, hingga seluruh pembagian selesai, namanya tetap tidak dipanggil.

“Petugas bilang saya belum bisa dapat bantuan. Nama saya tidak ada dalam daftar. Nanti selanjutnya akan kebagian karena mau didata lagi. Warga yang kebagian harus pegang kartu dulu,” ceritanya.

Menjadi pertanyaan bagi Neng, mengapa dalam bantuan sosial kali ini dirinya tidak terdaftar dalam kategori penerima bantuan. Padahal dirinya sudah akrab sebagai penerima karena memang miskin. Namanya bahkan tercatat di Provinsi Banten sebagai warga tidak mampu sehingga rumahnya dibedah agar terlihat layak. (Deni Aryanto/J-2)

Komentar