Kesehatan

Awas, Polutan Dalam Ruangan Lebih Berbahaya

Rabu, 13 September 2017 08:38 WIB Penulis:

THINKSTOCK

MASYARAKAT umumnya sudah memahami bahwa polusi udara berbahaya bagi kesehatan. Namun, umumnya mereka hanya peduli terhadap polusi udara yang ada di lingkungan, seperti asap kendaraan bermotor di jalanan. Padahal, polusi udara juga terdapat di dalam rumah dan gedung-gedung. Bahkan, berdasarkan tinjauan ilmiah, polusi udara dalam ruangan lebih berbahaya daripada yang ada di luar ruangan.

“Polusi udara di dalam ruangan bisa 2-5 kali lebih buruk daripada polusi di luar ruangan. Karena polutan dalam ruangan terperangkap, terhalang dinding-dinding, sementara penghuni rumah atau gedung menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan,” ujar praktisi kesehatan dokter Felicia Tobing pada peluncuran produk pembersih udara Blueair New Classic di Jakarta, pekan lalu.

Ia menjelaskan, polutan dalam ruangan bisa bermacam-macam, seperti debu, tungau yang hidup dalam debu, zat-zat kimia dari pembersih lantai, pewangi ruangan, pewangi baju, obat pembasmi nyamuk, hingga yang paling parah, yakni asap rokok. Belum lagi jika ada penghuni ruangan yang sakit flu, batuk, atau penyakit lain yang ditularkan melalui udara (airborne disease), kuman penyebabnya juga menjadi polutan berbahaya.

“Jadi, asal polutan dalam rumah bisa dari polutan di luar yang terbawa udara lalu terperangkap dalam ruang, ditambah dengan polutan yang dihasilkan oleh aktivitas penghuni rumah atau suatu gedung,” katanya.

Keberadaan polutan itu jelas mengganggu kesehatan. Bagi orang yang bugar, mungkin dampaknya tidak langsung terasa. Tapi bagi bayi, anak-anak, dan kaum lanjut usia, polutan tersebut bisa menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah jatuh sakit. “Pada ibu hamil, polutan bisa mengganggu tumbuh kembang janin dalam kandungan.”

Lalu, bagi mereka yang memiliki alergi, polutan tersebut bisa memicu timbulnya reaksi alergi, seperti kambuhnya asma, bersin-bersin, hidung berlendir, mata memerah, hingga sesak napas.

“Pada orang sehat sekalipun, lambat laun polutan itu juga akan berdampak. Mulai dari menurunnya daya tahan tubuh sampai bisa memicu beragam penyakit, seperti penyakit paru hingga kanker,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, dokter Felicia me­nyarankan agar rajin membersihkan ­ruangan dari debu-debu, memperbaiki sirkulasi udara ­dengan ventilasi yang memadai, meminimalkan penggunaan produk yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya, serta menggunakan perangkat pembersih udara.

“Saat ini penggunaan perangkat pembersih udara menjadi solusi yang praktis dan efektif,” imbuhnya.

Filter khusus
Pada kesempatan sama, Direktur Higienis Indonesia, Justi ­Salusiana, ­selaku perwakilan dari distributor Blueair New Classic menjelaskan, perangkat pembersih udara bekerja dengan cara menyedot udara di suatu r­uangan, lalu udara tersebut dilewatkan ke komponen filter khusus yang mampu ­menyaring berbagai polutan hingga ­dihasilkan udara bersih.

Seiring kemajuan teknologi, kemampuan filter pembersih udara saat ini sedemikian canggih hingga bisa menyaring partikel kecil sampai seukuran 0,1 mikrometer. Sebagai perbandingan, ukuran diameter rambut manusia ialah 30 mikrometer-50 mikrometer, bakteri pneumokokus 0,5 mikrometer, dan virus influenza 0,1 ­mikrometer.

“Dengan kemampuan filter yang demikian, sekitar 99,97% partikel berbahaya di udara bisa dihilangkan,” imbuhnya.

Ia lalu memberi kiat memilih perangkat pembersih udara. Yang terpenting, menurutnya, ialah perangkat itu memiliki sertifikasi Association of Home Appliance ­Manufacturers (AHAM), sebuah lembaga di Amerika yang bertugas menilai mutu peralatan rumah tangga.

“Sertifikasi AHAM merupakan jaminan mutu yang sangat penting,” katanya.

Selanjutnya, pilih yang tidak bising dan konsumsi listriknya rendah, biasanya ditandai dengan sertifikasi Energy Star karena perangkat pembersih udara akan terus digunakan 24 jam sehari.

“Penting juga untuk memperhatikan masa garansi, ­semakin lama masa garansinya, semakin terjamin mutunya,” pungkas dia. (*/H-3)

Komentar