Megapolitan

Menuju Smart City Jakarta Tiru Sydney

Rabu, 13 September 2017 08:39 WIB Penulis: Yanurisa Ananta

Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City, Setiaji -- MI/Ramdani

KEPALA Unit Pengelola Jakarta Smart City, Setiaji, mengatakan pihaknya akan meng­adopsi beberapa konsep smart city (kota cerdas) yang diterapkan Sydney, Australia. Pasalnya, level smart city di kota itu sudah sampai ke arah perbaikan lingkungan untuk mencapai kota yang berkelanjutan (sustainable city).

“Jakarta masih jauh tertinggal. Di sana mereka sudah ke arah bagaimana menciptakan lingkungan dan kota yang berkelanjutan. Mereka bisa mengatur penggunaan air tanah, kemudian air dimasukan ke tanah lagi sehingga lingkungan tetap terjaga,” kata Setiaji dalam acara seminar bersama University of Technology Sydney dengan tema The role of smart citizenship in smart cities: lessons learned, di Balai Kota, kemarin.

Selain itu, konsep smart city di Sydney sudah memiliki permodelan mengenai transportasi yang mampu memprediksi arus lalu lintas. Misalnya, pengukuran dampak dari penutupan satu jalan terhadap jalan yang lainnya. Dengan pengukuran itu, masyarakat bisa menentukan jalur alternatif yang bisa digunakan jika satu jalan ditutup.

Belum lagi pengembangan teknologi smart city di Sydney yang sudah pada tahap pemaparan solusi. Misalnya sebuah permukiman dilanda hujan dan dikhawatirkan terkena banjir, dengan metodologi statistik smart city akan dipaparkan cara mengendalikan banjir itu. “Harus ada metodologi statistik. Itu yang bisa kita manfaatkan,” imbuh Setiaji.

Ia menambahkan, tujuan Jakarta smart city dan Sydney smart city ialah sama-sama memberikan pelayanan publik yang lebih baik dengan cara yang efisien menggunakan teknologi. Jakarta dan Sydney pun berangkat dari tahapan awal yang sama, yakni mengintegrasikan data dan transparansi layanan ke masyarakat. Data itu, lebih jauh lagi, diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menyelesaikan tiap masalah publik.

“Misalnya, sekarang kita punya data pergerakan bus, tapi kita tidak buat aplikasi untuk informasi kedatangan bus. Data pergerakan bus itu kemudian dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang kreatif dalam pengembangan aplikasi untuk membuat jadwal kedatangan bus,” jelasnya.

Kesamaan masalah
Di diskusi yang sama, profesor dari Sustainable Urban Environment University of Technology Sydney, Rob Roggema, menilai perkembangan Jakarta smart city sangat pesat. “Ada banyak ruang kesempatan untuk bisa berkembang lebih baik lagi,” ujarnya.

Masalah perkotaan antara Jakarta dan Sydney pun dianggapnya tidak jauh berbeda sehingga konsep smart city yang dijalankan di Sydney bisa diadopsi Pemprov DKI Jakarta.

Misalnya masyarakat di Sydney yang juga sering mengeluhkan persoalan transportasi. “Ini yang bisa sama-sama kita pelajari. Solusi yang ada di Jakarta dan Sydney bisa diaplikasikan sama-sama,” tuturnya.

Dalam hal teknologi, Rob menilai warga Jakarta jauh lebih peduli terhadap teknologi meski perkembangan teknologi di Jakarta lebih lambat jika dibandingkan dengan Sydney. Namun, Jakarta melakukan lompatan tinggi sehingga masyarakatnya sekarang lebih peduli dengan teknologi jika dibandingkan dengan Sydney.

Aspek itu yang dinilainya mampu menjadi bekal mewujudkan kota cerdas bermodal masyarakatnya yang juga cerdas.

Namun, ia mengingatkan, konsep Smart City harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, ia menyarankan Pemprov DKI untuk lebih dulu mengenali karakteristik masyarakatnya. (J-1)

Komentar