Ekonomi

Beban Kerja Berat, Aprindo Harap Pertumbuhan Ritel Sama dengan Tahun Lalu

Rabu, 13 September 2017 15:26 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Pertumbuhan ritel yang terus menerus melambat, digambarkan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey, ibarat kura-kura yang sedang membawa beban berat. Hal ini tal lain disebabkan oleh konsumsi yang mereka rasakan semakin lesu

“Pertumbuhan ritel berada pada puncaknya di 2012 -2013, dan kemudian melandai di 2014-2015, 2016 dan kini di 2017, kondisi ritel seperti di titik nadir,” ujarnya di Jakarta, Rabu (13/9).

Sebab, pada tahun-tahun berjaya itu, ritel pertumbuhan ritel sebesar 3-3,5 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi. Asumsinya, bila pertumbuhan ekonomi 4,8% atau 5,1%, pertumbuhan ritel modern ada di 3,3,5 kali lipat. Namun 2017, kata Roy, terjadi anomali.

Ini terlihat, pada kuartal I 2016, pertumbuhan ritel di 11,3%, namun anjlok di kuartal I 2017 menjadi 3,9%. Pada kuartal II 2016 pertumbuhan ritel sebesar 9,2%, namun anjlok kembali terjadi di kuartal II 2017, menjadi 3,7%. Padahal pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 berada di 5,01%.

Perbandingan pertumbuhan antara volume dan value ritel di bulan konsumsi tertinggi yaitu, di Juni 2016 berada di 13,1%, sedangkan di Juni 2017 hanya 9,5%. Bulan lain, seperti Februari 2017 menunjukkan penenggelaman pertumbuhan dari 11,7% di 2016 menjadi 1,1% di 2017.

“Industri ritel jadi lagi ngos-ngosan berjuang untuk tetap hidup. Mudah-mudahan di akhir 2017 bisa sama seperti tahun kemarin, yaitu 8%-9%. Tahun lalu pertumbuhan ritel masih di 9%. Meski dalam pandangan dalam pandangan kami, mungkin tidak sama degan tahun lalu karena semester I 2017 saja baru 3,7%,” tuturnya.

Rasa optimistis tetap bertumbuh meski melambat, lanjut dia, didasarkan oleh kebijakan pemerintah menahan harga energi sampai akhir tahun agar tidak terjadi volatilitas. Melalui hal itu diharapkan ada kesempatan masyarakat melakukan konsumsi.

Kedua, suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate yang turun sebanyak 0,25 poin, dalam tiga-empat bulan akan berdampak pada eskalasi bunga pinjaman. Dengan demikian, bunga kredit akan turun dan bisa memindahkan beban bunga kredit KPR/KPM ke konsumsi.

Kemudian adanya kebijakan percepatan berusaha, yang mengawal investasi yang akan masuk dan dana-dana yang harus beredar di daerah. Hal itu diharapkan membuat pembelanjaan di daerah bisa maksimal dan menggerakkan produktivitas masyarakat, dan berpengaruh kepada konsumsi.

Namun pertumbuhan ritel yang rendah, juga diprediksi Aprindo karena ada percepatan bonus demografi yang seharusnya baru di 2020. Usia produktif yang jumlahnya lebih besar tidak disertai dengan pekerjaan formal yang mereka miliki, sehingga pendapatan yang tidak tetap mempengaruhi pola konsumsi.

Kemudian berbagai kemudahan mendapatkan barang langsung via paypal, AliPay, AmazonePay seringkali menyebabkan undetection online/e-commerce transaction, yang bisa saja masuk tanpa pajak. Kemudahan ini yang mengubah pola belanja.

Sebaliknya konsumen kelas mapan menangguhkan berbelanja mereka karena melihat situasi belum sangat kondusif. Belanja juga terjadi di pergeseran gaya hidup, yang lebih mengincar leisure dan traveling.

“Selain itu, time deposit atau deposit berjangka juga tercatat naik di atas DPK tabungan,” tukas Roy. (OL-6)

Komentar