Ekonomi

Industri Ritel Diharapkan Tumbuh 9%

Kamis, 14 September 2017 01:46 WIB Penulis: (Try/E-3)

ANTARA FOTO/R. Rekotomo

KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey berharap pertumbuhan ritel yang cenderung melambat belakangan ini tetap dapat tumbuh sama dengan seperti tahun lalu.

"Industri ritel lagi berjuang untuk tetap hidup dan bertahan. Mudah-mudahan pada akhir 2017, (pertumbuhan) sama seperti tahun kemarin, yaitu sekitar 8%-9%. Tahun lalu pertumbuhan ritel masih berada di kisaran 9%," ungkap Roy kepada Media Indonesia, di Jakarta, Rabu (13/9).

Dia menjelaskan pertumbuhan ritel sebelumnya berada pada puncak kejayaan pada 2012-2013, dan kemudian melandai pada 2014-2015, 2016, dan kini pada 2017 kondisi ritel seperti berada di titik nadir. Menurut dia, pada tahun-tahun berjaya itu, pertumbuhan ritel bisa mencapai 3-3,5 kali lipat daripada pertumbuhan ekonomi. Namun, pada tahun ini, justru terjadi anomali.

Ini terlihat, pada kuartal pertama 2016, pertumbuhan ritel berada di 11,3%, tetapi anjlok pada kuartal pertama 2017 menjadi 3,9%. Di kuartal kedua 2016 pertumbuhan ritel mencapai sebesar 9,2%, tapi di kuartal II 2017 anjlok menjadi 3,7% di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 yang berada pada angka 5,01%. Kemudian perbandingan pertumbuhan antara volume dan value ritel di bulan konsumsi tertinggi, yaitu pada Juni 2016 ada di 13,1%, tapi pada Juni 2017 hanya 9,5%.

"Bulan lain, seperti Februari 2017 pun menunjukkan penenggelaman pertumbuhan dari 11,7% di 2016 menjadi 1,1% di 2017," kata dia. Namun, ia tetap optimistis meski melambat, pertumbuhan ritel bisa sama dengan tahun lalu. Itu didasarkan pada kebijakan pemerintah yang menahan harga energi sampai akhir tahun sehingga tidak terjadi volatilitas.

"Sehingga ada kesempatan masyarakat dalam melakukan konsumsi," ujarnya. Pada kesempatan itu, Roy juga meminta pemerintah untuk memberikan keringanan beban tarif listrik pada ritel terutama pada peak hour, atau saat waktu tarif listrik tertinggi. "Usulan ini sebagai upaya kami untuk melakukan efisiensi di tengah lesunya kinerja pertumbuhan ritel. Apalagi, selama ini energi listrik memakan beban yang cukup besar, yakni sebesar 30%-35% dari total beban sebuah ritel," kata Roy.

Komentar