Polkam dan HAM

Ulama Minta Presiden Perkuat Komunikasi dengan Pesantren

Rabu, 13 September 2017 22:30 WIB Penulis: Rudy Polycarpus

Pengasuh Pondok Pesatren Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori. Foto ist

PARA ulama dan pengurus pondok pesantren asal Jawa Tengah menyambut baik pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/9).

Menurut pengasuh Pondok Pesatren Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori, ulama banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat rumput. Dengan pertemuan itu, Presiden bisa mendengarkan langsung informasi-informasi serta dinamika yang berkembang di daerah.

"Karena yang datang ini rata-rata kiai-kiai yang setiap hari bergumul dengan masyarakat, bergumul dengan ribuan santri. Setiap hari selalu mendengar aduan-aduan dari masyarakat," ujarnya seusai pertemuan yang dihadiri 40 ulama dan pengasuh ponpes.

Misalnya, sambung dia, wacana kebijakan lima hari sekolah yang diusulkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jika sejak awal pemerintah mendengarkan keresahan masyarakat, kebijakan tersebut tidak akan menimbulkan polemik pada akar rumput.

"Setiap kebijakan bisa dikomunikasikan dulu agar tidak menjadi blunder. Itu yang kita harapkan," ujar pria yang akrab disapa Gus Yusuf itu.

Dalam pertemuan itu, para ulama menyatakan dukungannya terhadap upaya-upaya diplomasi dan bantuan kemanusiaan yang disalurkan pemerintah terhadap pengungsi Rohingya di Myanmar. Para ulama, kata Gus Yusuf, menyadari isu Rohingya berpotensi digiring masuk ke dalam politik dalam negeri.

"Kyai-kyai sudah melihat hal itu. Tadi juga secara spesifik tentang isu komunisme masih terus digoreng. Kita enggak ingin ada blunder-blunder seperti itu yang itu menjadikan nanti menjadi bahan untuk amunisi gratis oleh pihak-pihak yang menggoreng," tandasnya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Jokowi diminta lebih aktif memperkuat silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama dalam setiap kunjungan kerja Presiden ke daerah. Pasalnya,

"Busukan yang lebih spesifik. Ke pesantren, ke masjid, ke komunitas-komunitas keagamaan. Tidak ke pasar-pasar saja, agar bisa melihat dinamika keagamaan di bawah," saran dia.

Pengasuh Ponpes Miftahul Huda, Cilacap, Suada berharap pemerintah menggandeng ulama mengulurkan bantuan kepada pengungsi Rohingya. Selain bisa menambah jumlah bantuan, ulama juga bisa berperan menjadi jembatan komunikasi dengan masyarakat terkait peran yang sudah dilakukan pemerintah kepada pengungsi Rohingya.

"Tapi dikoordinir oleh pemerintah supaya tidak kesusupan yang agak radikal-radikal itu. Presiden menyambut positif usul itu," cetus Suada. (X-12)

Komentar