Megapolitan

Penderita Kusta di Bekasi masih Tinggi

Kamis, 14 September 2017 08:10 WIB Penulis:

Dok. MI

DINAS Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat, menemukan masih tingginya angka penderita penyakit kusta di kota itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Sukrawati memaparkan, sedikitnya ada 124 penderita kusta sepanjang 2016, dengan penyebaran terbanyak di Kelurahan Jatibening, Pondok Gede.

"Ada penurunan daripada tahun 2015 yang mencapai 175 kasus setelah pemerintah gencar melakukan pengobatan kusta gratis ke masyarakat. Untuk tahun ini belum kami rinci, tetapi sudah mulai menurun jumlahnya," ujar Dezi saat meninjau pengobatan gratis di Jalan Cemerlang, RT 006/RW 02, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Bekasi, kemarin.

Dalam catatannya, dari 124 kasus yang masih terjadi di Kota Bekasi, penderita kusta basah (multi basiler) berjumlah 100 kasus, kusta kering (pause basiler) mencapai 20 kasus, dan terakhir penemuan kasus baru kusta sebesar 4 kasus (new case detection rate).

Dari jumlah tersebut, wilayah Jatibening yang paling tinggi penyebarannya.

Karena itu, pemerintah menetapkan wilayah di sana sebagai daerah yang mendapat perhatian penuh dalam penanganan penyakit kusta.

"Sampai sekarang, pemerintah terus mengawasi pasien-pasien yang sedang menjalani pengobatan. Mereka harus disiplin minum obat yang disediakan selama 12 bulan. Kami ingin membebaskan wilayah tersebut dari penyakit kusta," ujar Dezi.

Meski kusta masuk kategori penyakit menular, Dezi memastikan penularannya kepada orang lain tidaklah mudah.

Karena itu, para penderitanya tidak perlu dikarantina.

Mereka bisa tetap berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan beraktivitas seperti biasa.

Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat agar tidak mengucilkan para penderita kusta.

Adapun bagi penderita, kata dia, sebaiknya segera melapor ke petugas agar penyakitnya segera tertangani dan tidak menyebar ke jaringan kulit yang lain.

"Ada pasien yang sampai saat ini tetap bekerja kantoran sambil menjalani pengobatan meski hal ini tidak mudah," ucap Dezi.

Penanganan cepat

Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Jatibening, Zulkifly Sanusi, mengatakan dalam satu tahun tercatat ada sekitar 20 kasus kusta terjadi di wilayahnya.

Jumlah itu lebih besar daripada wilayah lain di Kota Bekasi.

"Dari grafik, Jatibening memang penyumbang penyakit kusta terbesar," ujarnya.

Penyakit tersebut, kata Zulkifly, butuh penanganan cepat.

Penderita harus segera memeriksakan penyakitnya bila timbul ciri-ciri penyakit kusta, yakni memiliki bercak merah di permukaan kulit dan kulit mengalami mati rasa.

Jika penanganannya telat, akan berdampak pada kecacatan fisik permanen bahkan bisa meninggal dunia.

"Penyebab penyakit kusta itu dari bakteri mycobacterium leprae yang menyerang jaringan tepi kulit. Kalau didiamkan, bisa cacat," kata dia.

Proses penyebarannya, jelas Zul-kifly, melalui kontak langsung secara terus-menerus selama dua tahun hingga lima tahun.

Meskipun bisa berdampak pada kematian, dia mengimbau masyarakat tidak perlu risau.

Penyebaran bakteri itu bisa dicegah jika masyarakat menjaga lingkungan permukiman mereka. (Gan/J-1)

Komentar