Ekonomi

Tekan Biaya Operasional Bank Jateng Raih Penghargaan

Kamis, 14 September 2017 08:40 WIB Penulis:

Ist

PENGHARGAAN Indonesia Banking Award pada kategori the most efficient bank dan the most reliable bank.

Direktur Operasional dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng Hanawijaya mengatakan penghargaan diperoleh lantaran mereka berhasil menekan biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dengan efisien.

Pada Agustus 2017, BOPO Bank Jateng tercatat 71,63% atau lebih rendah ketimbang periode sama 2016 sebesar 76,24%.

Dari sisi aset, Bank Jateng juga tumbuh signifikan. Per Agustus 2017, aset mereka tercatat Rp62,12 triliun atau naik dari periode sama pada 2016 sebesar Rp54,19 triliun.

"BOPO kami termasuk lumayan baik pada peer-nya di kalangan industri. Kami juga memiliki return on equity yang cukup baik," ujarnya kepada Media Indonesia di sela-sela acara pemberian penghargaan di Jakarta, tadi malam.

Penghargaan, kata Hana, juga hasil dari upaya re-engineering process, yaitu mengurangi peranan sumber daya manusia dengan teknologi sebagai perantara bertransaksi.

Kemudian, mengubah cabang fisik dengan branchless yang memberdayakan Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des), dengan dananya diambil dari APBN sekitar Rp750 juta-Rp1 miliar per desa.

"Ini salah satu untuk menekan biaya operasional kami. Kami mengambil segmen mereka yang belum tersentuh bank di desa-desa memakai BUM-Des," ungkapnya.

Selain prestasi itu, Hanawijaya menyampaikan pertumbuhan Bank Jateng menunjukkan hasil yang memuaskan. Per Agustus 2017, pertumbuhan kredit di angka 16%-17% (yoy) jika dibandingkan dengan Agustus tahun lalu.

Selanjutnya, dalam funding memang baru tumbuh 13%-14% per Agustus.

Namun, itu merupakan bagian dari strategi mereka mengingat loan to deposit ratio (LDR) bank masih di angka 78%.

Pada kesempatan itu, Hanawijaya menambahkan Bank Jateng juga melakukan bilateral loan dengan bank-bank besar untuk menjaga dana pihak ketiga sampai akhir tahun.

Tahun lalu Bank Jateng mendapatkan pinjaman dari BCA sebesar Rp1 triliun dan BNI Rp300 miliar.

"Tahun ini, kami mendapatkan dari Bank Mandiri sebesar Rp1 triliun. Itu payung-payung kami agar ketika dana yang keluar pada Desember, DPK (dana pihak ketiga) kami masih tetap terjaga," tutup Hana. (Try/E-3)

Komentar