Internasional

Dari Ratu Bolos Jadi Presiden Singapura

Kamis, 14 September 2017 08:20 WIB Penulis:

"ANDA melakukannya dengan sangat baik, nona muda. Meskipun Anda memiliki banyak kemunduran, hidup itu benar-benar keras dan sulit, tapi Anda berhasil melakukannya. Itu tidak terlalu buruk!"

Kalimat itu ialah kalimat yang akan dikatakan Halimah Yacob, 63, jika bisa bertemu dengan dirinya yang masih duduk di sekolah menengah.

Tidak terlalu buruk bagi seorang yang dulu menyebut dirinya sebagai 'Ratu Bolos' untuk kemudian menjadi anggota parlemen, pemimpin buruh, ketua parlemen Singapura, dan kini presiden.

Halimah mengisahkan pengalamannya ketika duduk di bangku sekolah.

Dia mengaku hampir saja dikeluarkan dari Singapore Chinese Girls School karena terlalu sering bolos.

Halimah mengaku terlalu banyak tidak hadir di kelas karena harus membantu ibunya di kios makan keluarga sebab ayahnya meninggal saat dia baru berusia 8 tahun.

"Saya membolos untuk waktu yang lama sehingga dipanggil ke ruang kepala sekolah. Kepala sekolah mengatakan kepada saya, "Nak, jika kamu terus tidak masuk sekolah, saya terpaksa mengeluarkan kamu." Itu peringatan keras bagi saya," kenang Halimah.

Ibu lima anak itu mengakui hal itu ialah salah satu momen terburuk dalam hidupnya.

Namun, ia berkata pada diri sendiri, 'Berhentilah terjebak mengasihani diri sendiri. Angkat dirimu dan terus maju!'

Pemikiran itu menjadi moto bagi Halimah, yang mengatakan bahwa dia telah mengalami banyak 'sandungan di jalan' dan 'kegagalan dalam hidup' lainnya.

Tidak pernah ia berharap untuk memasuki politik pada 2001, apalagi menjadi presiden.

"Keinginan saya saat itu sangat sederhana. Biarkan saya menyelesaikan sekolah dan mendapatkan pekerjaan agar saya bisa menghidupi diriku sendiri dan ibuku," ungkap istri Mohammed Abdullah Alhabshee itu.

"Kesulitan tidak seharusnya menjadi pencegah. Saya pikir, jika hidup saya jauh lebih mudah, saya tidak akan berada di tempat saya berada. Namun, karena hidup saya sangat berat, saya belajar banyak hal sehingga saya bisa bertahan hidup," imbuhnya.

Meskipun dia tidak bisa memastikan dengan tepat kapan dia mulai berpikir untuk mencalonkan diri sebagai presiden, Halimah mengatakan bahwa banyak orang mendorongnya untuk mempertimbangkan untuk mengambil jabatan tersebut.

Namun, memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Negara Singapura itu tidak mudah.

Selain mempertimbangkan tanggung jawabnya sebagai ketua parlemen, ibu lima anak tersebut mengatakan bahwa dia juga harus memikirkan keluarganya.

"Saya berbicara dengan suami saya terlebih dahulu karena saya benar-benar harus mendapatkan pemahaman dan pengertiannya, yang merupakan bagian terpenting keluarga. Jadi, setelah beberapa diskusi, dia bilang dia akan mendukung saya," tuturnya.

Setelah meminta izin dari suami tercintanya, ia lalu bertanya pada anak-anaknya dan berbicara dengan mereka.

Mereka berkata, "Apakah ibu yakin ingin melakukannya? Apa ibu benar-benar yakin?"

"Pada awalnya anak-anak memiliki keraguan. Jadi, kami membicarakannya. Mereka memikirkannya dan sampai pada titik di mana mereka berkata, 'Kami tahu di mana hati ibu berada, kami tahu bahwa ibu ingin melayani dan kami akan mendukung dan mendoakan ibu'," kenang Halimah, sambil menambahkan bahwa dia bersyukur atas dukungan penuh anak-anaknya.

Ketika ditanya apa alasan utamanya untuk mengikuti pemilihan yang akan datang, tanpa ragu, Halimah menjawab, "Saya ingin melayani masyarakat Singapura. Itulah satu-satunya tujuan saya dan tidak ada yang lain."

Halimah Yacob sekarang menjadi presiden terpilih di Singapura, setelah menerima surat untuk pemilihan presiden pada Rabu (13/9) dan akan dilantik pada Kamis (14/9). (Channel News Asia/The Straits Times/Arv/I-2)

Komentar