Polkam dan HAM

Duit Suap Batubara Dikumpulkan di Pihak Ketiga

Kamis, 14 September 2017 21:14 WIB Penulis: Christian Dior Simbolon

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan lima orang tersangka dalam kasus suap pengerjaan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Batubara tahun 2017.

Selain Bupati Batubara OK Arya Zulkarnain dan Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Helman Herdady, pemilik dealer mobil Sujendi Tarsono (STR) dan dua orang kontraktor, Maringan Situmorang (MAS) dan Syaiful Azhar (SAZ), dikenakan rompi kuning oleh KPK.

Menurut Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, ada tiga proyek yang diatur tendernya oleh OK Arya sehingga bisa dimenangkan kontraktor tertentu. Total nilai proyek mencapai Rp44 miliar. Dari ketiga proyek tersebut, OK Arya menerima suap sebesar Rp4,4 miliar.

"Suap Rp4,4 miliar berarti 10 persennya dari total nilai proyek. Ini fee yang diterima OK Arya sebagai bupati," ujar Basaria dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (14/9).

Dari penyidikan, diketahui Maringan Situmorang menjanjikan suap sebesar Rp4 miliar untuk dua proyek, yakni pembangunan Jembatan Sentang senilai Rp32 miliar yang dimenangkan PT Gunung Mega Jaya dan Jembatan Sei Magung senilai Rp12 miliar yang dimenangkan PT Tombang.

Arya juga dijanjikan fee dari proyek betonisasi jalan Kecamatan Talawi senilai Rp3,2 miliar. Dari proyek ini, Arya mendapat jatah sekitar Rp400 juta dari Syaiful Azhar. "Jadi fee yang Rp400 juta itu tidak sama dengan MAS. Ada dua orang yang berbeda di tiga proyek tersebut," jelas Basaria.

Basaria mengatakan, OK Arya menerima uang suap tidak secara langsung dari para kontraktor. Duit suap itu dikumpulkan Sujendi alias Ayen sebelum berpindah tangan ke OK Arya. "Ketika OK butuh, dia telpon STR (Sujendi) nanti diberikan. Itu pada OTT 13 September modusnya begitu. Jadi dia tidak pegang uangnya sendiri. Yang megang STR," jelas Basaria.

Diketahui, OK Arya baru menerima Rp96 juta dari total duit suap. Sehari sebelum ditangkap, OK Arya memerintahkan Ayen untuk menyerahkan uang sebesar Rp250 juta kepada seorang pengusaha bernama Khairil Anwar. Saat uang telah diserahkan, Khairil bersama Ayen langsung dicokok tim KPK. Selang beberapa jam kemudian, tim KPK menangkap OK Arya di rumah dinasnya di Kabupaten Batubara.

Ketiga proyek tersebut dimenangkan para penyuap via lelang online yang digelar Dinas PUPR Batubara. Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, kasus suap tersebut menunjukkan masih ada celah yang bisa digunakan para pejabat korup dalam sistem e-procurement.

"Dokumen lelang itu di-upload pada saat yang sama. Seolah peserta sama. Itu diatur. Akan dipermudah korupsi itu terjadi jika ada kesepakatan dengan orang dalam. Apa lagi kalau ada fee dengan kepala daerah. Sistem sebagus apapun, percuma kalau orangnya tak berintegritas," ujarnya. (X-12)

Komentar